Mitos yang Salah Tentang ASI Pertama

Oleh Adi Purwanto 15 Mar 2012

Emak terbaring di rumah sakit. Sudah lima hari beliau rebah tak berdaya. Faktor usia membuat kesehatannya menurun drastis. Fisiknya tak setangguh ketika kami masih anak-anak. Emak sudah tak segagah dulu, tetapi dialah yang menjadikan kami seperti sekarang ini.

Menyaksikan kondisi emak seperti itu, tiba-tiba saja pikiran ini melayang ke para perempuan yang telah menjadi ibu. Ketangguhan mereka telah terbukti dan teruji. Suami memang sebagai kepala rumah tangga namun untuk segala urusan dalam rumah, istrilah penentu utama. Melalui tangannya, banyak urusan terselesaikan, bahkan ketika dia dalam keadaan tidak enak badan. Seorang teman yang juga ibu seorang balita menulis di linimasa bahwa sakitnya tiba-tiba hilang ketika melihat senyum anaknya. Begitu dahsyat kecintaan seorang ibu terhadap anaknya sampai-sampai kesehatan sendiri tak dihiraukan.

Kesehatan seorang ibu sangat penting bagi seluruh anggota keluarga khususnya anak. Semenjak bayi masih dalam kandungan, kesehatan ibu memiliki peran dalam tumbuh kembang jabang bayi yang dikandung. Setelah dilahirkan, pertumbuhan si anak masih bergantung pada ibu. Bukan semata-mata oleh kesehatan ibunya tetapi juga pengetahuan ibu tentang kesehatan dan penanganannya. Oleh karena itu, selain kesehatan itu sendiri, betapa pentingnya pemahaman tentang kesehatan bagi seorang ibu.

Beberapa waktu lalu, saya sempat tinggal di perumahan yang bersebelahan dengan suatu perkampungan. Karena keterbatasan pemahaman tentang pentingnya gizi yang terkandung dalam ASI, penduduk kampung tersebut memiliki tradisi aneh. Satu kebiasaan yang sangat merugikan dan membahayakan perkembangan bayi. Karena keyakinan yang salah dan yang pasti disebabkan minimnya pengetahuan, setiap habis melahirkan, ASI pertama yang kandungan gizinya sangat tinggi justru dibuang. Dari hasil perbincangan dengan mereka, kebiasaan tersebut ternyata sudah berlangsung lama. Mereka membuang ASI pertama disebabkan oleh mitos bahwa cairan itu bukan susu dan tidak bagus untuk bayi karena warnanya yang kekuningan dan encer. Mereka beranggapan cairan itu mengandung banyak kuman. Oleh karena itu, cairan yang keluar dari buah dada itu harus dibuang. Celakanya lagi, susu ibu yang mengandung kolostrum  dan kaya gizi serta antibodi yang berfungsi menjaga bayi dari infeksi ini diganti dengan air teh manis yang tentu saja bisa membahayakan pencernaan bayi yang masih rentan.

Kejadian di kampung sebelah rumah ini tentu saja memprihatinkan. ASI yang memberikan kekebalan sampai 20 kali lipat pada bayi dan di dalamnya terdapat lebih dari 200 zat gizi yang sangat penting bagi pertumbuhannya justru oleh ibunya disia-siakan. Mitos salah tentang ASI pertama itu mungkin saja terjadi di tempat lain. Untuk menghilangkan mitos tersebut tidak ada jalan lain selain mendidik mereka tentang nutrisi dan pentingnya bagi kesehatan khususnya anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif,  misalnya, bisa menjadi agenda yang wajib diberikan. Bahwa ASI eksklusif yang diberikan secara optimal akan menjadikan bayi tumbuh kuat, sehat, dan cerdas karena kandungan zat gizinya harus diketahui oleh mereka. Dengan pengetahuan yang dimiliki itu, pertumbuhan anak-anak mereka akan lebih baik.

salah

Selain pentingnya ASI, perlu juga diberikan pengetahuan tambahan tentang nutrisi yang berasal dari sumber lain. Banyak produk susu dan makanan yang dapat dengan mudah ditemukan di pasaran. Namun demikian, sang ibu harus pandai-pandai memilih karena tidak semua produk itu cocok bagi bayi. Kandungan yang tertera pada kemasannya wajib diperhatikan. Sebagai contoh komposisi bahan baku yang sesuai untuk balita misalnya protein whey, sukrosa, susu bubuk skim, susu bubuk full cream, minyak nabati, laktosa, frukto oligosakarida (FOS) inulin, maltodekstrin, madu bubuk, mineral, DHA, perisa vanila, pengemulsi lesitin kedelai, dan vitamin. Produk yang mengandung bahan baku itu sangat cocok untuk anak usia 1 hingga 3 tahun yang sedang aktif-aktifnya mengekplorasi diri dan lingkungannya seperti belajar berjalan, berbicara, dan bersosialisasi bersama balita lain.

Ibu sebagai perempuan begitu penting peranannya dalam keluarga. Oleh karena itu, tidak salah jika penduduk bumi ini menetapkan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional. Di Negara kita, peringatan yang dilaksanakan beberapa waktu yang lalu seharusnya tidak sekadar berunjuk  rasa di depan Istana Negara. Ada yang lebih bermanfaat dari itu baik bagi kaum perempuan maupun generasi penerus yaitu menyehatkan mereka dan mendidik para perempuan negeri ini perihal kesehatan. Dengan demikian, pengetahuan tentang kesehatan itu bukan hanya berguna bagi dirinya tetapi juga anggota keluarga lain khususnya anak-anak mereka. Bagaimanapun juga, kesehatan ibu berarti pula kesehatan bagi seisi rumah. Dan ini dampaknya bukan hanya untuk keluarga itu sendiri tetapi lebih jauh lagi, negara juga akan menjadi sehat.

Catatan:

Artikel ini ditulis untuk mengikuti lomba blog yang diselenggarakan oleh nutrisiuntukbangsa.org.

1 Komentar

tri ikawati

19 Mar 2012 09:50

sama di kampungku juga ada mitos seperti itu, tapi dengan banyaknya sosialisasi, sekarang sudah banyak warga yang mengerti pentingnya ASI pertama..semoga tdk ada lagi mitos2 salah yang beredar di masyarakat, yang sebetulnya malah merugikan ibu dan bayi..:)