Merepih Zaman dan Bangkitnya Perempuan di Tanah Pengharapan

Oleh Heru Prasetyo 26 Sep 2013

Rumah Berkesan teduh diperempatan jalan itu nampak tidak nampak berubah. Kecuali hanya ubin yang dulunya lusuh beralaskan tanah, kini sebagiannya tergantikan dengan beberapa keramik murah. Sama seperti dulu ketika pemiliknya bertandang di dusun Sidodadi ini. Hertin, memilih memisahkan jarak dari keberadaan mertua dengan harapan membeli sepetak pekarangan kecil yang bisa dijadikan tempat tinggal.

Selangkah masuk kedalam, disapa oleh suami beserta 3 orang anaknya yang masih kecil. Riuh sorak anak kecil yang berada di rumah itu nampak tidak menganggu aktivitasnya sedikitpun. Perempuan dengan talenta sederhana ini juga tetap ramah menerima kedatangan siapa saja yang berkunjung.

Tak ada yang istimewa dari rumah tersebut, kecuali ruangan dapur berdinding anyaman bambu yang disekat menjadi 2 bagian. Sebagai kamar tidur, sebagiannya lagi disulap menjadi tempat meracik jamu tradisional. Yang dapat ditemui di bilik kamar itu adalah beberapa toga kering dan daun-daun herbal yang berserakan. Kunyit, kencur, daun sambiroto. Ada juga racikan lain yang digelar dilantai, setengahnya baru jadi. Semuanya cukup menarik perhatian. Yah lebih tepatnya, Hertin menekuni pekerjaan sebagai penjual jamu gendong keliling. Sekaligus menambah pengetahuan berkebun Toga dan bercocok tanaman palawija.

Seringkali jika musim penghujan datang, Tanaman Toga rawan terserang hama. Menurunnya jumlah cahaya yang masuk akibat kelembaban tanah bisa menyebabkan turunnya tingkat kelarutan oksigen didalam Umbinya (Rhizoma). Kemudian bisa menganggu sirkulasi penyerapan unsur hara kedalam tanah. Biasanya hal ini terjadi pada saat banjir melanda desa. Selain lebih cepat membusuk, Toga yang kadaluarsa tetap saja menjadi racun meskipun sudah di olah dengan prosedur yang benar.

Kalau cuaca mulai tidak bersahabat seperti ini,Ia terpaksa tidak berjualan atau meracik jamu. Ia lebih membuka lumbungnya. Mencari segala sesuatu yang ditimbun berbulan-bulan lamanya. Jika untuk dimakan sehari-hari tidak cukup, ia mulai menjual toganya yang mulai mengering. Demikian hasil berkebun yang ada, atau menukarnya dengan bahan Pokok Sejenis singkong.

Biasanya hertin cuma mengandalkan apa yang diperoleh dari hasil berkebun suaminya. Dijual dengan harga yang tak seberapa. Entah Itu mangga, Nangka, Bambu, atau juga Buah Gayam* (Diambil Bijinya Untuk dikonsumsi maupun dijadikan keripik) yang tumbuh liar di belakang rumah.

Tak sampai disitu, seperti aktivitas ibu lainnya. Tiap hari Ibunda sibuk memasak, meladeni keperluan suaminya dan juga sibuk mengasuh kedua anak laki-lakinya yang baru masuk jenjang sekolah dasar.

Acapkali kedua anak semata wayangnya ini berkelahi memperbutkan mainan, atau juga perihal sepele berbagi tempat tidur, ini hal yang biasa bagi Hertin. Kadang bergerak sebagai poros tengah, Hertin menyelesaikannya dengan mengalah. Anaknya tidur diatas dipan, sedangkan dirinya sudah cukup senang bisa tidur beralas tikar.

Yang paling mengharukan ialah disaat ada penjual mainan didepan rumah dengan membunyikan sirine/terompet, kalau sudah giliran penjual mainan itu datang. Sudah cukup kesabaran bagi hertin membujuk anaknya ini. Saking nakalnya si-anak, terkadang hertin mengajarkan cara bersosialisasi paling unik. Sambil mendekati anaknya, Hertin berujar “jangan dekati mainan itu, itu klaksonnya gendoruwo!”.

Demikian Pula: ” Hih..ono setan ! ayo ndang melbu omah le….”

Hatinya bergetar!, Wanita manapun pasti tidak sampai hati membujuk dengan cara yang demikian. Namun jika melihat keterbatasan ekonomi, mainan itu sanggup saja terbeli. Namun bingung dengan Fakta: “Makan apa keluargaku esok hari? “

Bermain Irama Waktu, Tapi “Tidak berani Main-main”

Orang jawa dikenal kental dalam menghormati Tradisi leluhur. Selain menggunakan Kalender Masehi. Masyarakat etnik didesa ini telah lebih dulu menggunakan Kalender berbeda dengan huruf aksara jawa.

Hertin menyadari Keterbatasan pengetahuan yang ia miliki, tidak akan cukup untuk membesarkan anak secara Fisik. Oleh karenanya, disamping membangun ikatan kasih sayang secara batin, *Primbon tetap dipergunakan sebagai sebuah kepercayaan dalam memprediksi peristiwa yang belum terjadi. Sekaligus menerapkan etika-etika luhur yang tersyirat didalamnya.

Dalam membangun pondasi fisik, Biarpun tidak setiap hari. Sejak dalam kandungan, ketiga anaknya selalu diberi asupan gizi berupa rempah olahan jamu. Untuk menjaga kandungannya tetap prima, Hertin telah meracik jamu kunyit dengan kolaborasi ketumbar yang disangrai, di gerus bersamaan, diperas sarinya, untuk kemudian di-ambillah sebuah *Kereweng (pecahan Genteng) yang sudah lebih dulu dibakar hingga merah membara. Setelah tak beberapa lama, kereweng tadi diseduh bersama air hangat dan perasan jamu.

Menurutnya, cara ini lumayan ampuh membuka ikatan batin si anak dan ibunya. Disamping alternatif pengganti Vitamin agar janin terasa Adem dan sang Ibu lebih doyan makan.

Dalam mengolah hidangan sayur mayur, memasuki masa melahirkan adalah yang paling unik. Tidak pernah mencicipi sekolah tata boga, Hertin berkreasi sendiri mengolah sayur berbahan dasar daun katuk yang diolah menjadi sayur bening. Kalau ASI-nya bancar, Anaknya pasti senang, imbuhnya.

Karena Pengetahuan orang zaman dulu yang serba terbatas, Belum ada Kulkas, belum ada botol melamin untuk mencadangkan Air susu tersebut. Hingga terpaksa air susu dibiarkan tumpah. Karena ASI cepat Basi, Hertin terkadang mewadahinya dan membuangnya begitu saja di Persandingan *Ari-ari (Tali Pusar bayi). Hal ini terus menerus berlanjut hingga Anak-anaknya berkembang diusia Balita.

Menjelang usia Balita, Hertin tidak pernah kehabisan akal. Dengan Air rendaman beras yang telah ditanak bersama nasi, ia berusaha agar si anak tetap “kemasukan” susu. Sudah menjadi resep turun-temurun kalau perhatiannya mengalihkan sumber daya pangan anaknya dengan *Tajin disaat-saat paceklik pangan. Kadang pula menyuapinya dengan Pisang kepok yang dia petik sendiri dari kebun. Sedapat mungkin kalau memperoleh rizki tak terduga, membeli Bubur *** maupun Susu SGM itu rasa bersyukurnya bukan main. Itupun kadang masih kurang hemat. Dicampur-lah Susu Formula itu dengan Nasi Tim yang dilumat habis agar lebih kalis komposisinya.

Dari Catatan lain menyebutkan. Beberapa kondisi merugikan yang timbul dari pertumbuhan ekonomi yang tak sepenuhnya stabil pada masa orde baru. Bukan saja menurunkan taraf penghidupannya, Menurunnya pendapatan suami yang terbilang Pas-pasan sebagai tukang kebun Rumah sakit yang tidak menentu, membuatnya mencari alternatif lain agar terus dapat menyambung hidupnya beserta ke-3 orang anaknya. Salah satunya adalah menjerat diri dengan menghutang kepada renternir.

Belum ada deposito, maupun asuransi pendidikan saat itu. Agar anaknya tetap bisa bersekolah, Selain mengolah jamu, modal dari renternir itulah yang cukup mumpuni dalam mengolah kebutuhan pokok. Sebagian modal disisihkan untuk membeli benih Toga, keuntungannya juga bisa ditabung di Atm Mini berupa kaleng biskuit bekas. Cara yang paling bersahaja untuk seorang ibu zaman dulu.

Memasuki Era Swasembada beras. Namun belum bisa dikatakan makmur dan gemilang. Didampingi suaminya, Hertin memahami cara bertahan hidup. Dirinya telah menanamkan cara paling ekstrem kepada anaknya Jika sewaktu-waktu makan tanpa harus didampingi lauk maupun sayur mayur.

Jika suaminya sudah cukup puas makan ubi atau - jika terpaksa harus berpuasa, maka ada saat tertentu dimana 2 anak laki-lakinya harus belajar menahan diri.

Dengan Terampil, ia membuat Pepes daun mengkudu, pepes Jantung Pisang. Atau membuat *Getuk Gayam yang ia kolaborasikan dengan adonan Ubi jalar. Sungguh kolaborasi yang aneh. Jangankan untuk makan nasi yang tidak setiap hari, Jatah Minum Gula saja hampir tidak pernah.

“Lek kowe utun tandang gawe, akas, sugeh! Kowe oleh ngombe Gulo”..”(*Kalau kamu sudah giat bekerja, kaya.! Kamu boleh minum gula!”)

Kalau ingin makan malam dengan lauk, memancing ikan terlebih dahulu di hulu sungai siang-hari usai pulang sekolah adalah menu sehari-hari yang harus terlaksana. Begitu-pun juga Murti, anak perempuannya yang mulai diajari cara berkebun dan membantu menyiapkan sarapan (kalau ada yang dimakan). Bahkan kalau perlu menemani Bapak bersama kedua-kakak tercintanya menangkap *Remis di sungai. Seakan Legamnya kulit anak-anak ini tidak akan berarti apa-apa dibanding kemandirian yang sudah dipupuk oleh kedua orang tuanya.

Sore hari telah berganti petang. Usai menyelesaikan makan malam terakhirnya, Hertin menemani Anak-anaknya belajar mengaji berbekal lampu teplok. Sampai Malam menutup kepergian hari itu, hertin tak bergeming dari kamar peristirahatannya. Sesekali menengadahkan kepalanya tanda berdoa” =========================================***=============================================

Sambil memegang Foto beliau. Malam Ini, Saya memugar kembali memori lama ibunda tercinta 25 tahun silam dengan menyaksikan anak dan istri tengah tidur terlelap.

Wajah sang ibu masih tetap molek seperti dulu. Tetap bugar diiringi pertumbuhan uban yang mulai merata, ditambah beberapa kerut menghias keningnya. Tak terasa, Reformasi melengkapi batang hidupnya yang kini genap berusia 56 tahun. Hingga sekarang-pun budi pekerti seperti inilah yang diwariskan kepada cucunya. Irma Herliana.

Pada masa membina rumah tangga ini, saya mengenang ibu saya Hertin Soeryawati. Ia tak pernah belajar di bangku sekolah farmasi. Tapi demi kesejahteraan anak-keturunannya kelak, ia telah mempraktikkan strategi-strategi medis untuk menghadapi terpaan iklim dan getirnya sebuah zaman dengan jalan adaptasi. Disamping Cara-cara yang relevan membangun kemandirian dalam bersosialisasi.

Lewat adaptasi, ia telah membaur dengan alam, menyesuaikan iklim dan mampu memanipulasi krisis pangan.

Lewat kemandirian, Ia menempa anaknya untuk Hidup *legawa, prinsip kesederhanaan, bertahan dari segala situasi.

Dalam bersosialisasi ia juga kerap berkomunikasi dengan anaknya menggunakan hati, meskipun harus menghemat kata dan berat membujuk anaknya sendiri. Dengan demikian, ibu saya telah lebih dulu menjalankan toleransi melalui cara aneh namun sangat bermakna.

Kesederhanaan adalah 1 Keputusan yang menentukan Sebuah Masa Depan

Didekapan ibunya, Wajah Irma nampak sangat tidak asing. Mirip Seperti Murti, Adik perempuan saya sekandung yang kini merajut asa sebagai guru honorer di sebuah SD inpres Luar Kota.

Ini bukan masalah Ijazah maupun kemampuan akademis. Karena sudah waktunya bagi Setiap Manusia yang beranjak dewasa harus berani memikul Tanggung Jawab. Mental inilah yang sudah diajarkan Ibu saya sejak kecil.

Merunut kembali Pengalaman ibu saya terdahulu, Entah apa ini karena Pengetahuan Jawa (Ilmu Kejawen) yang menjadi tradisi leluhur yang dimiliki ibu saya sekarang. Disetiap manusia dilahirkan, Ada Semacam kekuatan ‘Survive’ untuk menghadapi kesulitan dan penderitaan. Justru melalui berbagai kesulitan itulah saya ditempa menjadi ciptaan Tuhan yang tegar dalam menghadapi berbagai keterpurukan dan kegagalan.

Seringkali ketika sudah membina keluarga diusia ini, saya sendiri bersama istri lupa diri bagaimana caranya menghadapi kegagalan dan kesulitan hidup, karena justru kegagalan itu sendiri merupakan unsur atau bahan yang utama dalam mencapai keberhasilan atau kehidupan yang berkelimpahan.

Terlebih untuk menghadapi Tingkat Kerewelan Irma, Saya menghela nafas. Berusaha meredam Emosionalnya ketika menangis. Kalau saya sudah pasrah dan menyerah dalam hal sekecil ini, itu tandanya saya belum berhasil. Maka Giliran neneknya yang bertugas memberikan pendekatan alami secara suka cita.

Ketika terbangun, Irma adalah Raja yang senantiasa dituruti titahnya. Di alam Bawah sadar. Irma masih tetaplah seorang Anak kecil tak berdaya

Dalam pendekatan Spiritual, Ibu saya lebih faham lagi. Ketika mengandung irma, Tasyakuran digelar secara sederhana. Adapula acara yang bersifat kerohanian yang disesuaikan dengan tradisi etnik desa setempat.

Untuk membangun mental Irma secara spiritual, SUdah jelas bagi saya berpedoman pada syariat agama islam. Hal ini juga sama dengan yang diharapkan Ibu saya sewaktu kecil, mengajari sholat, mengajari mengaji dsb. Karena dengan Jiwa yang sehat secara mental dan spriritual akan membuat Irma berperilaku baik. Menimbang segala sesuatunya dengan seksama dan tidak asal bertingkah menuruti nalurinya sendiri.

Istri saya terkadang sampai mengakui kegigihan sang mertua. Berusaha belajar, memahami, dan mempraktekkannya ber-3. Antara Irma, Mertua dan dirinya sendiri.

Sementara ini, saya hanya melakukan tugas fungsionalnya saja. Baik keperluan Irma yang bersifat rutin, maupun Kebutuhan hidupnya Untuk jangka menengah.

Namun bukan berarti istri saya mematung dan berdiam diri. Usahanya malah terbilang cemerlang!. Dari awal mengandung Irma, Ia sudah mencetuskan Ide mengenai Asuransi Jiwa dan Asuransi Pendidikan. Hal yang sebenarnya Sangat penting, tapi kadangkala saya sendiri lupa. Bagaimana membangun masa pendidikan irma kelak ditengah mainstream kehidupan yang kian komplek. Kebutuhan yang melambung tinggi, otomatis juga mempengaruhi biaya pendidikan.

“Memulai Belajar sejak kecil seperti memahat batu karang, dan mengakhiri masa renta seperti membasuh dengan air”.

Selain karena prinsip hidup, kesederhanaan yang sudah mendarah daging dari dulu Membuat ibu saya memiliki pemikiran agar tidak terlalu memanjakan anak dengan materi, namun tetap menyanjung dengan apa yang diperoleh dari lingkungan tanpa dibuat-buat, apa adanya.

Terlebih demi cucu tercintanya, beliau mengajarkan cara menggali potensi sumber daya alam sekitar. Mengolah bahan-bahan organik yang disediakan alam, mengganti beberapa obat berbahan kimia dengan herbal. Dan mematahkan klaim kalau makanan instan itu selalu sehat.

Namun sebagai pengecualian. Untuk tumbuh kembang anak saya tentunya, disamping Irma masih diberi ASI oleh ibunya, Neneknya masih menyarankan Susu Formula SGM. Selain Harganya yang kompetitif, Dalam strata keluarga kami, susu SGM sudah dikenal sebagai susu sepanjang masa.

Selama Irma mendapatkan Asi terbaiknya. Susu SGM hanya dipergunakan sebagai pelengkap nutrisinya saja. Itupun hanya dikonsumsi pada waktu yang diprioritaskankan seperti tengah malam(Tindakan jaga-jaga kalau kecapekan menyusui) .

Disamping karena faktor geografis tempat tinggal kami yang berada jauh dari kota Sidoarjo, inilah alasan saya dan istri perlu menanamkan Kesederhanaan kepada irma sejak dini. Irma harus berani diperkenalkan dengan sawah, pematang, Lumpur. Agar tahu sistem darimana dia dibesarkan. Di samping itu, Enggan bagi Istri untuk memperkenalkan Gadget-gadget berteknologi canggih jikalau Irma belum waktunya dewasa. Bukan demi “Dewasa sebelum waktunya”.

Anak SGM dan Simbol kebangkitan perempuan di balik Peradaban

Memang, Kunci Keharmonisan yang di terapkan Ibu saya adalah kemampuannya menjalin komunikasi dengan baik. Dengan melibatkan menantu, Ibu saya masih merestorasi cara-cara lama dalam mendidik cucu. Meskipun masanya sudah lewat dan kalender primbonnya sudah tidak akurat, saya tidak akan mencegahnya. Saya akan senantiasa menghormatinya sebagai pencitraan perempuan sejati. Ditambah lagi dengan hadirnya Sang Istri tercinta, sudah pasti akan melengkapi 1 keutuhan keluarga yang harmonis.

Tidak hanya melalui tulisan ini, Di dunia nyata, saya selalu mengedepankan Tokoh Ibu sebagai pahlawan sesungguhnya. Karena pahlawan terlahir tanpa mengenal kasta. Segala nama dan keturununanya bercokol dari tunas-tunas perjuangan yang membawa azas keselerasan hidup.

Memang benar yang di katakan oleh pak Hermawan kertajaya melalui bukunya: Marketing In Venus. Membeberkan bahwa peranan perempuan sangat erat kaitannya dalam mematahkan persepsi yang salah. Dengan kehadiran perempuan yang mampu mengubah ritme kehidupan, menentukan komunikasi massa. Khususnya pada era penuh mobilitas sekarang ini, Sudah sepantasnya pria seperti saya belajar banyak hal dari mereka.

Saya sangat setuju, menurut realita yang ada, perempuan turut banyak memberikan sumbangsihnya dalam mengelola suatu sumber daya. Produk apapun yang mengambil sisi ideologi perempuan. Perempuan bukan lagi kaum minoritas seperti dulu. Makin terlihat jelas dengan realita zaman ini, perempuan sudah menjamah maskulinitas kaum pria dalam segala bidang. Baik produk obat-obatan, maupun Bahan pangan. Termasuk dalam hal ini adalah produk-produk sari husada yang ternyata dilandasi inspirasi wanita zaman dulu.

Puji syukur, Irma terlahir sebagai perempuan. Itu berarti didalam rumah ini telah hadir Pahlawan yang bisa menjadi mediasi Para pria untuk berkaca. Belajar Untuk tidak Egois, belajar untuk “mendengar” dan Sudi “diarahkan”. Tidak bertindak sebagai Manusia yang hanya suka menyarankan dan suka membentak-bentak.

Three Musketers: Harapan 1 diantara 2 orang yang akan bangkit membawa revolusi perempuan

Dilain sisi. Dalam melengkapi tugas dan wewenang berbagi peran sebagai orang tua, cukup dengan melanjutkan etika-etika dasar dengan mengkombinasikan metode baru ala ‘Aku anak SGM’, saya sebagai suami diperkenalkan dengan banyak hal. Mempelajari secara kontinyu strategi-strategi jitu metode mendidik anak yang baik. Membangun kemandirian tanpa melunturkan sebuah kultur.

Usia Irma Terbilang masih dini untuk mengetahui arti pengorbanan. Apalagi perencanaan. Dalam waktu dekat ini, Yang dapat kami lakukan hanya sebatas memberikan hak yang sudah sepantasnya dia peroleh. Logistik, Memberikan keleluasaan untuk bermain, memberikan kepuasan menikmati masa kecilnya. Barulah ketika usia irma menginjak 6 tahun, Sedikit-demi sedikit ia akan mendapatkan hak mengenyam pendidikan.

Sebagai Orang tua, Anak yang memiliki Impian membahagiakan kedua orang tuanya saja itu sudah sangat membanggakan rasanya. Apalagi anak yang telah menjadikan impian sebagai cita-cita luhur yang harus ditepati, Itu seperti menetaskan telur emas. Saya tidak ingin mendoktrin irma harus menjadi apa kelak.

Melalui impian dan apa yang telah saya peroleh melalui ibu, saya ingin Irma menjadi manusia berguna di Bidang Kemanusiaan.

Bergerak saling mensupport, kami selaku Orang tua ingin irma dapat berinteraksi dengan tetap menjunjung toleransi. Agar irma lebih cepat Belajar dari lekangnya zaman. Agar lebih cekatan menauladani indahnya tutur kata dan tingkah laku sebagaimana moyangnya dulu berasal.

Keberadaan kami selaku orang tua tidaklah lama. Ditengah arus zaman yang sudah modern seperti saat ini, Kebaikan adalah jurus turun temurun yang seharusnya dibenamkan Dari Anak, Oleh anak, dan Untuk anak pada generasi berikutnya.

Semoga terlaksana…Amiin.

 

Artikel Ini dibuat sebagai tanda keikutsertaan dalam penulisan #LombaBlogNUB - “Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil”. -