Mendidik Seorang Pemimpin: It Takes a Village…

Oleh Nian Astiningrum 21 Oct 2013

Dulu semasa mengikuti kuliah Psikologi Perkembangan, dosen saya pernah bercerita bahwa untuk mendidik seorang anak menjadi seorang pribadi yang utuh sungguh bukan pekerjaan yang sederhana. Beliau waktu itu menggambarkan untuk mendidik seorang anak membutuhkan ‘penduduk sebuah desa’, sebagaimana buku karangan Hillary Clinton pada tahun 1996; ‘It Takes a Village: And Other Lessons Children Teach Us.’ Waktu itu, saya merasa cukup dapat menangkap pesan yang disampaikan dosen saya tersebut; namun sekarang pada saat saya menjalani sendiri menjadi seorang ibu, bahwa mendidik seorang anak-anak benar-benar bukan pekerjaan yang sederhana. Ini adalah pekerjaan yang melibatkan begitu banyak aspek, it do takes a village dan ini adalah hal yang bersifat holistik.
 
BAKAT VS LINGKUNGAN
Bagi saya, mendidik anak menjadi seorang pemimpin, berarti mengupayakan segala cara yang mengoptimalkan bakat (aspek genetis) anak saya. Setiap anak itu unik. Sejak masa konsepsi mereka sudah memiliki gen yang membawa potensi masing-masing; potensi pertumbuhan (karakter fisik) dan juga potensi perkembangan (karakter psikologis). Setiap anak, sejak dalam kandungan sudah memiliki blue-print pertumbuhan dan perkembangan masing-masing; bisa menjadi apa kelak pada saat mereka dewasa. ‘Bisa menjadi apa’ bukan ‘akan menjadi apa’ bakat ini hanya bahan baku, sedangkan akan menjadi apa bahan baku ini tergantung bagaimana lingkungan menempanya. Ibaratnya tepung terigu, akan menjadi cake yang lezat atau teronggok begitu saja hingga berbau apek itu tergantung pengolahannya (hanya perumpamaan). Seorang anak bisa saja memiliki bakat untuk memiliki tinggi badan 170 cm, namun karena malnutrisi, bisa jadi dia mentok di 150 cm. Sama halnya dengan seorang anak yang memiliki potensi verbal di atas rata-rata, namun karena kurangnya stimulasi menjadi biasa-biasa saja. Bagaimana, setuju kan dengan pendapat saya? Lalu bagaimana usaha saya mengoptimalkan bakat yang dimiliki Ganesh, berikut yang saya lakukan…
 
Pertumbuhan. Anak yang sehat dan tumbuh optimal sudah pasti harapan setiap ibu, termasuk juga saya. Karena itu, sejak dinyatakan positif hamil, sejak itu juga saya mulai memberikan perhatian ekstra pada asupan nutrisi. Googling-googling dan mencari tahu apa yang baik dan buruk untuk perkembangan bayi dalam kandungan. Dari hasil googling tersebut, mulailah saya mensortir makanan apa saja yang masuk kategori ‘big no!’, sebaiknya dihindari dan baik untuk dikonsumsi. Berikut adalah daftar contoh makanan yang masuk dalam kategori saya tersebut:
 
Kategori Makanan/Zat Ibu Hamil Versi Saya
‘Makanan’ termasuk zat yang masuk ke tubuh lainnya

 

Nah, selanjutnya untuk memastikan kecukupan gizi untuk saya dan bayi dalam kandungan, saya tidak pernah ketinggalan minum susu khusus ibu hamil seperti Lactamil Ibu Hamil. Vitamin dan suplemen yang diberikan dokter kandungan pun, rajin saya konsumsi, namun tentu saja setelah melalui screening dengan bantuan Mr. Google. Jadi konsumen kan harus cerdas ya, jadi sebelum memutuskan untuk mengkonsumsi sesuatu, googling untuk mencari tahu itu harus dilakukan untuk lebih memastikan kebutuhan, keamanan dan efek dari vitamin atau suplemen tersebut.
 
Selanjutnya, setelah lahir, pemberian nutrisi yang baik pun berlanjut baik bagi saya maupun Ganesh. Semua pasti setuju bahwa ASI merupakan makanan terbaik bayi hingga usia enam bulan, dan setelah itu sebisa mungkin dilanjutkan sampai usia dua tahun. Dan saya pun sependapat dengan hal itu. Untuk itu, saya selalu mengupayakan supaya dapat memberikan ASI untuk Ganesh. Caranya, tentu saja dengan memperhatikan kesehatan dan nutrisi saya. Makan makanan bervitamin dan juga ASI booster, seperti daun katuk saya lakukan secara teratur untuk menjaga produksi ASI. Dan saat ini dengan adanya susu untuk ibu menyusui seperti Lactamil Ibu Menyusui cukup membantu saya, karena disamping mengandung berbagai macam nutrisi yang bermanfaat juga mengandung sari daun katuk sebagai ASI booster.
 
 
Selepas sukses program ASI Eksklusif selama enam bulan, selanjutnya saya berkomitmen untuk memberikan asupan nutrisi yang baik pada Ganesh melalui menu MPASI-nya. Untuk mengupayakan hal ini, sebisa mungkin saya mengontrol menu makanan Ganesh; baik dari bahan dan pengolahan, yaitu dengan memasak sendiri. Tidak perlu memasak makanan yang rumit untuk Ganesh, yang penting kaya nutrisi, bersih dan bebas dari bahan pengawet, pewarna serta penguat rasa. Karena saya seorang ibu bekerja; saya menggunakan teknik kukus bahan makanan di pagi hari, yang kemudian diracik menjadi tiga porsi sehingga pengasuh tinggal menghaluskan saja dengan blender. Setelah mulai makan bubur, saya mulai menggunakan slow cooker. Dan pada saat Ganesh mulai makan lebih padat lagi saya hanya memasak di pagi hari dan mengajarkan pengasuh saya untuk memasak menu Ganesh siang dan sore hari.

MPASI Ganesh
Sayuran, buah, biji-bijian
yang diolah dengan teknik mengukus atau slow cooker
dan dihaluskan menggunakan blender

Perkembangan. Disamping pertumbuhan fisik yang optimal, aspek psikis, yaitu perkembangan juga menjadi perhatian saya sebagai seorang ibu. Sekali lagi, setiap anak diciptakan dengan unik dengan berbagai potensi mereka masing-masing. Pada dasarnya, saya berpendapat bahwa sebagai orang-tua, kita berkewajiban untuk memberikan ruang perkembangan yang leluasa untuk anak. Cara pertama yang ditempuh adalah dengan memperlakukan anak dengan cara yang aman dan nyaman. Maksudnya adalah memperlakukan anak dengan lembut, hangat, penuh empati dan perhatian; sehingga sang anak merasa aman untuk mengekspresikan dirinya. Ya, sebagai seorang anak yang tergolong sensitif, saya ingat betul bagaimana saya begitu peka dengan bagaimana orang-tua memperlakukan. Bagaimana sebuah pujian tanpa tuntutan bisa membuat saya begitu bersemangat dan sikap acuh yang dingin bisa membuat saya merasa gagal. Hmm, meskipun kenyataannya tidak semua anak punya kepribadian seperti saya, tapi perlakuan yang lembut, hangat, penuh empati dan perhatian akan menciptakan efek positif bagi mereka. Hal inilah yang sebisa mungkin saya berikan pada Ganesh, agar dia tumbuh menjadi anak yang percaya diri dengan segala potensinya.
 
Lebih lanjut, pemahaman sedini mungkin akan kepribadian anak juga akan membantu kita mengoptimalkan potensinya. Untuk lebih mudahnya, saya menggunakan salah satu Teori Kepribadian Color Code dari Dr. Taylor Hartman2. Teori ini membagi kepribadian menjadi empat kategori; yaitu merah, biru, putih dan kuning; dimana masing-masing kepribadian memiliki karakteristik tersendiri berdasarkan motif perilakunya. Merah motif kekuasaan, biru motif keintiman, putih motif kedamaian dan kuning kesenangan. Setiap karakteristik kepribadian ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama untuk mencapai hasil yang optimal.
 
 
Karakteristik Anak Berdasarkan Teori The Color Code
Pemahaman tentangnya akan mempermudah kita memperlakukan anak dengan tepat

Berdasarkan pemahaman akan karakteristik anak tersebut, kita akan bisa memperkirakan reaksi anak dengan perlakuan kita. Misalnya seorang anak dengan karakteristik merah, sah saja sedikit ‘dihina’ untuk memancing semangatnya. Sementara untuk anak dengan karakteristik biru, hal ini harus dihindari karena akan membuatnya semakin down dan sebaliknya kita harus lebih banyak berempati dan mengurangi tuntutan agar si biru bisa tampil optimal.
 
Menurut pengamatan saya sebagai seorang ibu, Ganesh termasuk anak dengan karakter merah dengan segala kekerasan kepala, keskeptisan dan pemberontakannya. Hmm, menghadapi hal ini, saya berusaha mengarahkannya dengan memberikan penjelasan-penjelasan logis sederhana yang dapat dipahaminya. Selama tindakannya tidak berbahaya, saya juga cenderung sekedar mengamati karena memang Ganesh selalu ingin melakukan semuanya ‘cendilian!’ daripada dibantu. Selain itu, saya juga berusaha membangun reputasi di mata Ganesh dengan bersikap lembut dan memberikan informasi yang benar agar dia mau lebih mendengarkan nasehat-nasehat saya.
 
Nah, disamping memperhatikan kepribadian anak; sedini mungkin kita juga berusaha menggali talenta dan minatnya untuk dapat mengembangkannya sejak dini. Talenta dan minat bisa dilihat dari kebiasaan sehari-hari. Misalnya pada Ganesh yang menurut saya cukup berkembang di bidang verbal yang terlihat sejak usia 13 bulan, dimana dia sudah mampu mengucapkan berbagai kata. ‘Ceriwis’, itulah kata yang tepat untuk menggambarkannya :D. Untuk itu kami selalu berusaha menjadi partner ngobrol-nya setiap waktu, karena Ganesh memang memiliki keinginan yang tinggi untuk berbicara. Selain itu, Ganesh juga sangat menikmati pengamatan di alam; terlihat dari kesukaannya jalan-jalan sembari mengamati berbagai tumbuhan dan hewan. Hmm, saya sempat berpikir mungkin dia nantinya akan menyukai bidang biologi. Yah, talenta dan minat ini memang baru suatu tanda akan talenta dan minat lain yang mungkin lebih spesifik nantinya dan saat ini kami sekedar berusaha memfasilitasinya supaya bisa berkembang optimal.
 
 
Ganesh Mengamati Bekicot
Senang mengamati tumbuhan dan binatang disekitarnya
Mungkin dia seorang ahli biologi masa depan :D

PENANAMAN NILAI-NILAI KEBAIKAN
Ingat penggalan syair sebuah lagu qasidah tahun 80-an yang dilantunkan oleh Hj. Nur Asiah Jamil sebagai berikut: “Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa laksana mengukir di atas air.” Penggalan syair lagu tersebut mengingatkan saya bahwa masa kecil merupakan waktu yang paling krusial untuk pembelajaran anak, terutama berkaitan dengan nilai-nilai kebaikan. Mendidik seorang anak memang sulit, bagaikan mengukir di atas batu, harus telaten dan tekun, namun setelah nilai tersebut tertanam, maka dia akan menetap dalam diri anak sepanjang hidupnya. Berbeda dengan menasehati orang dewasa, mungkin mudah saja orang tersebut akan merubah perilakunya, namun mudah saja perilakunya kembali berubah seperti semula, bagaikan mengukir di atas air. Karena itulah, saya selalu berupaya menanamkan nilai-nilai kebaikan pada Ganesh sedini mungkin melalui interaksi sehari-hari dan juga dengan berusaha menjadi role model yang baik untuknya.
 
Pendidikan Moral. Moral yang baik, menurut saya adalah karakteristik pemimpin yang paling penting. Kenapa demikian? Kita tentu melihat betapa banyak permasalahan yang dihadapi masyarakat saat ini; mulai dari masalah sampah, pendidikan, ekonomi dan kawan-kawan, yang nota bene semuanya itu membutuhkan kepedulian atau moral yang baik untuk menyelesaikannya. Keahlian saja tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut, tanpa adanya tujuan yang baik yang berawal dari moralitas kita. Menurut saya, sebuah keahlian tanpa moralitas akhirnya hanya akan berakhir pada penyelesaian masalah sebagai sebuah komoditas bukan dedikasi. Pemimpin seperti itu, tentu tidak akan mampu secara optimal menyelesaikan permasalahan yang dihadapi negeri ini.
 
Nah, lalu bagaimana mengajarkan moralitas pada anak? Jawabannya adalah melalui interaksi sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari tentu banyak situasi yang bisa kita manfaatkan untuk membantu mendidik moral anak, misalnya:
 
  1. Kepedulian pada lingkungan dengan mengajak anak untuk membuang tissue bekasnya di tempat sampah.
  2. Welas asih dengan memintanya berbagi makanan atau mainan dengan temannya. Misalnya seperti ini, “Ganesh, temennya dipinjemin mainannya ya… Kasihan kan, dia ga punya mainan kaya Ganesh.”
  3. Tepa selira, misalnya pada saat dia menjambak saya maka saya katakan, “Ganesh, dijambak itu sakit lho. Ganesh ga mau kan dijambak juga? Kalo gitu jangan jambakin orang ya…”
  4. Menghargai orang lain, misalnya pada saat dia bermain dengan baju yang sudah dilipat oleh ART, saya mengatakan, “Ganesh, kasihan Wawak lho… Kan capek nyetrikanya… Masa sama Ganesh diberantakin gini.”
Selanjutnya, disamping nilai-nilai di atas, akan ada banyak lagi nilai moral yang bisa diajarkan seiring bertambahnya kedewasaan Ganesh. Tugas kita sebagai ibu, adalah untuk bisa peka dengan situasi yang ada di lingkungan untuk bisa memanfaatkannya. Serta juga, kreatif untuk menciptakan situasi yang membantu proses belajar, misalnya melalui permainan. Misalnya permainan mobil mengantri di SPBU untuk mengajarkan anak budaya mengantri.
 
 
Kebiasaan Baik. Kebiasaan baik sesungguhnya dekat dengan moral yang baik, hanya saja kebiasaan baik mungkin lebih dangkal karena tidak berkaitan dengan hati nurani (baik/jahat). Kebiasaan baik menurut saya disini misalnya adalah kebiasaan makan makanan sehat, menjaga kebersihan tubuh, menjaga kerapian dan sebagainya. Kebiasaan-kebiasaan baik ini akan menjaga anak untuk hidup sehat dan penampilannya. Misalnya saja jika anak terbiasa untuk makan makanan yang rendah gula dan garam dan terbentuk preferensi citarasa demikian, maka menurunkan resikonya akan penyakit hipertensi dan diabetes di masa depan. 

Menu Ganesh
Hasil olahan sendiri
untuk memastikan kebersihan dan nutrisinya

Nah, untuk membiasakan Ganesh dengan hal-hal tersebut caranya tidak lain dengan mengajak anak melakukannya secara rutin dari hari ke hari, misalnya yang saya terapkan pada Ganesh:
  1. Makan makanan sehat, dengan membiasakan Ganesh pada makanan rumahan, dengan kadar gula dan garam yang rendah dan tanpa MSG. Menjaga Ganesh supaya tidak jajan di luar yang tidak terjamin kebersihan dan keamanannya, serta seringkali terlalu manis atau gurih.
  2. Menjaga kebersihan tubuh, dengan membiasakan mandi dua kali sehari, mencuci tangan setelah bermain dengan hewan peliharaan atau akan makan, dan sebagainya.
  3. Menjaga kerapian, misalnya dengan membiasakan Ganesh merapikan mainan setelah digunakan.
Dalam menanamkan kebiasaan baik sesungguhnya sama sekali tidak rumit, hanya saja membutuhkan kesabaran dan konsistensi kita. Karena itulah, peran kita sebagai seorang ibu untuk mengupayakan bahwa anak kita menjalani hari-harinya dengan penuh pembelajaran yang menyenangkan, baik untuk menanamkan moral maupun kebiasaan baik. Saya, sebagai seorang ibu bekerja, cukup beruntung dengan lokasi kantor yang dekat, sehingga memungkinkan saya memantau keseharian Ganesh pagi hari sebelum ke kantor, pada saat istirahat siang dan sepulang kerja. Selebihnya, saya berusaha memberikan pengertian pada pengasuh tentang cara asuh yang saya terapkan pada Ganesh, sehingga ada keselarasan antara perlakuan saya dan pengasuh.
 
IT TAKES A VILLAGE
Jaman dulu sekali, pada saat lingkungan kita masih sebatas kemana kaki dan kuda dapat mengantarkan kita, kendali kita pada lingkungan yang mempengaruhi pada perkembangan anak terhitung masih besar. Berbeda dengan sekarang, dengan adanya TV, internet, media cetak dan sebagainya; bisa dipastikan bahwa ada semakin banyak hal yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak kita; baik secara positif dan negatif. Derasnya arus informasi, di satu sisi akan membuat anak menjadi lebih kritis, karena dia akan cenderung membandingkan informasi-informasi yang ada sebelum memutuskan informasi mana yang akan diikutinya. Sedangkan di sisi lain, ini berarti ada celah bahwa anak akan terpengaruh dengan informasi yang tidak baik. Hmm, lalu bagaimana caranya agar anak kita mendapatkan dampak positif dari lingkungan dan bukan sebaliknya? Berikut yang saya lakukan pada Ganesh…
 
Memilih Lingkungan yang Supportif. It takes a village, merupakan pepatah Afrika yang menggambarkan bahwa membutuhkan sebuah komunitas untuk membesarkan anak menjadi seorang individu yang utuh. Dengan kata lain, seorang anak akan tumbuh menjadi dewasa secara optimal jika seluruh komunitas mengambil peran untuk membesarkan anak3. Di rumah, bisa saja saya mengontrol buku apa yang dibacanya atau tayangan yang dilihatnya. Namun, hal itu tentu tidak bisa saya lakukan sepenuhnya di luar rumah. Sebagai anggota masyarakat, saya juga tidak terlalu memilih lingkungan yang steril untuk anak saya. Tapi, meskipun demikian, saya masih sedikit banyak menghindarkan Ganesh dari pengaruh negatif, apalagi sekarang usianya masih 2 tahun 3 bulan. Caranya, yaitu dengan mengajak Ganesh bermain ke lingkungan yang supportif untuk perkembangannya; misalnya di sekitar saya adalah TK yang ada di samping rumah, rumah teman sebayanya atau jalan-jalan melihat sapi dan pepohonan. Ya, saya cukup beruntung tinggal di lingkungan yang tergolong pedesaan.
 
 
Ganesh Senang Bermain Di Sekolah Dekat Rumah
Beruntung pihak sekolah mengijinkan Ganesh bermain disana
Walaupun tidak belajar,
lingkungan sekolah memberikan pengaruh yang baik untuknya

Selanjutnya, seiring bertambahnya usia Ganesh, hingga memasuki usia sekolah, maka saya pun memiliki keinginan menyekolahkan Ganesh di sekolah yang selain peduli pendidikan akademis, juga fokus terhadap perkembangan moral dan spiritual anak. Sebuah lingkungan sekolah yang sesuai dengan ritme belajar Ganesh nantinya juga, sehingga Ganesh merasa nyaman serta potensinya dapat berkembang optimal. Masa itu mungkin masih cukup lama ya, jadi untuk sekarang saya baru dalam tahap mencari dan membandingkan berbagai sistem yang ditawarkan beberapa sekolah yang ada, sembari juga mengamati perkembangan karakter Ganesh.
 
Membangun Kredibilitas. Faktanya, meskipun berusaha memilih lingkungan yang supportif untuk perkembangan anak, kita tetap tidak bisa memblokir sepenuhnya informasi yang diterima anak. Apalagi nanti jika anak kita sudah menginjak usia sekolah. Lalu bagaimana solusinya? Menurut saya, sebagai ibu, kita harus membangun kredibilitas di mata anak. Kita harus bisa membuat anak berpikir bahwa kita adalah ibu yang bisa dipercayai dan bisa memberikan informasi yang dapat diterimanya. Caranya adalah (lagi-lagi) dengan memperlakukan anak dengan penuh empati dan pengertian, serta juga selalu meng-up-grade pengetahuan, sehingga bisa menjadi sumber informasi yang menarik dan terpercaya bagi anak. Untuk saat ini usaha konkret yang saya lakukan untuk Ganesh diusianya saat ini adalah:
 
  1. Bersikap lembut, penuh empati dan pengertian agar Ganesh merasa nyaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan saya.
  2. Banyak membaca dan mencari informasi berkaitan dengan tumbuh kembang anak dan juga bagaimana ‘dunia luar’ saat ini.
  3. Mencari tahu lingkungan bermain Ganesh, sehingga pada saat bersama kami bisa bercerita tentang kegiatan Ganesh hari itu, yang saya lewatkan karena bekerja.
  4. Bercerita kepada Ganesh tentang cerita-cerita ringan yang membuatnya tertarik dan ingin tahu, supaya dia merasa bahwa saya adalah ibu yang banyak tahu :D
  5. Menjawab pertanyaan Ganesh dengan informasi yang benar dan dapat diterima oleh logikanya.
OK, begitulah kira-kira jawaban saya akan pertanyaan “Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil.” Hmm, ternyata cukup panjang juga ya… dan akan semakin panjang dengan perkembangan Ganesh nantinya. Iya, menjadi ibu memang sebuah peran yang penuh tanggung-jawab, karena kitalah orang terdekat bagi seorang anak sejak dia masih ada dalam kandungan. Idealnya, kita dapat mempertahankan kondisi ini seterusnya, agar dapat mengawal anak kita menjadi pribadi yang dewasa dan utuh, dengan memberikan kebutuhan fisik dan psikis yang terbaik untuk perkembangannya. Tidak berlebihan rasanya saya berpendapat bahwa ibu memiliki peran penting dalam kemajuan suatu bangsa, karena di tangan ibulah anak-anak dapat tumbuh menjadi pemimpin-pemimpin yang hebat. Saya bangga menjadi seorang ibu :)
 

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog writing competition dengan tema “Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil” yang diselenggarakan oleh Nutrisi Untuk Bangsa.


With Love,
Nian Astiningrum
 
Referensi:
 
  1. Tabloid-Nakita.com. (07-08-2013). Kosmetik Aman untuk Ibu Hamil. http://www.tabloid-nakita.com/read/1755/kosmetik-aman-untuk-ibu-hamil. Diakses tanggal 18 Oktober 2013.
  2. Hartman, T. 2007. The People Code. New York: Simon & Schuster.
  3. Wikipedia.com. 2013. It Takes A Village. http://en.wikipedia.org/wiki/It_takes_a_village. Diakses tanggal 20 Oktober 2013.