Kepemimpinan si Kecil: Dimulai dari Ibu, Diawali dari Rumah

Oleh ririn_sjafriani 29 Sep 2013

 

wisuda Aylaa
Foto

“Aylaa mau jadi seperti Ibu”.

Itu kalimat anak sulung saya, Aylaa (hampir 7 tahun) pada suatu sore. Kalimat yang membuat saya tersenyum sekaligus penasaran. Meskipun secara teori, saya sudah tahu memang kedua orangtua adalah panutan dari anak-anaknya, namun pernyataan sore itu tetap saja mengejutkan saya.

“Memang mau seperti Ibu yang bagaimana Kak?” tanya saya sambil menahan senyum. “Aylaa mau kerja di depan laptop di rumah seperti Ibu. Kan bisa jagain anak juga,” jawabnya polos.

Hal itu kemudian membuat saya tersadar bagaimana kesan seorang Ibu di mata anaknya. Memang sejak berhenti bekerja dari sebuah media nasional sejak tahun 2010, saya lebih memilih bekerja paruh waktu.

kerja di kantor
Serius

Apalagi, saya kemudian melahirkan adik Sandya (hampir 2 tahun) pada tahun 2011. Meskipun, godaan untuk kembali bekerja di kantor seringkali datang, terutama ketika saya merasa bosan dan jenuh di rumah. Tetapi, pernyataan Kakak Aylaa tadi seakan menyadarkan saya betapa anak-anak membutuhkan saya di rumah.

Saya tidak pernah bermaksud mendiskreditkan ibu-ibu yang berkarir di kantor, saya juga pernah mengalaminya. Yang kemudian harus dipertimbangkan adalah kebutuhan dari tiap-tiap rumah tangga dan kebutuhan anak-anak yang berbeda. Jadi ibu rumah tangga, ibu bekerja paruh waktu ataupun ibu bekerja, tetaplah seorang ibu yang berperan penuh untuk keluarganya.

Dimulai dari Minat  

Memiliki anak yang cerdas, tentu saja menjadi harapan semua orang tua, termasuk saya. Namun, bukan berarti saya menancapkan standar tertentu ataupun menginginkan anak-anak saya, kakak Aylaa dan adik Sandya menjalani profesi tertentu ketika mereka dewasa nanti. Berkaca dari pengalaman saya yang mengikuti keinginan orangtua untuk kuliah di jurusan tertentu, namun ketika saya bekerja, tetap saja saya memilih yang sesuai dengan minat saya yaitu menjadi seorang jurnalis yang dekat dengan dunia penulisan.

Maksud saya, jika saya terjun di dunia tulis menulis, bukan berarti saya menginginkan anak saya pun demikian.

Sandya belajar
Adik

Meskipun tetap saya biasakan mereka untuk membaca sedari kecil. Tuh Adik Sandya udah mulai baca, walaupun cuma selebaran iklan minimarket hihihi ^_^

Adik