Menyiapkan Calon Pemimpin Kecil Sejak Dini

Oleh Kurnia Dewi 21 Oct 2013

Tanpa ibu, aku tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Ibu adalah sumber inspirasiku. Semenjak kecil, aku ingin menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku. Menjadi seorang wanita sungguh merupakan anugerah bagiku. Aku dapat mengandung, melahirkan, membimbing, membesarkan anakku dan menjadi ibu bagi mereka. Melihat mereka tumbuh besar dan dewasa dalam sikap dan perbuatan merupakan kebahagiaan terindah untukku.

Menurutku, seorang ibu berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan seorang anak, baik dalam aspek fisik maupun psikis. Oleh karenanya, sejak dini aku mempersiapkan banyak hal untuk pemimpin kecilku. Salah satunya adalah dengan belajar dan terus membekali diriku dengan ilmu pengetahuan dari buku maupun pengalaman orang lain.

Sejak awal, aku ingin mempersiapkan keluarga yang bahagia untuk buah hatiku. Aku memilih calon pendamping yang memahami dan sevisi denganku, yaitu membentuk keluarga yang harmonis dan bahagia. Aku berharap rumah tangga yang kubina dapat menjadi rumah yang indah untuk anakku.

Ketika aku hamil, aku sadar kalau aku harus mempersiapkan si kecil untuk menjadi calon pemimpin. Asupan gizi kunilai sangat penting untuk tumbuh kembangnya selama ia masih dalam kandungan. Banyak hal yang kuperhatikan, antara lain makan makanan yang bergizi, minum susu ibu hamil, memperbanyak porsi buah dan sayur serta menjauhi pantangan-pantangan ibu hamil, seperti minuman bersoda dan mie instan. Selain itu, rajin kontrol ke dokter kandungan juga kuanggap tak kalah penting untuk memastikan tumbuh kembangnya. Vitamin dan suplemen dokter tidak pernah absen kuminum selama kehamilan. Semasa kehamilan, aku menjaga kesehatan tubuhku dan si kecil dengan rajin senam kehamilan dan jalan pagi. Menjaga emosiku juga kulakukan untuk membuatnya nyaman. Selama masa kehamilan, aku membacakan dongeng, mendengarkan musik klasik dan berbincang dengan si kecil. Hal itu semakin mendekatkanku dengannya. Selain itu, aku juga membekali diri dengan pengetahuan untuk merawat si kecil ketika ia lahir nanti. Aku berkomitmen untuk melakukan persalinan normal agar dapat segera merawatnya setelah ia lahir.

Dalam nama anak ada doa dan harapan orang tua. Aku berharap si kecil dapat menerangi dan menebarkan cinta kasih untuk sesamanya. Oleh karenanya, kami memberikan nama sederhana untuknya “Karuna Cahyono”. Semoga ia dapat menjadi membawa cinta kasih dan cahaya untuk keluarga, sesama dan masyarakat.

Setelah Karuna lahir, aku selalu berusaha untuk menjadi ibu yang baik untuknya. Aku belajar merawatnya sendiri di sela kesibukanku mengajar. Ibuku selalu ada untuk mendampingiku merawat Karuna. Aku memberikan ASI eksklusif untuknya. Jiwa keibuanku tumbuh semakin dalam dengan menyusuinya. Ketika menyusui aku makan makanan yang bergizi lebih banyak untuknya. Aku memperbanyak makan buah, sayur dan ikan. Ketika asupan ASIku tidak mencukupi, aku memberikan tambahan susu formula untuknya. Aku merasa sangat bahagia dapat merawatnya sendiri, walaupun tangan ibu masih terus membimbingku tiada henti. Aku baru memahami besarnya kasih ibu untukku setelah aku melahirkan Karuna. Aku tak segan harus mencuci popoknya dan membersihkan BABnya sendiri. Aku memperhatikan kebersihan tubuh dan lingkungannya tumbuh. Aku juga berusaha untuk memberikan imunisasi sesuai dengan petunjuk dan jadwal dokter.

Setelah ia menginjak 6 bulan, aku memberikan MPASI untuknya sehingga nutrisi dan asupan gizi untuknya memadai. Nutrisi yang seimbang sangat penting untuk tumbuh kembangnya. Oleh karenanya, aku terus memperhatikan asupan gizi dalam makanannya. Sayur, jus buah, kuah daging dan ikan kuolah sesuai usianya sebagai makanan pendamping untuknya. Aku berharap dengan asupan nutrisi yang bergizi, otaknya dapat berkembang dengan baik. Aku mengajaknya berdoa dan bersyukur, berbincang, bermain dan belajar bersama untuk mendekatkan emosi kami. Semoga ia dapat tumbuh sehat dan kuat, baik dari segi jasmani maupun rohani.

Sejak dini, aku mengajarinya bagaimana bersyukur kepada Tuhan atas anugerah dan berkat yang diberikanNya untuk dirinya. Kubacakan doa syukur di sampingnya setiap malam sebelum tidur dan ketika bangun pagi walaupun ia hanya memandangi gerak bibirku dan mendengarkan untaian harapan dalam doaku. Aku berharap nantinya ia dapat memiliki iman dan kepercayaan kepada Tuhan sebagai benteng bagi dirinya dari pengaruh luar yang tidak baik. Dengan adanya iman dan takwa, ia dapat melandasi setiap tindakannya dengan kejujuran dan keadilan. Dan ia pun dapat memiliki keberanian untuk selalu membela kebenaran.

Semenjak ia berusia 1 tahun, aku membacakan dongeng bergambar untuknya agar ia dapat mengenal banyak kosakata dan gambar baru. Aku berharap dengan membacakan cerita untuknya dapat merangsang rasa keingintahuannya. Dengan adanya rasa ingin tahu, kelak ia akan gemar membaca dan bertanya. Untuk melatih kreativitas dan imajinasinya, aku mengajaknya bermain bersama, menggambar dan mencorat-coret dengan stabilo, melipat kertas, membuat origami, menempel bentuk, menumpuk kaleng susu bekas, bernyanyi dan membaca buku. Mengajarinya mengenal benda-benda yang ada di sekelilingnya dan mengajaknya menyapa orang-orang yang ditemuinya membuatnya akrab lingkungan sekitar. Aku ingin ia tumbuh menjadi anak yang ramah dan murah senyum agar kelak ia mudah bersosialisasi dengan orang lain.

Ketika Karuna masih belajar berjalan, ia sering terjatuh. Walaupun begitu, ia terlihat sangat bersemangat. Ia jarang menangis karena jatuh waktu belajar berjalan. Kubantu ia berdiri kembali dan mengusap lututnya yang terbentur karpet lantai. Ia pun tersenyum senang. Aku melihat keinginannya untuk menapakkan kakinya di bumi ini sangat besar, sebesar keinginanku melihatnya berjalan dengan lancar.

Sekarang Karuna berusia 18 bulan. Aku mulai melatih kemandiriannya dimulai dari hal yang sederhana. Aku akan mengajarinya untuk makan sendiri. Ia sudah dapat makan sendiri, walaupun masih tercecer dan belepotan. Aku percaya seiring dengan berjalannya waktu, ia akan dapat makan sendiri dengan bersih. Aku juga mengajarinya buang air kecil di toilet. Sedikit demi sedikit, ia mulai tidak ngompol. Walaupun terkadang ia masih saja ngompol, aku tak putus asa. Ketika ia mulai menirukan orang, aku memberikan ruang untuknya mencoba. Ia mencoba memegang sikat giginya sendiri dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Tangannya bergerak ke dalam dan ke luar, menggosokkan sikat mungilnya ke gigi-gigi susunya. Di usianya yang masih 18 bulan, ia sudah bisa sikat gigi sendiri, walaupun sering kali odol rasa buah dan air kumur ikut tertelan.

Perjalanan Karuna masih panjang. Banyak rencana yang ingin kuwujudkan bersamanya seiring dengan bertambahnya usianya nanti. Ibu mana yang tidak bangga melihat anaknya tumbuh menjadi seorang yang berjiwa besar? Membantu teman yang kesulitan, menyebrangkan nenek tua, menolong burung yang terluka, jujur dalam bertindak dan bertutur kata, berani mengakui kesalahan dan banyak hal mulia lainnya. Aku terinspirasi dari ibuku dan banyak ibu-ibu hebat lainnya yang berbagi cerita dan pengalaman lewat tulisan di dunia maya.

Kutipan dari Dorothy Low Nolte, menjadi pengingat untukku ...

Jika anak banyak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan

Jika anak banyak dimusuhi, ia akan terbiasa menentang

Jika anak dihantui ketakutan, ia akan terbiasa merasa cemas

Jika anak banyak dikasihani, ia akan terbiasa meratapi nasibnya

Jika anak dikelilingi olok-olok, ia akan terbiasa menjadi pemalu

Jika anak dikitari rasa iri, ia akan terbiasa merasa bersalah

Jika anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi penyabar

Jika anak banyak diberi dorongan, ia akan terbiasa percaya diri

Jika anak banyak dipuji, ia akan terbiasa menghargai

Jika anak diterima oleh lingkungannya, ia akan terbiasa menyayangi

Jika anak tidak banyak dipersalahkan, ia akan terbiasa senang menjadi dirinya sendiri

Jika anak mendapat pengakuan dari kiri-kanan, ia akan terbiasa menetapkan arah langkahnya

Jika anak diperlakukan dengan jujur, ia akan terbiasa melihat kebenaran

Jika anak ditimang tanpa berat sebelah, ia akan terbiasa melihat keadilan

Jika anak mengenyam rasa aman, ia akan terbiasa mengandalkan diri dan mempercayai orang sekitarnya

Jika anak dikerumuni keramahan, ia akan terbiasa berpendirian : “Sungguh Indah Dunia Ini!”

Aku akan berusaha agar Karuna dapat tumbuh dalam lingkungan yang penuh pengertian, dorongan, pujian, maaf, kejujuran, keadilan, rasa aman dan keramahan. Aku akan memberikan contoh dan teladan yang baik untuknya, baik dalam ucapan dan perbuatan. Aku akan terus belajar untuk menjadi ubu yang baik untuknya. Ini adalah beberapa rencanaku untuk Karuna agar ia dapat merasakan lingkungan rumah sebagai surga untuk tumbuh kembangnya:

  1. Memperhatikan asupan gizinya. Olahraga terkenal filosofinya “mensana en coperosano”, “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yg kuat”. Dengan gizi yang memadai dan lengkap, Karuna akan tumbuh sehat dan kuat. Ia akan dapat bermain, belajar dan terus bereksperimen tanpa takut sakit.
  2. Selalu mencintai dan menerima dirinya apa adanya. Aku akan meluangkan waktu bersamanya, mengajarinya banyak hal, bermain dan membaca buku dongeng dengannya, mendengarkan celotehan, memberikan kecupan dan pelukan serta selalu memberikan ucapan selamat pagi dan selamat tidur untuknya. Aku tidak akan bosan mengatakan, “Ibu sayang kamu, Nak ...”
  3. Mengembangkan kreativitasnya. Aku akan merangsang kreativitasnya dengan bermain, bernyanyi ataupun menggambar. Aku akan memberikan permainan edukatif sesuai dengan usianya. Aku akan menghindari penggunaan gadget di usianya yang masih balita karena kurang baik untuk penglihatan dan sosialisasinya. Jika usianya sudah cukup, aku akan memberikan bimbingan agar penggunaan teknologi informasi nantinya tepat guna.
  4. Aku tidak akan membandingkan dirinya dengan anak lain. Aku akan selalu percaya, ia istimewa dan unik. Ia memiliki bakat dan keunikannya sendiri yang tidak pernah dimiliki orang lain. Aku akan mengajarinya untuk bercermin dari dirinya sendiri. Aku akan memberikan ruang untuknya untuk belajar, tumbuh dan berkembang apa adanya di bawah pengawasan dan arahanku. Aku akan bersamanya menggali bakat dan minatnya dan terus mengembangkannya.
  5. Membantunya membina hubungan yang baik dan harmonis dengan keluarga dan tetangga. Hal sederhana yang dapat kuajarkan adalah dengan menyapa dan membantu mereka. Aku berharap ia dapat ikut merasakan memiliki banyak orang yang menyayangi dan memperhatikannya.
  6. Menciptakan rasa aman untuknya dengan mengutamakan waktu untuk keluarga. Ia akan merasakan bahwa aku akan selalu ada di waktu dirinya dalam masalah dan membutuhkan bimbingan. Dengan adanya rasa aman, Karuna mau mencoba hal baru tanpa dibayang-bayangi rasa takut. Ia akan bangkit jika menghadapi kegagalan dan terus mencoba sampai mengalami keberhasilan. Aku akan memberikan dorongan untuknya untuk mengembangkan dirinya dan berkata ‘tidak’ untuk pengaruh negatif.
  7. Membuatnya merasa dihormati dan dihargai. Aku akan mendengarkan cerita dan keluhannya dengan penuh perhatian. Ia akan merasa kuhargai. Dengan demikian, ia dapat menghargai dirinya sendiri. Ia akan belajar bahwa apa yang dipikirkan, dirasakan dan dikerjakannya adalah sesuatu yang penting. Ia pun dapat memupuk rasa hormat terhadap diri sendiri dan orang lain. Selain itu, ia akan memiliki rasa percaya diri. Aku akan memberikan pujian untuk membesarkan hatinya. Memberikan pujian dan motivasi dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam dirinya. Dengan mengembangkan rasa percaya diri dalam diri Karuna, ia akan mudah bersosialisasi dengan temannya. Aku akan mendorongnya menghadapi tantangan dan resiko yang wajar dalam mengambil keputusan. Aku akan memberikan pengarahan untuknya. Aku akan memberikan kesempatan untuknya belajar dari kesalahan yang dilakukannya. Aku akan meyakinkannya bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan yang tertunda. Aku akan mengingatkannya untuk selalu bersemangat dan pantang menyerah dalam menjalani hidup ini.
  8. Melatih kemandirian dan tanggung jawabnya. Ketika ia duduk di bangku TK, aku akan melatih kemandiriannya dengan mengajarinya hal-hal yang sederhana, seperti membersihkan tempat tidur dan mengikat tali sepatu sendiri. Aku akan mengajarinya lewat contoh. Aku akan mengajarinya, membimbingnya dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya. Aku berharap hal itu akan melatih rasa tanggung jawabnya sendiri. Aku akan memberikan kesempatan untuknya untuk mengerjakan PR dan mendapatkan hasil atas kemampuannya sendiri. Setelah ia agak besar nanti, aku akan memberikannya ruang untuk mengaktualisasikan dirinya. Mendorongnya untuk aktif berorganisasi, seperti OSIS dan ikut dalam kegiatan sosial.
  9. Mengajarinya untuk lapang dada, berani menerima kekalahan dan berani mengakui kesalahan serta mau memaafkan orang lain akan membuatnya lebih dewasa. Tiada manusia yang sempurna, begitu pula denganku ataupun Karuna. Aku tidak akan memarahinya jika ia jujur dan berani mengakui kesalahannya. Aku akan menekankan kepadanya bahwa berbuat salah itu manusiawi, mengakui kesalahan itu berbudi. Akan kutanamkan dalam dirinya bahwa kejujuran adalah permata jiwa yang lebih berharga dari materi apapun di dunia.

Untuk melaksanakannya, aku akan meminta dukungan dari keluarga untuk memotivasi dan mengingatkanku untuk terus belajar menjadi ibu yang baik untuknya. Aku harus terus belajar untuk menjadi ibu yang baik.

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mau berbagi pengalaman. Terima kasih pula kepada pihak Sari Husada yang melek akan gizi di Indonesia dan menyediakan sarana untuk berbagi pengetahuan.