Membentuk Karakter Ala Bunda Siti

Oleh Pendar Bintang 13 Oct 2013

Karakter itu dapat terbentuk dari mana saja, baik itu lingkungan dalam ruang lingkup yang besar misalkan sekolah, lingkungan tetangga dan lain-lain ruang lingkup terkecil yaitu keluarga. Dalam lingkup keluarga seorang ibu memiliki peranan terpenting untuk pembentukan karakter anak-anaknya.

Bunda saya, seorang ibu rumah tangga yang sangat tangguh dan sadar penuh tentang pembentukan karakter anaknya. Terlahir di keluarga yang mendidiknya untuk mandiri dari usia dini, Bunda  mengajarkan saya juga tentang kemandirian dalam menyongsong kehidupan. Di sela-sela belajar kemandirian itulah, secara tak sadar Bunda telah menanamkan sifat kepemimpinan di dalam diri saya.

Hal-hal yang dilakukan Bunda saya yang biasa dipanggil Buk Siti oleh teman-teman saya dan juga tetangga adalah sebagai berikut:

Memberikan tanggung jawab

Agar seorang anak lebih percaya diri dan berani, Bunda saya mengajarkan saya tentang tanggung jawab. Tanggung jawab itu tak harus yang besar, akan tetapi dari yang kecil seperti membereskan mainan, meminta saya untuk belanja ke warung terdekat atau membantu Bunda mengantarkan kue ke tetangga. Ini adalah tanggung jawab kecil yang juga membentuk kepercayaan diri seorang anak untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Berani memberikan pendapat

Percaya atau tidak saat kecil dulu, kalau diberikan kesempatan menyampaikan pendapat ada rasa bangga dan dipercaya. Bukan untuk hal-hal besar, katakanlah untuk menu makanan, saat Bunda bertanya “enaknya hari ini masak apa, ya?” dan saya sebagai anak saat itu mengatakan makan telur dadar sama tempe lalu Bunda menurutinya, saya merasa bahagia dan merasa diberikan kepercayaan untuk mengungkapkan pendapat saya.

Mengajak bercerita

Moment yang selalu saya ingat saat kecil adalah bagaimana Bunda meluangkan waktu untuk bercerita dengan saya, tak hanya mendengarkan cerita-cerita saya namun Bunda juga tidak segan bercerita tentang masalahnya. Tak harus masalah yang berat tapi masalah-masalah kecil tentang bagaimana saya harus menghadapi teman sekolah yang nakal, tentang Papa yang sering pergi keluar pulau. Bunda bercerita dengan memberikan pengertian tentang kehidupan yang kami jalani.
Dengan mengajak bercerita Bunda membuat saya merasa dibutuhkan dan otomatis menambahkan rasa percaya diri pada diri saya.

Memupuk rasa berani

Saya masih ingat, masa-masa saya sebelum dan waktu sekolah dasar. Saya selalu ingin tampil saat di kampung ada acara Agustusan di saat anak-anak yang lain pada sembunyi di belakang ibunya saat di suruh naik panggung. Bunda saya selalu memberikan semangat, kata-kata ajaibnya hanyalah “Anak Bunda itu ya harus berani” dari situ saya jadi banci tampil di setiap acara Agustusan bahkan di sekolah pun saya tak jarang di daulat sebagai petugas upacara, ketua kelas ataupun mewakili sekolah sebagai duta dalam ajang perlombaan tertentu yang memang saya kuasai.

Kenapa saya jadi berani? Karena Bunda saya membiasakan saya untuk memiliki kepercayaan diri juga mengerti tanggung jawab saya. Kalau saya tampil di panggung entah itu hanya untuk membawakan suatu acara atau sebagai penggembira Bunda saya selalu bilang kalau saya ini dari usia baru bisa berbicara sudah sering joget-joget di depan keluarga besar yang sedang berkumpul, bernyanyi di depan mereka.

Ajarkan untuk tidak cengeng

Saya pernah pulang sambil menangis karena diganggu teman-teman cowok yang notabene memang lebih besar dari saya.  Bunda saya menyambut saya dan bilang, kalau saya tidak boleh cengeng, harus berani kalau benar. Dari peristiwa itu setiap kali menghadapi masalah saya tidak mau cengeng, saya akan berani melawan jika saya benar. Dan tahu tidak sih? Semenjak peristiwa itu anak-anak cowok takut lho sama saya karena saya tantangin semua. Sekarang kalau ingat sih mereka tertawa dan bilang kok bisa ya takut ama anak kecil kaya saya, apalagi sampai sekarang tubuh saya tetap mungil begini, he he he

Berikan pujian dan penghargaan

Hal ini yang sering kali dilupakan orang tua, jangan pelit-pelit memberikan pujian dan penghargaan terhadap anak jika mereka berhasil melakukan pekerjaan. Sebagai contoh; saat saya berhasil naik sepeda Bunda saya tak henti-hentinya memuji kepintaran saya dan saat Papa pulang kerja, lagi-lagi dia menyebut-nyebutkan keberhasilan saya. Sebagai anak kecil hal tersebut membuat saya berbunga dan ingin selalu melakukan yang terbaik untuk mereka.

Pada usia 7 tahun, saya menginjak kelas 2 SD saat itu saya bertekad setelah lulus SMA saya tidak akan minta uang dari Bunda atau pun Papa, saya harus mandiri! And I did it! Saya membiayai kuliah saya sendiri, bekerja. Saya berhasil mengikis rasa khawatir mereka karena keberanian saya yang menurutnya terlalu.

Sejauh ini hanya 6 hal yang saya ingat bagaimana Bunda mendidik saya hingga saya menjadi anak yang pemberani dan insyaallah mampu pula mengayomi adik saya juga menjadi anak yang berbakti sesuai do’a mereka. Bunda saya yang telah menjadi inspirasi tentang kekuatan dan ketangguhan seorang perempuan guna mewujudkan impiannya telah membentuk karakter kepemimpinan dalam diri saya. At least, untuk diri saya Pribadi.