Menularkan Kebiasaan

Oleh Dewi Kartika Rahmayanti 08 Mar 2012

Ketika ada yang bertanya, pengalaman perjalanan apa yang tak akan pernah bosan saya ceritakan? Maka dengan pasti saya akan bercerita tentang kehamilan. Ya, kehamilan buat saya adalah momen yang di dalamnya ada rangkaian perjalanan, metamorfosa, dan tentunya proses belajar itu sendiri.

Beberapa kali saya mencatatkan cerita tentang kehamilan saya itu, tapi sepertinya selalu ada yang kurang dan saya ingin kembali menuliskannya. Selalu begitu, tak pernah bosan.

Seperti layaknya beberapa perjalanan nekad yang saya lakukan ke tempat - tempat asing, seperti itu pula kehamilan saya. Tanpa tour guide dan hanya berbekal sebuah peta. Sama persis. Kehamilan sayapun tanpa didampingi oleh orang tua karena kami berbeda kota, hanya berbekal tumpukan buku kesehatan, segala how-to-books tentang kehamilan, dan tentunya internet-yang-segalanya-ada.

Dari situ saya mendapatkan informasi yang untuk menjaga kesehatan saya selama hamil (dos & don’ts) dan juga sedikit bekal tentang persalinan. Karena kehamilan saya tergolong mudah, saya tak mengalami morning sick dan kegiatan saya tak terganggu, dari segi makanan, saya tak melakukan pantangan. Dari sebelum hamilpun sebenarnya saya sudah menjaga pola makan, terutama agar tak overweight :D , jadi ketika hamil tinggal menyesuaikan sedikit. Saya tak lagi makan junkfood dan minum soft drink ( hingga sekarang, kecuali tak ada pilihan :D), memperbanyak sayuran, makan buah paling tidak 2 macam sehari dan entah pengaruh hormon atau apa (oiya, saya tak percaya dan tak mengalami ngidam), ada waktu saya sangat bosan makan nasi putih. Jadi terkadang saya mengganti nasi dengan kentang, sereal, ketan, ubi atau jagung. Di awal kehamilan saya berhenti minum kopi, tapi semakin besar kandungan, godaan ngopi datang lagi, tapi saya mengurangi porsinya kok, karena konon kafein menganggu asupan makanan janin dan membuatnya gelisah. Oiya, selama hami saya juga tetap konsumsi susu untuk ibu hamil, meski beberapa orang bilang itu tidak perlu kalau kita cukup makan makanan bergizi, tapi saya ingin memberikan yang maksimal ke anak saya kelak. Mungkin saya merasa sehat, tapi bagaimana jika ternyata saya kekurangan gizi tanpa saya sadari?

Kondisi pekerjaan yang lumayan mobile dan traveling sempat membuat saya mengeluarkan flek saat bulan - bulan pertama, tapi untunglah dokter kandungan memberikan cukup informasi, menyarankan saya bed rest beberapa hari dan tentunya memberikan saya supplemen vitamin, terutama asam folat dan zat besi, sekaligus penguat janin. Setelah melewati trimester pertama keadaan membaik, saya tak lagi mengeluarkan flek, dan kembali bisa traveling hingga usia kandungan sampe 7 bulan. Setelah itu, saya memutuskan untuk melahirkan di kota orang tua, yang sangat jauh dari jangkauan internet. Syukurlah persalinan lancar, berat baby 3,3kg dg panjang 50cm. Saya sangat menjaga biar tidak overweight selama hamil sehingga tidak melahirkan bayi yang besar dan beresiko diabet.

Ketika di rumah ortu, masalah baru muncul, saya tak membekali diri dengan pengetahuan cukup tentang menyusui. Air susu saya kurang meskipun sudah makan banyak sayur, minum susu menyusui, suplemen ASI. Keadaan diperparah dengan mitos - mitos seputar menyusui yang memborbardir saya sebagai ibu baru, seringkali menggoyahkan. Akibatnya, setelah si kecil lahir, saya hanya bisa memberikan ASI ekslusif sampai usianya 4 bulan, setelah itu campur dengan susu formula. Meskipun begitu saya tetap menyusuinya sampai usia 20 bulan dan baru menyapihnya.

Dengan apa yang telah saya alami selama hamil dan membesarkan si kecil, saya percaya, apa yang saya lakukan dan apa yang saya konsumsi membawa dampak padanya. Mulai dari kebiasaan-kebiasaan sepele hingga gaya hidup dan pola makan. Si kecil lebih adaptif dan nyaman untuk melakukan perjalanan dari naik mobil, kereta, pesawat. Selain karena saya hobi jalan - jalan, saya juga sudah membawanya bepergian dari usianya 2 bulan. Selain itu, pola makannya pun seperti saya dan bapaknya. Sejak pertama memperkenalkan MPASI, dia lebih menyukai bubur buatan rumah daripada yang instan. Tidak memilih jenis sayuran tertentu, apa saja dia bisa makan. Dan terlebih lagi, sangat suka buah serta tidak suka ngemil. Benar - benar fotokopi deh! Saya percaya, anak adalah cerminan orang tua. Jika ingin anak sehat, orang tuapun harus sehat. Gaya hidup dan pola makan adalah kebiasaan, jadi jangan mengharapkan anak akan mempunyai gaya hidup dan pola makan yang sehat jika orang tua tak mau memulai dari dirinya sendiri. Tidak mudah memang, tapi mengubah gaya hidup dan pola makan akan berdampak pada generasi selanjutnya. Saya ingin anak saya kelak juga selalu sehat dan menularkan gaya hidup sehatnya ke anak - anaknya.

Begitulah cerita perjalanan trimester ke trimester kehamilan saya hingga kini si kecil berusia 23 bulan. Perjalanan panjang yang selalu ingin saya ceritakan lagi dan lagi. :)

*catatan : tulisan ini diikutsertakan ke Lomba Blog “Kesehatan Bunda, Kesehatan Kita”