KATANYA, ANAK ADALAH ANUGERAH

Oleh Shona Vitrilia 26 Sep 2013

#LombaBlogNUB

Katanya, anak adalah anugerah.

Tapi, mengapa sebagian ibu yang memilih membesarkan anak secara penuh,

justru malah terlihat lelah dan stres menjalankannya?

Katanya, anak adalah anugerah.

Tapi, mengapa sebagian besar anak

justru dijatuhkan harga dirinya di rumah?

Dengan disalahkan setiap hari

dan dimarahi 3 kali sehari (atau sehari 3 kali?)

Sebenarnya,

Anak bisa patuh tanpa DITERIAKI

senang berbuat baik tanpa DIMINTA

Anak akan belajar tanpa DIPAKSA

Anak dapat mandiri tanpa DIGURUI

Anak punya ketahanan diri tanpa DIISOLASI

(*Dikutip dari buku, “Yuk Jadi Orangtua Shalih!”)

Shaqeela Alkhansa Ardiansyah

Anak adalah anugerah? Bukankah saat mengasuh, mendidik, serta membesarkannya membutuhkan energi, kesabaran dan kekuatan yang ekstra? Namun jika diperhatikan mulai dari bayi hingga ia dewasa, bukankah perkembangan kognitif, sosio-emosional, psiko-motorik, linguistik benar-benar membuat kita berdecak kagum kepada Sang Pencipta? Semua itu rasanya dibayar lunas oleh pertumbuhan dan perkembangannya yang luar biasa.

Nah, di sela-sela tahap pertumbuhan dan perkembangannya, adakah pelajaran yang dapat dipetik oleh seorang ibu dari sang anak? Tapi untuk apa, toh pada umumnya selama ini yang mengajari, mendidik, menasehati bukan anak melainkan orangtua.

Benar, selama ini pada umumnya demikian. Namun saya sungguh banyak belajar dari anak saya. Siapa menyangka, anak usia 6 bulan mampu mengajarkan bagaimana seharusnya ibu menyikapi anak. Saya akan bercerita sedikit, dua kejadian yang membuat saya tertegun, malu, dan meneteskan air mata. Pertama, saat saya sudah merasa sangat lelah, ditambah dengan kondisi kehamilan yang beranjak 5 bulan, membuat saya angkat tangan untuk menggendong, menimang-nimang anak saya agar bisa tidur (kebiasaan yang saya dan suami lakukan). Dengan kondisi itu, membuat saya sedih, merasa anak pertama saya menjadi terabaikan. Saat suami mengambil alih dan kemudian anak saya pun terlelap, saya tidur di samping anak saya, masih dengan kondisi menangis. Tiba-tiba, ia memaksakan diri untuk membuka mata, meski sulit ia tetap berusaha. Kemudian mengambil tangan saya lalu menaruh tangan saya di pipinya. Ya Rabb…. saya justru makin terisak.

Pelajaran apa yang bisa saya ambil dari kejadian pertama? Bahwa hanya dengan menangis sejenak, ia mampu membuat saya terharu, tenang dan merasa sangat beruntung memilikinya. Adakah selama ia terlahir merasakan hal yang sama? Beruntungkah ia memiliki ibunya?

Kedua, saat kami hanya berdua di rumah, karena suami tugas ke luar kota. Hari itu anak saya maunya digendong terus dan bahkan saat digendong pun masih menangis. Sementara perut saya tidak memungkinkan untuk menggendongnya terlalu lama. Lagi lagi karena tidak tahan, saya pun menangis. Bingung harus bagaimana. Apa yang anak saya lakukan? ia berhenti menangis, menatap saya, lalu menghapus air mata saya. Disaat yang sama saya makin terisak karena terharu. Lalu saya meminta maaf kepada anak saya, “Maafkan ummi yang engga sabaran ya nak, do’ain ummi ya sayang….” Seketika anak saya memeluk saya. Bagi saya kejadian tersebut sangatlah manis. Namun, semenjak ia terlahir adakah ia merasakan hal yang sama? Kenangan-kenangan manis saat bersama ibunya.

Anak bisa merasa tenang, nyaman, beruntung dan bisa mengukir ribuan kenangan manis untuk ibu, sebaliknya, bisakah kita? Saat ia rewel, emosi ibu meledak. Saat anak melakukan kesalahan menceramahi merupakan hal yang wajib untuk dilakukan. Saat anak memberikan komentar atau berpendapat, ibu merasa sudah tahu dan pasti lebih banyak tahu. Benarkah demikian? Tentu tidak semua ibu. Beruntunglah anak-anak yang memiliki ibu yang memberikan rasa aman, nyaman, tenang dan bahagia. Saya yakin, banyak ibu yang juga belajar dari anak-anak mereka. Agar ibu bisa berperan dengan maksimal, ia butuh dan harus mau belajar dari manapun. Termasuk belajar dari anak-anak mereka.

Selain aspek emosional seperti pengalaman saya di atas, masih banyak hal yang perlu diperhatikan. Tumbuh kembang anak tidak boleh luput dari perhatian ibu. Mulai sejak anak di dalam kandungan, lahir hingga dewasa. Makanan saat hamil, bagaimana ibu menyikapi mitos-mitos seputar kehamilan, Asupan ASI, saat MPASI (Makanan Pendamping ASI), pemilihan nutrisi yang baik dan seterusnya. 

Menurut Dr Widodo Judarwanto SpA., ”Tumbuh kembang otak anak sejak kehamilan 6 bulan sampai umur 2 tahun sangat cepat dan penting, maka bayi membutuhkan banyak protein, karbohidrat dan lemak, karena sampai berumur 1 tahun 60% energi makanan bayi digunakan untuk pertumbuhan otak. Selain itu, bayi dan balita membutuhkan vitamin B1, B6, asam folat, yodium, zat besi, seng, AA, DHA, sphyngomyelin, sialic acid, dan asam-asam amino seperti tyrosine dan tryptophan.” Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, banyak buku yang bisa ibu baca dan pelatihan-pelatihan berkaitan yang bisa diikuti. Jangan hanya mengandalkan pengetahuan warisan, karena pengetahuan akan terus berkembang seiring perkembangan zaman.

Bagaimana dengan pola asuh? Ini penting. Pola asuh tidak bisa dibiarkan mengalir begitu saja. Ketika anak sudah beranjak remaja bahkan dewasa, orangtua baru menyadari, “Oh ternyata pola asuh yang kami terapkan yang ini ya?” Dan saat menyadari itu semua sudah terlambat. Oleh karena itu ibu harus giat berperan. Jika ayah tidak tahu atau lupa karena kesibukkan bekerja, ibu wajib mengingatkan. Musyawarahkan dan tetapkan pola asuh apa yang akan diterapkan pada anak.

Penanaman agama dan akhlak sedari dini tentu lebih penting lagi. Dimulai dari diri ibu sendiri, keteladanan. Jika ingin anak rajin sholat, maka ibu harus rajin sholat. Ingin anak jujur, ibu harus jujur. Ya, pada dasarnya anak bisa patuh tanpa diteriaki, senang berbuat baik tanpa diminta, anak akan belajar tanpa dipaksa, anak dapat mandiri tanpa digurui, anak punya ketahanan diri tanpa diisolasi. Jadi bukan katanya, tapi anak memang adalah anugerah.