Keke Sang Pemimpin

Oleh Myra Anastasia 03 Oct 2013

“Bunda, tadi di sekolah Pak guru tanya arti nama Keke itu apa?”

Keola Sakima adalah nama lengkap Keke. Keola berarti kehidupan, Sakima berarti raja. Kehidupan Raja atau Raja Kehidupan? Sebagai orang tua, saya dan suami, mengartikan nama lengkap Keke adalah pemimpin (raja) dalam kehidupan. Kami berharap Keke bisa menjadi seorang pemimpin.

Menjadi seorang pemimpin bukan berarti Keke harus menjadi presiden, jenderal, boss sebuah perusahaan, atau lainnya. Apapun pekerjaan yang akan Keke pilih nanti, selama itu baik, biarlah Keke bebas memilih. Pemimpin yang kami maksud adalah Keke harus mempunyai jiwa seorang pemimpin. 

Diawali dari mampu memimpin dirinya sendiri. Apalagi Keke juga seorang laki-laki, kelak dia juga akan jadi pemimpin bagi keluarga. Dan seseorang yang mempunyai biasanya tidak akan mudah terombang-ambing begitu saja ke segala arus yang kadang gak jelas.

 Oiya, karena penasaran, besoknya saya pun tanya ke wali kelas maksud dari pertanyaannya ke Keke. Wali kelas cerita kalau Keke sudah menjelaskan arti namanya. Menurut wali kelas, artinya pas dengan karakter Keke. Di kelas Keke termasuk anak yang bisa bersikap, ketika teman-temannya sedang berisik dia gak otomatis ikut-ikutan. Malah kadang-kadang dia mengingatkan teman-temannya untuk tertib. Dia juga termasuk anak yang aktif bertanya, kalau perlu mengadakan debat kecil dengan gurunya apabila masih pendapatnya berbeda. Wali kelasnya bilang suka sikap Keke jadi bikin kelas menjadi hidup dengan diskusi-diskusinya.

Saya bersyukur bahkan sedikit ge-er mendengar jawaban dari wali kelas Keke. Nama adalah sebuah do’a, dan saya percaya itu. Tapi hanya memberi nama saja tanpa ada usaha, maka apalah arti sebuah nama. Banyak yang mempengaruhi terbentuknya karakter seseorang, termasuk dari lingkungan sekitar. Tapi tetap saja orang tua adalah gerbang utama yang seharusnya juga paling bertanggung jawab terhadap pembentukan karakter anak. Dan walaupun saat ini banyak yang mengatakan bahwa peran ayah itu sangat penting bagi pembentukan karakter anak, tapi yang dari zaman dahulu gak pernah berubah adalah peran penting seorang ibu dalam pembentukan karakter anak.

Apa yang saya lakukan?

Agama

Pendidikan tentang agama harus jadi pondasi dasar dalam mendidik anak. Seorang pemimpin yang baik tentu saja harus mempunyai pondasi agama yang kuat. Selain mengajarkan agama secara langsung, anak-anak juga kami sekolahkan di sekolah islam.

Makanan

Makanan bergizi dan seimbang juga mampu membantu pertumbuhan karakter seorang anak. Anak yang gizinya bagus, akan lebih sehat. Anak yang sehat tidak hanya menjadikannya cerdas tapi juga dapat membantu perkembangan karakter anak. 

Memberikan gizi terbaik bagi Keke, saya lakukan sejak mengandung. Selalu makan makanan dengan komposisi gizi yang seimbang, serta meminimalkan jajan di luar. Sejak lahir, saya memberikan Keke asupan ASI eksklusif kemudian dilanjut dengan MPASI setelah usianya 6 bulan. Setelah bisa menyantap makanan keluarga, saya tetap memerhatikan komposisi gizinya.

Diawali sarapan pagi, supaya Keke mempunyai tenaga cukup untuk memulai aktifitasnya. Kemudian memberikan dia bekal untuk dibawa ke sekolah. Saya tidak membiasakan Keke untuk jajan, walaupun kantinnya terlihat bersih. Tapi membawa bekal yang saya buat sendiri akan lebih ketahuan gizinya.

 

 Salah satu contoh bekal yang Keke bawa ke sekolah. Selain mengenyangkan, komposisi makanannya seimbang dan bergizi menurut saya.

Hari Demi Hari

Mendidik anak menjadi seorang pemimpin, tentunya gak instan. Sejak lahir, hari demi hari, dan terus berlanjut hingga saat anak dewasa nanti. 5 tahun pertama di kehidupan seorang anak tentu aja masa keemasan (golden age) yang seharusnya dimanfaatkan untuk mendidik seorang anak terutama pada pembentukan karakternya. Karena semakin anak besar, membentuk karakter akan menjadi lebih sulit. Tapi bukan berarti gak mungkin. 

Saya teringat ketika bayi, Keke termasuk bayi yang tenang. Lalu ada teman mamah yang menyarankan supaya Keke rajin dibikin nangis dan dibiarkan agak lama menangisnya. Alasannya, bayi yang terlalu tenang nantinya akan mempunyai suara yang kecil. Suara yang kecil akan membuat anak tidak dianggap dan katanya itu terjadi dengan anaknya.

Saya, kok, kasihan kalo harus sengaja bikin Keke menangis supaya suaranya jadi lantang. Saya lebih suka mengajarkan Keke cara berkomunikasi. Berani bersikap ketika mengeluarkan pendapat termasuk berkata tidak tapi tetap dengan cara yang santun. Terbukti dari cerita wali kelas Keke di atas. Dan sebetulnya gak cuma wali kelas waktu Keke kelas 2 aja yang bilang gitu, saya beberapa kali dapat laporan seperti itu sejak Keke TK.

Keke termasuk anak yang tenang ketika bayi

Walaupun berani mengeluarkan pendapat bukan berarti Keke langsung gampang berbaur dengan suasana sekitar. Kalau bertemu dengan orang atau suasana baru, dulu Keke lebih memilih untuk menempel ke saya. Memaksanya untuk berbaur? Itu sama aja dengan menciptakan suasana buruk untuk hari itu karena Keke pasti akan merajuk.

Padahal sebagai orang tua, saya ingin sekali melihat Keke langsung berani kalau bertemu orang atau suasana baru. Ingin sesekali lihat dia ikut lomba yang mengharuskan dia naik ke panggung, misalnya lomba nyanyi. Semasa TK, Keke selalu gak mau kalau diminta ikut lomba perorangan.

Tapi saya sadar, memaksakan anak hanyalah bentuk keegoisan orang tua. Ngomong baik-baik aja dulu. Mungkin Keke memang bukan anak yang suka tampil sendiri atau mungkin aja karena rasa percaya dirinya kurang. Memaksa dan menghakimi hanya akan membuatnya minder, lebih baik saya tingkatkan rasa percaya dirinya.

Sekarang tiap kali tahun ajaran baru, saya selalu terharu melihat Keke masuk sendiri ke sekolah tanpa harus ngumpet di balik punggung saya. Bahkan tahun lalu, dengan bangganya Keke bercerita kalau dia dipilih jadi salah satu siswa yang ikut lomba membaca Al-Qur’an.

Setiap tahun ajaran baru, saya suka terharu melihat Keke dengan gagah berani masuk sekolah sendiri

Keke gak mempunyai sahabat yang sangat dekat, dalam artian kemana-mana bermainnya pasti dengan itu-itu saja. Tapi menurut laporan guru-guru atau adeknya, di sekolah Keke bermain sama siapa saja. Dari mulai teman seangkatan, kakak-adik kelas, bahkan hingga satpam pun dia bergaul. Saya suka terharu apalagi kalau mengingat dia dulu nempel sekali sama saya.

Waktu TK, Keke pernah bilang cita-citanya adalah menjadi tukang becak. Saya tertawa dengernya. Bukan tertawa meledek, tapi memang lucu aja  buat saya. Saya lalu bilang ke Keke, “Boleh juga tapi kalau bisa Keke jadi boss becaknya. Kalau Boss kan punya banyak becak pastinya.” Mendengar cita-citanya didukung, apalagi membayangkan jadi boss becak membuat wajah Keke terlihat senang. Saya memang gak mau mematikan mimpi anak. Mimpi itu perlu, dari mimpi akan mempunyai visi-misi, lalu menjadi cita-cita, kemudian bisa bekerja sesuai dengan minat dan bakat yang mereka inginkan. Mematikan mimpi bisa membuat anak menjadi tidak tahu tujuan hidupnya.

Cita-cita anak bisa berubah-ubah dan punya alasannya. Keke ingin menjadi tukang beca, mungkin karena saat itu dia lagi senang-senangnya dengan lagu ‘Becak’. Cita-citanyaya sempat berubah, yaitu ingin menjadi petugas pemadam kebakaran, karena dia ingin sekali memadamkan api neraka supaya gak ada manusia yang masuk neraka. Sekarang cita-cita Keke adalah menjadi anggota TNI.

Gak ada yang salah dengan semua mimpi. Bahkan kalopun suatu saat, dia punya cita-cita ‘aneh’ menjadi kelinci pink misalnya. Memang tidak akan mungkin Keke menjadi kelinci pink, tapi mungkin dia berpikir seperti karena sedang berimajinasi. Dan siapa tahu kelak dia menjadi seorang ilustrator andal. Jadi tugas saya sebagai orang tua adalah mengarahkan dan membimbing Keke supaya dia dapat mencapai cita-citanya.

 Cita-cita Keke sekarang menjadi seorang TNI. Apa ke depannya nanti akan berubah lagi atau benar-benar menjadi TNI? Saya sebagai orang tua hanya membimbing :)

Sejak bayi, saya selalu memberikan Keke banyak buku dan menceritakannya terutama menjelang tidur. Mungkin saat itu Keke belum mengerti, tapi saya berpikir membiasakan anak untuk dekat dengan buku akan mengembangkan daya imajinasinya. Anak yang mampu berimajinasi akan menjadi anak yang cerdas, kreatif, dan selalu ada saja ide-ide segar yang mereka miliki. Hal ini bisa berguna bagi anak di masa depan.

“Bunda, bacain buku trus peluk.” Kalau Keke berkata seperti itu berarti dia sudah mengantuk tapi belum bisa tidur kalau saya belum membacakan dia buku (walaupun hanya beberapa lembar) dan kemudian memeluknya.

Sekarang karena usianya sudah 9 tahun, kegiatan yang berkaitan dengan buku gak selalu saya yang membaca. Kadang Keke membaca buku sendiri. Biasanya saya selalu berpesan ke Keke kalau sudah selesai untuk diceritakan lagi ke saya dan apa yang bisa Keke ambil dari cerita tersebut.

Di situ saya bisa menilai apakah Keke benar-benar membaca bukunya. Dan dengan mendengar pendapatnya tentang buku yang dibaca, saya bisa melihat seperti apa cara Keke menangkap nilai-nilai dari setiap buku yang dibacanya. Dari sebuah buku, kadang saya bisa melihat pendapat Keke yang bijak, berani ambil keputusan, dan lainnya.

Yang dia baca tidak hanya buku. Dia senang membaca apapun. Kalau tida mengerti, Keke akan bertanya. Kalau mengerti, dia akan bercerita dengan semangat.

Beberapa kali saya dibikin jengkel oleh Keke karena terlihat memprovokasi adik, sepupu, atau temannya. Misalnya kalau dia ingin tambahan waktu bermain padahal sudah waktunya belajar, dia lalu membujuk adiknya sedemikian rupa sehingga adiknya merengek minta dibolehin main. Saya sering jengkel dengan sikapnya yang seperti itu.

Tapi setelah setelah saya pikir-pikir lagi dengan tenang, sebetulnya sikap provokasi Keke itu ada bagusnya. Bukankah seorang pemimpin juga harus mampu mempengaruhi dan mengarahkan orang lain? Jadi sebaiknya diarahkan saja dan jangan dihakimi sikap provokatornya itu. Seperti tadi pagi, Adiknya ngotot ingin sarapan dulu baru pakai seragam, padahal hari udah semakin siang dan sup dihidangkan masih panas. Setelah dikasih tau Keke kalau nanti mereka bisa terlambat, adiknya baru nurut. Nah, ini berarti Keke bisa mengarahkan adiknya dengan benar.

 Karena baru bangun, Nai jadi sedikit ngambek. Keke pun bersedia bantuin pakai sepatu dan adiknya nurut. Artinya dia bisa mempengaruhi adiknya :)

Kalau bicara tentang perjalanan Keke menjadi seorang pemimpin memang akan sangat panjang. Karena untuk mendidik anak menjadi mempunyai jiwa pemimpin dilatihnya sedini mungkin dan terus berlanjut sampai sekarang. Yang saya lakukan selama ini adalah terus berkomunikasi dengan baik, membimbing serta mengarahkan, konsisten, dan beri mereka kepercayaan.

Ngomong-ngomong tentang kepercayaan, saya pernah dapat teguran dari Keke. “Bunda teriak-teriak terus, gak percaya banget sama Keke? Keke itu bisa bundaaa…” Saat itu memang saya terlalu cerewet mengingatkan Keke untuk berhati-hati ketika di Tangkuban Perahu. Saya seperti gak percaya dengan kemampuannya dan itu membuat dia protes.

Saya gak marah, justru sadar kalau saya memang salah. Gimana Keke bisa jadi pemimpin kalau kita gak pernah kasih dia kepercayaan? Harusnya saya cukup mengarahkan saja sesekali. Teguran Keke adalah bentuk komunikasi yang bagus.

Menjadi seorang pemimpin itu tidak mudah. Seringkali menemukan jalan yang menanjak dan terjal seperti yang Keke lakukan di Tangkuban Perahu

Lalu bagaimana dengan adik Keke? Walaupun perempuan, adik Keke tetap harus juga punya jiwa pemimpin. Tapi ceritanya juga akan sangat panjang, jadi kali ini saya hanya akan bercerita tentang perjalanan Keke seorang pemimpin.

Oiya seorang pemimpin juga harus mandiri. 2 hari lalu saya terharu dengan sikap Keke yang bangun dengan semangat dan ingin memasak sarapan dan bekal untuk dia dan adiknya. Saya hanya memantau dari dekat karena Keke pengen melakukannya sendiri.

Bekal sederhana yang dibikin Keke untuk dia dan adiknya, tapi ternyata habis disantap! 

“Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil” #LombaBlogNUB

4 Komentar

Muna Sungkar

23 Oct 2013 13:33

Wah keren deh keke.. Pasti didikan ibunda yg bikin bgni.. Hrs byk blj nih de mbak mira.. Nice post by the Way :)

23 Oct 2013 10:53

NIce posting mbak.... (y) Semoga Keke menjadi anak yang membanggakan bagi kedua orang tuanya, aamiin.

Uniek Kaswarganti

23 Oct 2013 10:35

aduh terharu sekali pas baca cita2 Keke untuk memadamkan api neraka. Sungguh mulia engkau Nak :) Semoga dari hari ke hari Keke kian menjadi anak yang sanggup memimpin diri sendiri maupun sekitarnya dengan baik ya Mak Chi.

04 Oct 2013 07:45

Saya setuju dengan pondasi agama. Bagaimana pun kesuksesan sebuah keluarga adalah bisa berkumpul di surga, oleh karena itu agama menjadi satu-satunya jalan/petunjuk yang bisa digunakan untuk mencapai kesuksesan. Beberapa hal yang merisaukan saya terhadap generasi masa kini adalah mulai terkikisnya kemampuan untuk mengambil keputusan. Tidak berani. Hal lainnya adalah tata krama. Ucapan maaf, tolong, dan terima kasih mulai jarang didengar dari anak-anak dan remaja sekarang. Semoga Keke bisa menjadi pemimpin yang berani memperjuangkan kebenaran, memiliki kesantunan, dan berguna bagi agamanya.

Myra Anastasia

04 Oct 2013 10:48

aamiin. Terima kasih byk, ya, Mas :)