Pendidikan Gizi Sejak Usia Dini Dalam Bentuk Yang Menyenangkan

Oleh reni marthauli 21 May 2013

Narasumber

Obat hipertensi | Para bunda mungkin sudah tidak aneh lagi dengan permasalahan pola pemberian makan untuk buah hati yang terkadang selalu ditolak oleh buah hati kita. Mungkin bagi sebagian buah hati kita pasti mengalami susahnya makan dan tidak jarang para bunda mengalami stress karena anaknya tidak mau makan atau tidak menyukai sayuran. Untuk itu peran orang tua sanat penting untuk memberi pendidikan gizi dan kesehatan dalam bentuk pemberian pola makan yang baik pada usia prasekolah.

Bersamaan dengan semangat peringatan Hari Pendidikan Nasional, Sari Husada dengan program bulanan melalui ‘Ayo Melek Gizi’ dan sekaligus menjadi topik bahasan Nutritalk bulan ini, Selasa 21 Mei 2013 bertempat di Kembang Goela Restaurant Jakarta, program nutrital yang menjadi ajang edukasi gizi kepada masyarakat melalui media massa. Menghadirkan nara sumber yang relevan di bidang kesehatan, gizi dan pendidikan yaitu Bpk Arif Mujahidin selaku Head Of Corporate Affairs Division Sarihusada, DR.Elvina Karyadi, M.Sc, Ph.D, SpGK selaku ahli gizi dan Direktur Micronutrient Initiative Indonesia (MII), Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi selaku Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, NonFormal dan Informal (PAUDNI) yang akrab di sapa dengan Reni dan Nunuk Sri Mulyani, Kepala Sekolah PAUD Rumah Srikandi Kemudo.

Nutritalk

Pemahaman mengenai zat gizi dan pemenuhan kebutuhan zat gizi dalam pola makan pada 360 minggu pertama dalam kehidupan mulai pra kehamilan hingga anak usia 6 tahun. Jadi kebutuhan gizi dari semasa pra kehamilan dan sejak bayi masih berada dalam kandungan disinilah proses yang sangat penting untuk mencegah insiden gizi kurang dan gizi buruk pada ibu dan anak yang bisa menimbulkan resiko bagi kesehatan, ujar pak Arif dalam sambutan pertamanya.

Dr

 

Sedangkan menurut Dr.Elvina mengenai gizi pada anak usia prasekolah pada dasarnya makanan anak usia dini (2-6 tahun) harus memenuhi semua zat gizi yang dibutruhkan sesuai dengan tahapan tumbuh kembang mereka. Dan saat ini salah satu masalah gizi yang  yang dihadapi anak Indonesia tidak hanya karena kekurangan gizi makro (protein, karbohidrat, lemak) namun juga kekurangan gizi mikro (vitamin dan mineral). Pada kenyataannya anak Indonesia masih menghadapi beban gizi ganda, yaitu kurang gizi dan kelebihan gizi, dukungan stimulasi orang tua dalam menanamkan pola makan  sehat dan gizi seimbang sangat penting, karena status gizi anak akan membawa dampak pada kehidupan mereka selanjutnya.

Prof

Hal serupa materi yang disampaikan oleh Prof. Reni, Esensi dari pendidikan usia prasekolah dalam hal ini PAUD adalah memberi rangsangan atau stimulasi pendidikan  yang sesuai dengan tahap sambil belajar dan bermain. Penanaman kejujuran, disiplin, cinta sesame,  cinta tanah air dan semua nilai positif lain termasuk pengetahuan dasar mengenai gizi perlu di biasakan dan dilakukan secara continue. Seperti PAUD percontohan yang ada di Yogyakarta yang mengembangkan materi pengajaran tambahan berbasis nutrisi sebagai bagian dari program ‘Ayo Melek Gizi’ dengan program ‘Kebun Nutrisi’ mini di PAUD Rumah Srikandi Kemudo, Klaten. Disini anak-anak belajar menanam dan merawat tanaman sumber pangan bergizi.

Ibu

Menurut Ibu Nunuk Sri Mulyani selaku kepala sekolah PAUD sejak mengembangkan ‘Kebun Nutrisi’ mini pada tahun 2011 lalu program pemberian makanan tambahan di sekolah menjadi lebih dan menyenangkan. Karena murid-murid terlibat langsung dari menanam, merawat, memanen hingga mengolah sayuran yang mereka makan hingga mereka bersemangat untuk mengkonsumsi sayuran. Kebutuhan akan Sayuran bagi tubuh kita ini sangat penting, dimana rata-rata kita harus mengkonsumsi sayuran 5-6 porsi setiap hari.

Ayo

Semoga apa yang narasumber paparkan bisa membantu kita sebagai orang tua betapa Pentingnya Tumbuhkan Kecintaan Pada Gizi Sejak Dini, selalu memberikan pemahaman pada anak kalau makan itu bukan hal yang menakutkan atau beban, selalu memberi pengertian bahwa makan itu sebagai proses dimana kita bisa beraktivitas dalam keseharian.  ***