Ibu : Sekolah Pertama Bagi Calon Pemimpin Kecil

Oleh ulit 20 Oct 2013

 
 
Setiap orang pasti ingin anaknya menjadi seorang pemimpin. Jika bukan sebagai pemimpin bagi orang lain, setidaknya dapat menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Lantas bagaimana peran ibu dalam membentuk buah hatinya menjadi calon pemimpin?
 
 
 
Apa Itu Pemimpin?
Sebelum kita melangkah lebih jauh mengenai cara-cara untuk membentuk si kecil menjadi calon pemimpin, ada baiknya kalau kita melakukan kajian ilmiah mengenai definisi dari “pemimpin” itu sendiri.
Menurut Kartini Kartono (1994), pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. 
 
 
 

Stogdill dan Lee (1989) menyatakan bahwa pemimpin harus memiliki beberapa kelebihan yaitu:

1. Kapasitas : kecerdasan, kewaspadaan, kemampuan berbicara atau verbal facility, keaslian, dan kemampuan menilai

2. Prestasi : gelar kesarjanaan, ilmu pengetahuan, perolehan dalam olahraga dan atletik, dan sebagainya

3. Tanggung jawab : mandiri, berinisiatif, tekun, ulet, percaya diri, agresif, dan punya hasrat untuk unggul

4. Partisipasi : aktif, memiliki sosiabilitas tinggi, mampu bergaul, kooperatif atau suka bekerja sama, mudah menyesuaikan diri, dan punya rasa humor

5. Status : meliputi kedudukan sosial-ekonomi yang cukup tinggi, populer, dan tenar

   
 
Merujuk pada kajian ilmiah tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemimpin adalah seseorang yang memiliki kompetensi tinggi dan mampu mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama demi mencapai tujuan bersama. Kompetensi yang dimaksud meliputi kapasitas diri, prestasi, tanggung jawab, partisipasi, dan status.
 
 
Peran Ibu Dalam Membentuk Jiwa Kepemimpinan Si Kecil
 
 
Ibu mempunyai peran yang sangat signifikan dalam membentuk jiwa kepemimpinan si kecil karena ibu adalah orang pertama yang mengajarkan segala hal pada anaknya. Ibaratnya, ibu adalah “sekolah pertama” anak sebelum ia menempuh pendidikan formal di luar sana.
Untuk bisa menjadi guru yang baik bagi si kecil, hendaknya ibu membekali diri dengan pengetahuan yang cukup mengenai cara mengasuh anak. Tidak harus dengan memiliki gelar akademis tertentu, namun harus bisa menyesuaikan diri dengan arus modernisasi. Caranya bisa dengan membaca teori-teori psikologi terbaru mengenai cara mengasuh anak yang baik atau berkonsultasi dengan para ahli. Pola pengasuhan orangtua kita hendaknya ditinjau kembali karena kadang tidak relevan dengan zaman sekarang. Akan tetapi perubahan zaman hendaknya tidak mengubah nilai-nilai luhur yang sudah mendarah-daging dalam adat ketimuran kita.
Setelah ibu merasa siap untuk menjadi guru bagi buah hatinya, berikut beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan bagi yang berencana untuk membentuk jiwa kepemimpinan pada anaknya :
 
 
Langkah Pertama : Ada Buat Si Kecil
Membentuk jiwa kepemimpinan si kecil merupakan tugas berat yang tidak bisa dilimpahkan pada suster atau pengasuh. Sebagaimana kita tahu, sebagian besar suster atau pengasuh tidak memiliki pendidikan yang cukup, lalu bagaimana mereka bisa diharapkan untuk membentuk buah hati kita menjadi seorang pemimpin?
Satu-satunya cara adalah selalu ada di samping si kecil untuk membentuk sendiri jiwa kepemimpinan si kecil. Itu artinya ibu hendaknya rela mengesampingkan kepentingan dirinya untuk mengasuh si buah hati.
 
“Tapi saya memiliki gelar akademis, sayang jika tidak digunakan untuk bekerja!” mungkin itu adalah alasan bagi ibu-ibu modern yang berhasrat untuk menunjukkan eksistensinya di masyarakat sekaligus memperoleh kemandirian secara finansial. Namun jangan dilupakan bahwa tinggal di rumah bukan berarti tidak bisa mencari uang. Justru pendidikan tinggi yang didapatkan ibu hendaknya dimanfaatkan untuk mencari peluang bisnis yang bisa dikerjakan di rumah. 
Di zaman digital seperti ini, hal itu tidak mustahil dilakukan. Ibu bisa mengasuh anak sambil bekerja full-time di rumah sebagai pengusaha, pemilik toko (baik online maupun yang berlokasi di rumah sendiri seperti toko kelontong), penerjemah, penulis, kontributor media, dan lain-lain. Dengan bekerja di rumah, bukan hanya ibu bisa mengatur waktu dengan lebih fleksibel tapi juga bisa menghasilkan anak-anak dengan kualitas mental dan fisik yang baik serta berjiwa pemimpin.
 
 
Langkah Kedua : Perkenalkan Si Kecil Dengan Nilai Moral & Agama
 
 
Sangat banyak orang yang arah hidupnya tidak jelas karena kebingungan mengikuti arus zaman yang semakin menggila. Karena tidak punya pegangan hidup yang kuat, banyak orang yang mencontoh kehidupan orang lain atau menjadi followers. Seorang pemimpin tidak boleh kehilangan jati diri, kalau perlu harus menjadi panutan bagi orang lain. Untuk membentengi anak dari hal-hal tidak baik, diperlukan semacam filter untuk menyaring mana yang boleh masuk ke dalam kehidupan anak dan mana yang tidak.
Nilai moral dan agama adalah filter yang paling ideal untuk mencegah segala pengaruh buruk yang bisa menjerumuskan anak ke dalam jurang kenistaan. Karena itu, ajarkan nilai-nilai moral dan agama pada anak sejak kecil dan terus-menerus diulangi agar nilai-nilai itu tertanam dengan kuat pada benak anak. Harapannya, sampai dewasa kelak, nilai-nilai tersebut tidak mudah tergantikan oleh nilai-nilai baru yang mungkin tidak baik untuk kehidupan anak.
 
Langkah Ketiga : Bentuk Kompetensi Anak Sejak Dini
 
 
Salah satu cara untuk membentuk anak menjadi calon pemimpin adalah memiliki kompetensi yang memadai. Untuk membentuk kompetensi pada diri anak, ibu hendaknya peka pada bakat dan kemampuan anak lalu mengasahnya agar menjadi semakin baik. Caranya bisa dengan mengajarkan lebih banyak mengenai bidang tersebut pada anak (jika ibu mampu) atau mengikutkannya ke dalam kegiatan yang bisa membantunya mengembangkan bakatnya seperti kursus, les, atau sanggar. Jangan paksa anak untuk mengikuti obsesi ibu terhadap suatu bidang karena selain hasilnya tidak maksimal, anak juga bisa tertekan dan hubungan anak-ibu akan memburuk. Biarkan anak berkreasi selama masih dalam batas wajar karena ini akan membantunya berkembang menjadi calon pemimpin yang baik.
 
 
Langkah Keempat : Dorong Anak Untuk Berkompetisi
 
Salah satu hal yang menjadikan anak sebagai pemimpin adalah prestasi, karena itu dorong anak untuk berkompetisi dengan lingkungannya di bidang yang dia kuasai, seperti mengikuti lomba atau meraih peringkat di sekolah. Jangan menyindir, mengejek, atau marah pada anak jika ia tidak menang dalam suatu kompetisi karena itu akan membuatnya terpukul dan tidak mau berkompetisi lagi. Semangati dia dengan kata-kata motivasi dan penghiburan agar bisa lebih baik lagi di kompetisi yang akan datang. Dengan demikian, anak akan semakin terpacu untuk maju.
 
 

Langkah Kelima : Biasakan Anak Bertanggungjawab Terhadap Tindakannya

 
 
Seorang pemimpin memiliki tanggung jawab yang tidak sedikit, karenanya ia bukanlah seorang pengecut yang kabur dari tanggungjawabnya. Untuk menghindarkan anak dari jiwa pengecut, ajarkan anak untuk selalu bertanggungjawab terhadap setiap tindakan yang dilakukannya. Hukuman bisa diterapkan tapi hendaknya tidak mengedepankan kekerasan dan sebisa mungkin bersifat mendidik. Misalnya jika anak tanpa sengaja memecahkan guci, maka minta dia bertanggungjawab dengan menyisihkan uang jajannya untuk membeli guci baru. Dengan begitu, anak akan lebih berhati-hati dalam bersikap karena dia tahu bahwa pertanggungjawaban itu tidak mudah.
 
 
Langkah Keenam : Buat Anak Menjadi Supel 
 
 
Seorang pemimpin diharapkan mampu berinteraksi dengan baik dengan lingkungannya. Untuk membentuk pribadi yang supel, ibu hendaknya komunikatif dan mengajak anak untuk berbicara lebih banyak di rumah. Ajarkan cara berkomunikasi yang sopan pada segala tingkat usia dan biasakan anak untuk bersikap ramah pada siapa saja. Dorong jiwa kepedulian anak terhadap sekitarnya dengan mengajarkannya untuk berbagi dengan orang lain, memberitahunya apa yang harus dilakukan jika ada kejadian tertentu dalam kehidupan bermasyarakat (misalnya jika ada tetangga yang sakit), atau mengajaknya secara langsung ke dalam acara kemasyarakatan seperti kerja bakti. Jika anak sudah memasuki usia sekolah, beri ia kelonggaran untuk bermain dengan teman-temannya sampai batas waktu yang wajar dan jangan larang ia jika ingin bergabung dengan kegiatan atau organisasi tertentu di sekolah, sebatas itu adalah hal yang baik. Harapannya itu bisa membantunya dalam bergaul dengan teman sebayanya, dengan begitu anak tidak canggung saat diterjunkan ke masyarakat dan memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, yang menjadi salah satu syarat untuk menjadi seorang pemimpin.
 
 
Langkah Ketujuh : Biarkan Anak Bermimpi 
 

 
Setiap orang, termasuk anak-anak, memiliki mimpi tentang kehidupannya kelak. Ada yang ingin menjadi dokter, arsitek, astronot, presiden, dan lain-lain. Kesuksesan adalah salah satu ciri utama seorang pemimpin, dan kesuksesan tidak hanya bisa dicapai dengan satu cara saja. Setiap pekerjaan yang baik di dunia ini memiliki potensi untuk sukses, karenanya jangan kekang impian anak. Ibu boleh saja mengarahkannya ke pekerjaan yang mungkin bisa membantunya sukses lebih cepat, namun jika anak memiliki mimpi yang berbeda dengan yang diharapkan ibu, jangan lantas memberangusnya. Biarkan dia hidup sesuai dengan mimpinya, karena selain itu akan membuatnya bahagia, motivasinya untuk sukses menjadi berlipat-lipat dibandingkan jika ia berada dalam tekanan untuk menjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan keinginannya.
 
 
Demikianlah tujuh langkah sederhana untuk membantu ibu membentuk buah hatinya menjadi seorang pemimpin. Dengan kerja keras dan dedikasi serta doa, niscaya setiap ibu dapat melihat anaknya menjadi seorang pemimpin yang mampu memberi kontribusi positif bagi masyarakat.