Mendidik Pemimpin Kecil

Oleh Bunda Aisykha 19 Oct 2013

Dear Bunda,

Bagaimana kabar si kecil hari ini? Baik-baik, bukan?

Bunda, mendidik anak adalah tugas yang mulia, terutama bagi kita, ibu. Memang, mendidik anak bukanlah tugas yang mudah, tetapi dengan semangat dan keikhlasan, insyaAllah, semuanya akan menjadi lebih mudah.

Begitu pula dengan yang aku jalani saat ini. Mendidik dan mengarahkan putri semata wayangku, Aisyah, yang usianya akan genap 3 tahun, Januari mendatang, tidaklah semudah membalik telapak tangan. Terlebih lagi, sekarang ini, Aisyah besar sekali rasa ingin tahunya, banyak maunya, bahkan terkadang sedikit keras kepala. Biar bagaimanapun, Aisyah harus tetap aku arahkan agar dapat menjadi pribadi yang baik, membanggakan, mampu memimpin dirinya sendiri dan insyaAllah menjadi pemimpin di masa mendatang.

Untuk itu, sebagai seorang ibu, aku selalu berusaha agar Aisyah dapat tumbuh menjadi pribadi dan pemimpin yang baik dalam kehidupannya. Dan inilah caraku untuk mempersiapkan Aisyah menjadi pemimpin saat ini, maupun di masa depan.

1. Menanamkan Pendidikan Agama sejak Dini

Alhamdulillah, aku muslim. Agama yang aku pelajari tentu saja agama Islam. Bagiku, ilmu agama penting dikuasai atau setidaknya dipahami oleh orang tua sebagai bekal untuk mendidik anak, apapun agama yang diyakini. Kuncinya adalah konsisten. Kalau kita konsisten, insyaAllah anak-anak kita dapat lebih mudah menyerapnya.

Dasar terpenting untuk mendidik Aisyah menjadi pemimpin yang baik, menurutku adalah akhlak yang mulia. Untuk itu, yang harus aku tanamkan dalam diri Aisyah adalah berusaha untuk selalu mematuhi perintah dan menjauhi larangan-Nya. Itu adalah pegangan wajib yang harus tertanam sejak dini. Ibarat membangun rumah, pondasinya harus kuat, begitu pula untuk membentuk pribadi seorang pemimpin, dasar agama sebagai pondasi hidupnya, haruslah tertanam dengan kuat.

Semakin ke depan, dunia akan berputar makin keras. Begitupula dengan kehidupan ini. Nah, ilmu agama yang aku dalami kemudian aku ajarkan pada Aisyah menjadi penting untuk membentengi Aisyah dari kerasnya godaan dunia, kelak di kemudian hari.

2. Jadi Panutan yang Baik

buah jatuh, tidak jauh dari pohonnya

Meskipun tidak sepenuhnya tepat, tetapi itulah kira-kira pepatah yang dapat menggambarkan hubungan antara orang tua dan anak.

Orang tua, terutama ibu adalah figur terdekat yang digunakan oleh anak sebagai figur panutan pertama. Ingatlah bahwa dalam masa emas pertumbuhan, anak adalah sosok peniru yang sangat kuat dan cepat menangkap segala pembicaraan dan perilaku dari orang-orang terdekatnya. Celakanya, anak belum dapat mengolah dan memilah mana yang baik dan buruk. Anak merekam begitu saja segala perilaku kita kemudian menyimpan di memorinya dan mengungkapkannya kembali melalui “action” khasnya sebagai anak-anak.

Setiap hari, anak akan memperhatikan tingkah laku dan kebiasaan-kebiasaan kita, begitu juga dengan Aisyah. Apa yang aku lakukan hari ini, bisa jadi akan dilakukan Aisyah besok. Perkataanku hari ini, mungkin besok juga akan dikatakan oleh Aisyah. Jadi, sebagai orang tua, aku harus lebih bisa menjaga diri, menjaga ucapan, juga perbuatan. Aku dan abi juga harus dapat menekan seminimal mungkin sifat dan perilaku negatif di depan Aisyah, karena Aisyah pasti akan belajar dari sifat dan perilaku kami sehari-hari. Terlebih lagi, Aisyah adalah anak yang alhamdulillah cukup kuat daya tangkapnya, besar sekali rasa ingin tahunya, dan lumayan kritis meskipun belum genap 3 tahun usianya.

Begitu juga ketika aku melakukan kesalahan. Terhadap siapapun, terhadap abi orang lain atau terhadap Aisyah sekalipun. Sikapku ketika melakukan suatu kesalahan pasti juga tidak akan luput dari perhatian Aisyah. Apakah aku mau mengakui kesalahan dan meminta maaf atau tidak?

Mau mengakui kesalahan adalah salah satu sikap yang harus dimiliki seorang pemimpin. Pemimpin tidak selalu benar, pemimpin juga bisa melakukan kesalahan, tetapi keikhlasan dan kejujurannya untuk mau mengakui kesalahan, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Jadi, memang perlu dilatih sejak dini agar kelak terbiasa dan tidak malu untuk mengakui kesalahan.

Oleh sebab itu, sebagai orang tua, aku dan abi harus berusaha sekuat tenaga agar dapat menjadi panutan yang baik bagi Aisyah. Dengan begitu, aku dapat mendidik Aisyah menjadi pribadi yang jauh lebih baik bahkan dari diriku sendiri. Tidak mudah, memang. Tetapi, bila dibiasakan sedikit demi sedikit, insyaAllah tidak ada yang tidak mungkin.

3. Belajar Mandiri

Sejak Aisyah masuk play group, aku hanya berharap Aisyah akan mendapat lingkungan belajar yang baik, teman-teman yang ramah, dan guru-guru yang sabar dengan tutur kata yang baik. Tetapi, alhamdulillah, kejutan demi kejutan aku dapatkan seiring dengan perkembangan Aisyah. Buah hatiku tersayang mulai belajar melakukan kegiatan pribadinya dengan mandiri. Lepas-pakai sepatu, makan dengan sendok garpu, gosok gigi, sampai ambil air minum, Aisyah mulai bisa sendiri.

Melihat perkembangan baik itu, akupun tidak tinggal diam. Guru Aisyah di sekolah biarlah melakukan tugasnya sesuai kurikulum, dan aku, pemegang peran penting dalam hidup Aisyah juga harus mengembangkan kemandirian Aisyah tersebut di rumah. Dan mulailah aku mengajak Aisyah untuk belajar mandiri juga di rumah.

Aku mulai mempelajari gaya guru-guru Aisyah ketika mengajar di sekolah. Sesekali aku intip-intip untuk meniru gaya bicaranya sampai gayanya ketika menyuruh melakukan sesuatu. Maklum saja, terkadang Aisyah lebih percaya pada apa yang dikatakan gurunya daripada ibunya sendiri. Berbekal gaya guru play group dan sedikit pengetahuan tentang hypnoparenting, mulailah aku mengajak Aisyah untuk belajar mandiri. Mulai dari merapikan mainan, melepas kaos dan celana, kemudian memasukkannya ke keranjang pakaian kotor, toilet training, hingga mandi, alhamdulillah Aisyah bisa sendiri. Meskipun masih selalu aku dampingi, tetapi Aisyah mulai memahami dan mematuhi beberapa aturan yang aku buat agar Aisyah tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Yah, mandiri adalah salah satu hal penting yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemimpin. Sebelum menjangkau masyarakat yang lebih luas, kemampuan menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi.

4. Yuk, Komunikasi

Sejak dalam kandungan, aku seringkali mengajak Aisyah berdialog sambil aku elus, kemudian aku merasakan tendangan mungil dan aku anggap itu adalah tanda dia memahami perkataanku. Setelah Aisyah lahir, akupun terus-menerus mengajaknya berkomunikasi dengan berbagai cara dan aku memahami jawabannya dari pandangan matanya yang seolah mengungkapkan sesuatu. Hingga bibir mungilnya mampu memanggil aku dengan sebutan “Bunda” aku makin semangat mengajaknya berbicara.

Mengajak Aisyah berbicara, tentang apa saja, menanyainya segala rupa, atau menjawab berbagai pertanyaan spontannya adalah salah satu caraku untuk mendidiknya. Mendidik untuk terbuka, mendengar pendapat orang lain, berdiskusi, hingga belajar untuk mengungkapkan perasaannya, termasuk menyatakan keinginan dan kemauannya. Selain itu, membiasakan diri untuk berkomunikasi dengan Aisyah adalah caraku untuk membuka cakrawala pengetahuannya, mengenal dunia luar dan hal-hal baru yang ingin diketahuinya, mengoptimalkan fungsi otaknya untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya, memupuk rasa percaya dirinya, sekaligus mengajaknya untuk berani berekspresi, mengungkapkan isi hati dan kepalanya.

Saat ini, usia Aisyah hampir 3 tahun, alhamdulillah Aisyah sudah jarang menangis ketika menginginkan sesuatu atau marah-marah ketika keinginannya tidak terpenuhi. Aku selalu berusaha menanamkan dalam diri Aisyah bahwa segala sesuatu bisa menjadi lebih baik ketika diungkapkan, bahwa menangis atau marah-marah tidak akan menyatakan apa-apa dan justru hanya akan membuat Aisyah kecewa, karena aku atau abi tidak dapat menangkap apa-apa kalau Aisyah hanya menangis atau marah saja. Alhamdulillah, perlahan tetapi pasti, Aisyah mulai merasa tangisannya tidak lagi bisa “membeli” apa-apa dan Aisyah pun mulai berbicara ketika menginginkan sesuatu.

Membiasakan diri berkomunikasi dengan Aisyah, memudahkan aku untuk memasukkan berbagai macam sugesti positif yang berperan penting dalam pembentukan karakter dan kepribadiannya. Aku juga terus berupaya meningkatkan kemampuan verbalnya dengan membiasakan Aisyah untuk bersosialisasi. Berkomunikasi juga menjadi salah satu caraku untuk selalu mendekatkan diriku dengan Aisyah, putri semata wayangku, di sela-sela kesibukanku.

Bagiku, berkomunikasi intinya adalah berbicara dan mendengar, tetapi manfaatnya begitu besar. Itulah yang ingin terus aku asah, kemampuan Aisyah dalam mengungkapkan maupun menerima sesuatu yang sangat penting untuk kehidupan sosialnya kelak. Bukankah pemimpin juga harus demikian? Tidak cukup hanya pandai berbicara, tetapi pemimpin juga harus mampu bersosialisasi, peka terhadap lingkungan sekitar, dan mendengar masukan dari orang lain.

5. Nutrisi yang Baik

Untuk dapat menjadi pemimpin, meskipun bukan yang utama, tetapi kecerdasan juga menjadi salah satu faktor pendukung yang penting. Kecerdasan dapat ditingkatkan salah satunya dengan pemilihan nutrisi yang baik. Oleh sebab itu, aku juga perlu memperhatikan kecukupan nutrisi bagi Aisyah, terutama nutrisi otaknya.

Nutrisi untuk kecerdasan dapat bersumber dari makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari. Alhamdulillah, Aisyah bukan tipe pemilih makanan, semua Aisyah suka, terutama udang, tahu bacem, telur, wortel, pohon (sebutan Aisyah untuk kembang kol), labu, jagung, pisang, dan jus melon. Hemm, itu adalah beberapa makanan favorit Aisyah. Bagiku, empat sehat lima sempurna itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi Aisyah. Tidak perlu mahal, asal bervariasi dan seimbang cakupan gizinya.

Selain itu, bagian terpentingnya adalah halal. Yah, halal bahan makanan dan minumannya, juga halal cara mendapatkan dan mengolahnya. Benar-benar harus aku perhatikan, karena halal atau tidak akan berpengaruh pada otak, bahkan pada pembentukan karakter anak. InsyaAllah, sebagai orang tua, aku dan abi akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Aisyah.

6. Doa Terbaik

Sebagai ibu, kita harus bisa memainkan peran apa saja. Menjadi koki, ahli gizi, manajer keuangan, guru privat, hingga petugas kebersihan pun jadi. Akan tetapi, di balik itu semua, kita mengemban tugas mulia, yaitu mendoakan untuk kesuksesan buah hati kita.

Doa dan restu orang tua, terutama ibu, berperan penting untuk kehidupan buah hati kita. Contoh saja, si anak singkong, Chairil Tanjung, atau Jokowi, sang gubernur. Di balik cerita sukses kedua figur pemimpin tersebut, nyatanya tidak pernah lepas dari keikhlasan dan ketulusan Sang Ibu yang selalu mendoakan dengan doa terbaik. Dan tentu masih banyak lagi kisah tokoh-tokoh sukses yang tak lepas dari doa dan restu orang tua, terutama ibu.

Oleh sebab itu, salah satu bentuk dukunganku untuk pemimpin kecilku adalah doa dan restu tiada henti yang senantiasa mengiringi langkah-langkah hidupnya. Doa-doa terbaik, keikhlasan, dan ketulusan seluruhnya untuk Aisyah. Agar kelak, Aisyah benar-benar dapat menjadi pemimpin terbaik dimanapun ia akan mengabdikan dirinya. Yang pasti, Aisyah akan selalu menjadi pemimpin kecil di hatiku dan di hati orang-orang yang menyayanginya.

Demikian, semoga bermanfaat.

Tulisan ini telah diposting pada blog pribadi dengan judul Mendidik Pemimpin Kecil

With Love,

Bunda Aisykha