Leaders Are Made

Oleh windi_teguh 21 Oct 2013

Video yang hanya berdurasi beberapa detik tersebut tak henti-hentinya diputar ibu di laptop kesayangannya.

Masih terbayang senyum yang merekah di wajah ibu saat menerima piagam dari menteri lingkungan hidup pada 19 April 2013 lalu di museum Wiyata Mandala. Terukir di atas piagam tersebut nama putri nya sebagai pemenang ketiga lomba blog anugerah jurnalistik yang diadakan oleh Aqua Danone. Windi Widiastuty, ya saya sendiri.

Seharusnya sayalah yang akan menghadiri acara penganugerahan itu, namun berhubung kondisi pada saat itu, saya tengah hamil 9 bulan maka saya meminta ibu untuk mewakilinya. Bahagia sekali rasanya melihat ibu yang begitu bersemangat saat saya memberitahu kabar gembira tersebut. Tanpa berfikir ibu langsung setuju untuk mewakili saya dan berangkat ke Jakarta.

Saya lihat kebanggaan di matanya yang berkaca-kaca di layar televisi. Ya acara tersebut ternyata diliput oleh beberapa stasiun televisi nasional. Walau hanya beberapa detik namun itulah momen yang membuat saya begitu bersyukur setidaknya saya pernah membuat ibu tampil di depan public karena prestasi yang saya torehkan.

“ Kamu menang apalagi sekarang ?”

Itu pertanyaan yang sering dilontarkan ibu kepada saya belakangan ini. Memang sepertinya hoki saya lagi baik, karena beberapa lomba menulis yang saya ikuti mencantumkan nama saya sebagai pemenangnya. Dan ibu suka sekali mendengarkan cerita dibalik tulisan yang saya buat. Bahkan ayah saya sering mengatakan kalau ibu suka bergadang sambil membaca-baca blog saya, haduuuh ada haru yang mendesak-desak di hati ini.

“ Ibu dengar kamu dapat promosi di kantor, benar ya nak?”

Pertanyaan ibu yang lain kepada saya. Dua tahun terakhir ini memang karir saya di kantor mengalami kemajuan yang sangat pesat. Terakhir kali saya memberitahu  ibu bahwa saya direkomendasikan untuk menjabat sebagai manajer, namun karena factor keluarga , maka saya masih mempertimbangkannya. Ada kebanggaan yang tak dapat disembunyikan ibu setiap kali membicarakan anak-anaknya kepada teman-temannya.

Sejujurnya kalau mengingat bagaimana saya kecil, saya sendiri merasa takjub dengan apa yang telah saya capai saat ini.

Dulu saya adalah anak yang pemalu dan tidak percaya diri. Banyak factor yang menyebabkannya. Pertama karena postur tubuh saya yang mungil, otomatis saya sering diangap anak bawang oleh teman sepermainan. Saya tidak pernah dianggap dalam permainan apapun, apalagi memang saya tidak menguasai satu jenis permainan pun. Main kelerang saya ngga bisa, main lompat tali saya sering jatuh,

Dalam berbagai perlombaan pun saya tak pernah mengukir prestasi. Karena kaki saya yang pendek maka dalam lomba lari ngga pernah menang, lomba balap karung saya kalah cepat, bahkan lomba makan kerupuk pun saya tak pernah mendapat nomor.

Di kelas saya termasuk anak yang pemalu. Walau saya tahu jawaban dari pertanyaan guru, namun enggan sekali mengangkat tangan untuk menjawabnya, kecuali kalau ditunjuk langsung oleh bu guru.

Kalau diingat-ingat bagaimana saya dulu, bisa dipastikan saya ini tidak punya bakat untuk jadi si pemimpin kecil. Bagaimana tidak? Rasa-rasanya sifat-sifat seorang pemimpin tidak ada di diri saya. Seorang pemimpin itu katanya haruslah orang yang pemberani, percaya diri, mandiri, dan seabrek sifat ksatria lain.

Namun tak disangka ternyata saya yang pemalu dan tidak percaya diri dahulu, saat ini  sudah menjelma menjadi sosok yang berbeda. Menjadi seorang pemimpin mungkin bukan hanya merupakan cita-cita lagi.

Untuk itu saya sangat bersyukur terlahir dari rahim seorang perempuan yang saat ini saya panggil ibu. Di tangan ibu, jiwa saya ditempa. Ibu memiliki andil dan peran sangat besar dalam kehidupan saya. Ibu dapat melihat kekurangan serta potensi yang ada pada diri saya.

Di tangan ibu, seorang pemimpin kecil pun telah terbentuk.

Apa sebenarnya yang telah dilakukan ibu saya?

Ibu mengajarkan saya untuk disiplin

Yang namanya anak kecil pasti maunya semua permintaannya dituruti. Maunya sekehendak hati, kapan mau makan, kapan main, kapan istirahat. Itu pun terjadi pada saya. Namun hal tersebut tak membuat serta merta ibu mengeluarkan seabrek aturan yang mendisiplinkan saya. Ibu maunya saya disiplin atas kesadaran sendiri bukan karena dipaksa.

Saya ingat, saat itu saya yang antusias sekali untuk membuat jadwal harian. Salah satu penyebabnya karena saya merengek kepada ibu agar diberi ijin mengikuti les tari dan diperbolehkan berenang ke kolam renang setiap sore. Ya, saya memang suka sekali menari dan hobi berenang. Ibu menanyakan kepada saya

“ Kapan kamu mau latihan nari dan berenang, kan pulang sekolah kamu ngaji, pulang ngaji udah sore, belum ngerjain PR, gimana ngatur waktunya?”

“ Narinya pulang ngaji bu, ntar berenangnya sehabis nari”

“ Ah memangnya sempat, biasanya kamu kan suka main terus sama temanmu ?” ibu terlihat ragu “ Coba deh kamu buat jadwal kegiatanmu, biar ibu lihat masih bisa ngga kamu ikut les tari dan renang “

Hwooo, ngga nunggu lama saya langsung kutak-kutik menyusun jadwal harian saya. Apalagi kebetulan saya mendapat stiker jadwal harian lucu dari majalah anak yang menjadi langganan kami. Mulailah saya mengatur kegiatan saya dari bangun tidur hingga tidur kembali.

Ibu menempel jadwal harian yang saya buat di pintu meja belajar saya. Biasanya ibu hanya mengingatkan saja jika saya tidak disiplin mengikuti jadwal yang saya buat sendiri. Demi latihan tari dan renang yang menjadi hobi saya, semua kegiatan di jadwal saya patuhi. Ternyata untuk mendisiplinkan seorang anak cukup dengan mengkombinenya dengan kegiatan yang disukainya.

Sampai saat ini saya terbiasa membuat jadwal untuk kegiatan saya. To do list dalam dunia kerja membuat setiap pekerjaan saya selesai tepat waktu dan membuat rencana-rencana yang saya susun berjalan dengan baik

Ibu memberi kepercayaan kepada saya

Saya ingat, saat itu ibu akan pergi dalam waktu yang cukup lama ke Jakarta bersama ayah. Saya,abang serta dua adik saya ditinggal di rumah bersama ART ( Asisten Rumah Tangga ). Saat itulah ibu berbuat sesuatu yang menurut saya sangat luar biasa. Ibu memberikan tanggung jawab yang besar kepada saya, yaitu mengatur keuangan selama ia pergi. Jadi ibu menitipkan uang belanja, dan uang jajan adik untuk saya atur. Maka setiap pagi saya akan menjatah uang jajan mereka, kemudian memberi uang kepada si mbok untuk belanja. Saya begitu bangga diberi kepercayaan oleh ibu, dan berusaha keras agar uang yang ditinggalkan ibu cukup sampai ibu pulang. Akhirnya uang tersebut bukan hanya cukup tapi berlebih.

Ibu mengajarkan saya arti tanggung jawab bukan dengan kata-kata tetapi dengan memberi kepercayaan kepada saya. Bukankah amanah adalah salah satu ciri pemimpin?

Ibu menanamkan pentingnya kejujuran kepada saya

Ibu selalu bilang, orang jujur bakal masuk surga. Ibu juga bilang kalau bohong itu temannya setan. Otak anak kecil saya mencerna bahwa kejujuran itu modal utama masuk surge. Dan karena saya ingin mask surga maka saya takut sekali berlaku tidak jujur atau berbohong kepada orang lain.

Pernah, saat saya jajan di kantin sekolah, saya membeli mi goreng, beli minum, trus beli permen. Seharusnya uang jajan saya sudah habis. Tetapi saat saya bermain lompat tali, sekeping uang seratus perak lompat dari kantung baju saya. Saya bingung, namun segera sadar, da merasa bahwa berarti tadi saya jajan belum bayar. Secepatnya saya kembali ke warung jualan tadi dan menyerahkan uang seratus perak saya tadi. Si ibu penjual sampai terheran-heran melihat saya.

Berbuat jujur itu rasanya senaaang sekali. Setelah menyerahkan uang kepada ibu penjual saya merasa telah berbuat baik. Walau akhirnya ketahuan bahwa ternyata uang seratus perak tadi adalah uang jajan sekolah ngaji sore saya.

Sampai saat ini ajaran ibu masih saya ingat. Karena itu, tak pernah sekali pun saya mencontek dalam ujian, karena saya takut menjadi temannya setan.

Beberapa waktu yang lalu, pernah juga saat makan di restoran bersama suami saya menemukan bahwa billing yag ditagihkan kepada saya lebih sedikit dibanding yang seharusnya. Tanpa ragu saya meberitahu kepada si pelayan dan menambah uang sesuai dengan yang kami makan. Hal-hal seperti itu walau diajarkan ibu saat saya kecil namun terbawa terus hingga saya dewasa.

Kejujuran membuat hidup kita tenang dan membuat kita dipercaya oleh orang lain.

Jujur merupakan sifat seorang pemimpin, maka tak heran nabi Muhammad dijuluki AS-Siddiq yang artinya orang yang dipercaya

Ibu Melatih Kemandirian Saya

Kebanyakan anak diantar jemput oleh orangtuanya saat pergi dan pulang sekolah. Karena ibu setiap hari harus bekerja, maka kegiatan antar jemput tersebut tidak pernah ada dalam kisah pendidikan saya. Saya biasa pergi dan pulang sekolah sendiri. Duduk di bangku kelas 5 SD saya sudah fasih naik turun angkot bersama adik baik berangkat maupun pulang sekolah

Di rumah, walau kami selalu memiliki Asisten Rumah Tangga, tak pernah ibu membiasakan saya untuk menyuruhnya melayani saya. Membereskan tempat tidur, menyusun buku ke tas saya lakukan sendiri.Bahkan menyusn pakaian ke lemari pun saya lakukan sendiri.

Tidak memanjakan saya dan yakin kalau saya bisa membuat saya menadiri lebih cepat dibanding anak seusia saya saat itu.

Tak heran begitu lulus SMP, melanjutkan sekolah di sekolah nun jauh dari rumah, berasrama pula, lanjut kuliah ke Semarang, kerja di Jakarta, yang kesemuanya jauh dari ibu tak membuat sayagamang. Mudah sekali melaluinya karena latihan dari ibu sedari saya kecil

Ibu Mampu Melihat Potensi Saya


Saya merasa saya tidak memiliki kelebihan apapun. Olahraga saya tidak suka, menyanyi pun saya tidak bisa. 

Namun setiap melihat acara Panggung hiburan Anak-Anak di TVRI dulu, saya pasti langsung berjoget-joget ria. Setiap mendengar musik saya pun akan bergerak-gerak mengikuti iramanya. Menyadari saya yang begitu antusias kalau mendengar musik, ibu langsung mendaftarkan saya ke sanggar tari. Wow bahagianya hati saya kala itu. Menari memang kesukaan saya. 

Ibu memang tak salah, dari menari beberapa kali saya membawa pulang piala yang saya menangkan dari berbagai lomba menari.

Selain tari, potensi saya yang bisa dilihat ibu adalah kegemaran saya membaca yang membabi buta. Sadar anaknya penggila bacaan, ibu membelikan aneka bacaan untuk saya, mulai dari majalah, buku cerita sampai komik. Dulunya sih saya hanya menjadi pembaca setia saja. tak disangka kegemaran membaca saya berguna saat ini, saat saya mulai menulis. Beragam bacaan dimasa kecil turut memperkaya tulisan saya.

Pada dasarnya setiap individu itu senang kalau dipercaya. Itu sudah menjadi sifat alamiah manusia. Tak terkecuali anak kecil. Saat seorang ibu tidak melarang ini itu. Tidak khawatir berlebihan terhadap si anak, membuat anak yakin bahwa ia mampu berbuat sesuatu

Ibu Mengajarkan kemandirian dengan memberi kepercayaan kepada saya

Seingat saya ibu tidak pernah menerapkan aturan ketat kepada saya dan saudara-saudaranya. Hanya saja ibu melakukan hal-hal kecil yang memnacing

Konon, menurut asal-usulnya seorang pemimpin itu ada dua jenis. Pertama pemimpin yang dilahirkan (Leaders are born)  dan kedua pemimpin yang dibentuk ( Leaders are made).

Pemimpin yang dilahirkan itu salah satu contohnya adalah seorang nabi. Ia memang dilahirkan dan sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin bagi umatnya. Contoh lain adalah seorang anak yang dilahirkan dari Raja dan ratu, maka bisa dipastikan ia akan menjadi seorang pemimpin menggantikan ayahnya.

Sadar bahwa anaknya bukanlah seorang nabi dan bukan pula keturunan raja-raja,