Mempersiapkan "Pemimpin Kecil"

Oleh inatanaya 10 Sep 2013

The future depends on what we do in the present. - Mahatma Gandhi

Masa depan negara tergantung dari apa yang dilakukan oleh generasi  orangtua saat ini kepada generasi muda.  Peran dan tanggungjawab generasi orangtua sangat penting demi mewujudkan generasi  Pemimpin Kecil  yang berkarakter dan memiliki  visi dan misi yang dipercayakan kepadanya.

Aku, sebagai orangtua  menyadari sekali bahwa apa yang akan kutanamkan kepada anakku di masa kecil, dan dewasa akan menjadi landasan bagi hidupnya . Hidup yang menjadikan pemimpin bagi dirinya sendiri.  Karena kami akan tua, meninggal dan dialah pewaris dan bagian generasi penerus masa depan. Anakku adalah anak tunggal, seorang wanita.

Menyadari hal itu, aku sangat memperhatikan peranku sebagai ibu.  Ketika anakku masih SD, aku masih bekerja.  Waktu yang sangat berharga bagi seorang ibu dengan dua peran sekaligus, yaitu sebagai ibu rumah tangga dan sebagai ibu pekerja.  Bagiku pendidikan yang  mempunyai visi mewujudkan karakter yang jujur, terbuka, disiplin, keuletan sangat kudambakan.  Nach,  mulailah dengan pilihan yang sulit ketika  anak akan masuk ke sekolah SD.   Memang banyak tawaran sekolah yang memberikan seolah-olah memiliki fasilitas dan kurikulum  keren dan hebat dalam pengertian “go internasional”.  Tapi aku tetap kepada prinsip utamaku, cari sekolah yang mengutamakan karakter anak.

Lalu, ketika aku telah mendapatkan  sekolah itu, banyak konflik diriku dan anakku yang sering terjadi.   Awal utamanya adalah harapan untuk mendapatkan sekolah yang baik dalam arti berkarakter.  Tetapi aku baru sadar bahwa anak yang mendapatkan pendidikan karakter di sekolah harus diimbangi dengan pendidikan karakter di rumah.  Ketika anakku minta segala macam perhatian, mulai dari PR yang sangat banyak dan harus dikerjakan, buku penghubung antara orangtua dan guru yang tiap hari harus aku baca. Padahal aku tak punya waktu dan bahkan seringkali merasa malas untuk membaca buku penghubung karena aku tak tahu pentingnya buku itu.

Akibatnya, suatu hari anakku pulang dengan menangis.  “Mamah, kenapa tak baca dan tanda-tangan buku penghubung?”   “Aku mendapat hukuman menulis beberapa halaman karena Ibu Guru menganggap aku yang salah tak memberikan buku itu kepada mamah”.     “Ternyata, hal  ini merupakan suatu pukulan bagi diriku”.    Aku tak sadar bahwa sebelum aku menuntut anakku mendapatkan pendidikan disiplin, aku sendiri harus disiplin.    Mulai saat itu, aku terus memperbaiki diriku, memberikan teladan bagi anakku. 

Setiap kali  naik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi , dari SD  ke SMP, maka adaptasi teman, adaptasi pelajaran menjadi momok bagi anakku.   Aku harus mendampingi hari-hari sulitnya.  Memperhatikan, memberikan pendampingan, serta memberikan bimbingan jika ia bertanya , mengeluh.   Tentunya teman-temannya tidak semuanya memiliki  sifat, watak dan perbuatannya yang baik.   Seringkali dia bercerita bahwa ada teman-temannya yang kurang baik dalam pelajaran, mendapat bullying dari teman yang lebih pandai.   Pada saat yang tepat itulah, aku sebagai orangtua, memberikan pelajaran hidup bahwa tidak boleh melakukan bullying kepada mereka yang dianggap lemah.  Melaporkannya kepada guru kelas atau wali kelas jika hal itu terjadi. 

Saat ketika anakku menginjak  SMA, perjuangan yang sangat berat adalah ketika menghadapi ujian akhir nasional dan ujian sekolah.   Bertumpuk buku-buku yang harus dipelajari, hampir tiga bulan, sekolah memberikan latihan-latihan ujian .  Perasaan jenuh, cape dan bosan memenuhinya.  Tapi, saya selalu mendorongnya untuk terus berlatih. Jika ingin memenangkan pertandingan, harus dimulai dengan ketekunan, kerajinan, kemauan keras.  Tidak boleh patah semangat. Bahkan ketika kebosan melanda dirinya, aku dipaksa mengatakan kepadanya “Jangan menyerah, berjuang!”, sebagai tanda semangat kepadanya.

Beruntung, dia dapat melewati masa krisis itu dengan baik.  Harapanku untuk anakku pada masa sulit yang terakhir adalah adaptasi lingkungan, pelajaran, sosial ketika dia harus kulepaskan untuk menggapai cita-citanya. Dia belajar untuk menghadapi dan mengatasi kesulitannya, kuliah di luar negeri. Ketika dia  mendapat kesulitan dalam upgrade internet yang merupakan “jantung” kebutuhan kuliahnya.   Ketika aku harus memberikan kuliah singkat tentang  lifeskill, memasak, mengolah keuangan untuk kehidupannya, mengenal dunia bank, dunia budaya -sosial dari tempat dia tinggal.

Menggapai cita-cita untuk menjadi pemimpin dalam dirinya, keluarganya, serta masyarakat dimana dia akan tinggal, itulah persiapan yang telah kulakukan sebagai seorang ibu.

 

2 Komentar

inatanaya

12 Sep 2013 12:08

Terima kasih kembali diberikan kesempatan untuk posting.

Nutrisi Bangsa

12 Sep 2013 20:49

Sama-sama :)

Nutrisi Bangsa

11 Sep 2013 20:57

Terima kasih ya Bunda.. Artikelnya memberi pencerahan... :)