Gea and Andra, My Future Leaders

Oleh Rita Nurlita 23 Sep 2013

Menjadi ibu dari dua orang putri, Gea (6 thn) dan Andra (2 thn), merupakan sebuah pengalaman yang sangat istimewa bagiku. Bagaimana tidak? Setiap hari, selalu ada saja celoteh dan tingkah mereka yang bisa membuatku tertawa, bahagia, sedih, kesal, bahkan putus asa. Tapi, terlepas dari semua itu, aku merasa sangat bersyukur karena telah diamanahi dua bidadari kecil yang sehat, cerdas, dan lucu. 

Dan sebagai bentuk dari rasa syukurku, aku telah berjanji akan memberikan semua yang terbaik untuk mereka dengan cara memberikan nutrisi yang sehat dan bergizi untuk membantu perkembangan otaknya. Selain itu, aku juga memberikan stimulasi melalui bacaan, CD Interaktif, dan mainan edukatif yang disesuaikan dengan usia mereka. Dan untuk memperkenalkan nilai moral dasar, biasanya aku membacakan dongeng dan bercerita setiap malam sebelum mereka tidur.

Gea dan Andra

Aku menyadari, sebagai seorang ibu, kita tentunya memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Karena ibu merupakan guru pertama dan madrasah ilmu bagi putra-putrinya. Apalagi di zaman modern seperti sekarang ini, peran ibu menjadi lebih kompleks lagi. Karena pola asuh kita di rumah harus bersaing dengan pengaruh internet, game online, dan televisi yang bisa diakses dengan sangat mudah oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Bila kita tidak bisa mendekatkan diri secara emosi dengan anak-anak, apalagi tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi, pengaruh kita tentunya bisa dikalahkan oleh media-media tersebut. Padahal sebagaimana kita ketahui, sebagian besar dari konten televisi, internet, dan game online ini sangat tidak mendidik dan penuh dengan muatan kekerasan, mistik, dan pornografi. Sehingga dikhawatirkan bisa menggeser nilai-nilai moral yang berbahaya bagi perkembangan psikologi dan emosi anak. 

Anak

Menghadapi fenomena seperti ini, aku dan suami tentunya tidak bisa secara saklek menghindarkan kedua putri kami dari internet dan televisi. Karena sebagai generasi Digital Native, dimana saat mereka lahir semuanya sudah serba digital dan terkomputerisasi, Gea dan Andra juga harus menjadi anak yang melek teknologi. Karena itu, kami harus mempersiapkan dan mendidik mereka sesuai dengan zamannya. Sebagaimana dikatakan oleh Umar Bin Khatab, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka akan hidup di zaman yang berbeda dengan dirimu”. Jadi kami tetap memperkenalkan gadget dan memperbolehkan mereka menonton televisi, hanya kami tetap mendampingi, memilihkan program yang sesuai dengan usia mereka, dan waktunya juga dibatasi. 

Teteh

Dalam mendidik anak di rumah, aku dan suami sepakat bahwa kami akan mengutamakan pendidikan agama dan karakter sebagai bekal mereka dalam menjalani kehidupannya di masa mendatang. Karena dengan memiliki karakter yang baik, mereka kelak tidak hanya akan tumbuh menjadi anak yang cerdas, tapi juga akan memiliki rasa peduli terhadap lingkungan dan sesama, empati, jujur, bahagia, bertanggung jawab, dan bisa menemukan dirinya sendiri. Oleh karena itu, dalam keseharian kami selalu berusaha untuk berperilaku baik, santun, dan saling menyayangi, supaya bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anak. Dan kami bersyukur sekali, kini Gea tumbuh menjadi anak yang santun dan sangat perhatian pada orang tua dan adiknya.

Rasanya masih lekat di ingatanku kejadian satu tahun yang lalu. Saat itu aku sedang terbaring sakit di rumah. Melihat bundanya sedang istirahat, tanpa disuruh Gea langsung mengajak Andra bermain, bercanda, dan membacakan cerita untuknya. Meskipun saat itu Gea belum bisa membaca, tapi Gea terdengar ekspresif membacakan cerita sambil memainkan boneka di tangannya. Mungkin karena sejak kecil kami selalu membacakan cerita sebelum dia tidur, jadi dia ingat alur ceritanya. Tidak hanya itu, Gea juga membantu mengambilkan popok saat adiknya buang air kecil, walaupun Gea belum bisa memakaikannya sendiri. Dan saat aku bangun tidur di pagi hari, Gea mengambilkan air minum sambil berkata, “Bunda, minum ya supaya Bunda cepat sehat.”. Setiap kali mengenang momen manis itu, rasa bahagia dan haru selalu memenuhi dadaku. Menyenangkan sekali.

Semoga

Dalam lingkungan pergaulan, kami juga berusaha untuk terus membantu anak-anak supaya mereka bisa menjadi anak yang supel, menyenangkan, dan mampu bekerja sama dengan siapapun. Karena kami menyadari, kelak dalam kehidupan nyata, mereka tidak mungkin bisa bekerja sendirian, tetapi harus mampu bekerja sama dengan orang lain. Kebetulan saat ini tetangga kami sangat majemuk, semuanya memiliki latar belakang budaya dan agama yang berbeda-beda, sehingga Ghea dan Andra sudah belajar sikap empati dan toleransi sejak usia dini. 

Untuk menanamkan nilai agama, sejak Gea berusia 2 tahun, kami sudah mengajaknya untuk mengikuti shalat lima waktu. Di usia sekecil itu, tentu saja Gea belum bisa mengikuti gerakan shalat secara sempurna. Bahkan seringkali Gea hanya tiduran saja di atas sajadah kecilnya, atau naik ke atas punggung saat ayahnya sedang sujud. Tapi tidak mengapa, yang penting Gea sudah terbiasa untuk menunaikan shalat lima waktu hingga sekarang. Selain shalat, kami juga mengajari Gea dan Andra mengaji, menceritakan kisah para nabi melalui bacaan dari buku cerita anak-anak, serta memberi pemahaman tentang kandungan Al Qur’an dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Kami berharap bisa mengajarkan nilai-nilai moral supaya kelak mereka bisa menjadi pemimpin yang adil, pemberani, sabar, ikhlas, penyayang, dan penuh syukur.  

Gea dan Ayah sedang shalat berjama’ah

Saat mencari sekolah untuk Gea, kami juga sengaja tidak memilih sekolah-sekolah unggulan yang hanya berfokus pada pengembangan siswa-siswa yang pintar secara akademis saja. Kami lebih memilih untuk menyekolahkan Gea di sekolah Islam fitrah yang memiliki konsep pengembangan karakter dalam mendidik anak. Karena sesuai fitrahnya, anak-anak sudah terlahir sebagai manusia yang penuh percaya diri, toleransi, empati, semangat yang pantang menyerah, dan petualang yang mencintai alam. Kami percaya bahwa semua anak adalah bintang. Mereka terlahir ke dunia dengan bakat yang berbeda, dan masing-masing memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Karena itu, kami tidak ingin memenjarakan jiwa mereka dengan memaksanya untuk mengikuti keinginan-keinginan kami, atau mengharuskan mereka untuk menjadi seperti kami.

Gea di sekolah TK: Mandiri dan Pemberani

Dan, rasanya bahagia sekali saat aku bisa melihat Gea dan Andra kini tumbuh menjadi anak yang lebih pemberani, kritis, dan bahagia menjalani hari-hari. Hatiku tergetar haru saat Gea yang dulunya pemalu, kini sudah mulai berani tampil membawakan tarian Pileuleuyan di panggung Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Tidak hanya itu, saat ada acara lomba menyusun rubik di Arena Bobo Fair misalnya, dengan penuh semangat Gea unjuk tangan dan naik ke atas panggung untuk mendaftar jadi salah satu peserta. Dan saat ada sesi pembagian door prize di panggung utama, Gea juga langsung berlari ke depan panggung, dan langsung mengangkat tangan setiap kali MC-nya memberikan pertanyaan. Meskipun tidak mendapatkan hadiah karena jawabannya selalu salah, tapi aku tetap memberikan apresiasi padanya. Karena bagiku, yang terpenting dari semua hal adalah prosesnya, bukan hasilnya.

Gea

Saat ini, perjalanan Gea dan Andra masih sangat panjang, dan kami tidak bisa meramalkan apa yang akan mereka hadapi di masa mendatang. Meskipun begitu, kami tetap berusaha dan terus belajar untuk menjadi orang tua yang terbaik bagi mereka. Walaupun tidak bisa mendampingi mereka setiap detik, tapi dengan memberikan nutrisi yang sehat dan pola asuh yang tepat, kami berharap kelak mereka bisa tampil menjadi generasi-genarasi bangsa yang cerdas, ta’at, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sesuai dengan bakat dan keahlian mereka masing-masing. Karena seperti kita ketahui, anak-anak merupakan generasi muda harapan masa depan. Mereka yang akan menjadi calon pemimpin Indonesia di masa mendatang, dan di tangan-tangan merekalah ‘wajah’ bangsa ini kelak akan ditentukan.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam #LombaBlogNUB