Pengalaman Menjadi Ibu Bagi Adik

Oleh reni marthauli 12 Oct 2013

Dita

Memiliki anak tentu harapan semua orang termasuk saya, hidup dilingkungan keluarga besar memaksa saya untuk berbaur dengan setiap regenerasi baru, timbul lah rasa senang pada anak-anak kecil yang batita hingga memasuki usia balita dan masa kanak-kanak. Tingkah laku yang menggemaskan dan fisik yang berisi, imut dan lucu tentu kita senang melihatnya. Namun banyak hal sepele yang orang tua tidak mengindahkannya dalam hal merawat dan mendidik anaknya yang tentu  berdampak pada perkembangan tumbuh kembang anak.

Menurut kak Seto sebagai aktivis perlindungan hak anak, yang mengatakan bahwa pada dasarnya semua anak senang belajar. Terbukti dari anak sejak usia dini mereka cenderung ingin berusaha mengikuti dengan melihat apa yang orang dewasa lakukan, dari usia batita anak mulai belajar tengkurap, merangkak, berbicara hingga berjalan. Semua bertahap sesuai dengan pertambahan usia anak tersebut, dalam hal ini para orang tua dituntut kesabaran dan mendukung dengan pemberian gizi  seimbang untuk mengantarkan mereka menjadi anak yang berkarakter.

Seperti cerita Dita adik sepupu saya, pada usia batita dia tumbuh menjadi anak yang berisi, lucu dan cerewet. Semua orang senang jika bertemu Dita, gadis kecil mempunyai kulit putih dengan bibir tipis berwarna merah jambu siapa yang tidak takjub melihatnya? Saya sebagai kakaknya saja bangga apalagi ibunya ya..hahaaa..Sejak kecil saya suka mengajak Dita kemanapun saya pergi, rasanya seperti anak sendiri saya memberi kasih sayang dan selalu mengarahkan pada kebaikan. Suatu hari ketika saya mengajak main Dita ke tempat kerja teman di studio photo tanpa sengaja Dita melihat para konsumen anak-anak remaja yang hendak berpose untuk dijepret, Entah apa yang dipikirkan Dita dia berlalu ke kamar ganti yang menyediakan cermin ukuran besar, tanpa sepengetahuan dia, saya mengikuti dan mengintip dari balik gorden, astaga apa yang terjadi? Tidak tahan saya untuk menahan tawa ketika melihat anak itu berlenggak lenggok dan sesekali berpose layaknya seperti foto model yang sudah profesional.

Saya biarkan beberapa saat untuk pura-pura tidak mengetahui apa yang saya lihat tadi, saya sengaja membuka majalah dan dia otomatis melihat sambil ngikutin aktivitas saya. Disela percakapan lalu saya awali dengan menunjuk model cover dan model fashion pada bagian halaman tersebut, lalu saya melontarkan pertanyaan

Saya : Dita mau seperti ini ? (saya sambil menunjuk kea rah gambar model yang ada di majalah)
Dita : itu namanya apa kak ? (dengan nada polos)
Saya : ini profesinya model
Dita : oh, Dita pengen tapi malu kak nanti kan banyak dilihatin orang
Saya : ya inilah resiko dari model harus berani bergaya di depan kamera dan tidak malu untuk berlengag lenggok di panggung ketika memperagakan busana. Kalau malu ya tidak usah ikutan, celoteh saya.
Sejenak Dita merenung dan percakapan tidak berlanjut sesampai pulang tiba di rumah.
Beberapa hari dari waktu percakapan itu tiba-tiba, Dita dengan semangat dan antusias ingin belajar menjadi model cilik dengan proses pertama belajar berpoto di studio tempat teman saya bekerja. Saya biarkan adik ku berekspresi dengan berpose sesuka dia, tubuhnya yang masih lentur sangat mudah diarahkan oleh fotografer. Awalnya dia malu dan agak kaku hingga gayanya asal-asalan karena memotret anak kecil itu gampang-gampang susah terlebih jika anaknya sudah mulai bosan dan cape.
Dari situ saya memberi pengetahuan bahwa seperti itulah dunia model, meskipun anak ini masih dini untuk di beri kuliah tetapi apa yang saya lontarkan selalu di cerna, jadi intinya untuk mengajarkan sesuatu hal pada anak poin utamanya adalah selalu tersenyum dan tidak terlalu memaksakan. Itulah yang saya terapkan pada adik saya dan hasilnya dia belajar dengan enjoy tanpa tekanan yang mengharuskan sesuai dengan keinginan kita, ini penting karena keinginan kita belum tentu sesuai dengan keinginannya.
Kenapa saya mendukung keinginan adik saya untuk menjadi model cilik? Menurut saya dengan kegiatan ini secara tidak langsung kita mendidik anak dari segi mental, kepribadian dan sikap ketika berinteraksi di depan publik. Singkat cerita saya mendaftarkan Dita untuk mengikuti pemilihan model di media cetak yaitu GALAMEDIA, betapa senangnya dia ketika itu dan antusias selalu berlatih berjalan dengan lenggak lenggok jalan khas peragawati.
Di hari pertama saat gladiresik, semua peserta tidak sama usianya mereka sekitaran usia dari mulai 4 sampai 12 tahun, sedangkan waktu itu adik saya masih berumur 4 tahun. Awalnya saya pesimis apakah anak ini bersaing dengan yang usianya diatas dia? Tapi pikiran itu saya buang toh tujuan mengikuti lomba ini hanya untuk memberi pembelajaran “keberanian dan percaya diri” ketika berhadapan sama banyak orang.
Hari kedua tiba saatnya untuk pemilihan finalis untuk maju ke babak grand final, dengan nomor peserta 6 Dita tampil dengan muka yang polos dan terlihat tegang, sebelum naik panggung saya selalu mengingatkan “Dita harus mendengarkan apa yang diarahkan sama kakak yang diatas panggung (MC) kalau nomor Dita disebut, majulah dan berjalan sesuai dengan apa yang kemarin sudah kakak ajarkan, lalu Dita pun mengangguk tandanya mengerti.
Singkat cerita acara sudah dimulai, tiba giliran Dita untuk maju itu artinya adik ku sama sekali tidak mencontoh gaya orang karena berada pada sesi pertama yang diambil dengan 6 orang untuk berdiri di atas panggung dan yang berbarengan usianya di atas dia, tiba no 6 disebut dengan hanya menyebut no nya saja, ketika itu mungkin konsentrasi dia buyar hingga pas disebut masih diam beruntung MC mengerti karena pesertanya masih cilik lalu menyebutkan nama dan tidak di duga Dita langsung maju dengan lenggak lenggok gemulai tubuhnya seperti model dewasa ketika berjalan di catwalk, semua para orang tua yang mendamping terkagum dan serentak tepuk tangan, ketika Dita balik arah untuk ke posisi semula dia kaget mendengar riuhnya tepuk tangan dan sontak dia berlari tidak berlenggak lenggok lagi seperti awal.
Juri nya pun mungkin mengerti karena ini masih usia dini, tetapi Dita masih bagus dalam hal keberaniannya karena ada beberapa anak yang tidak berani naik panggung, ada yang nangis, ada yang harus ditemani ibunya, ada yang hanya diam, ada yang jalan kaya robot pokoknya berwarna. Alhamdulillah waktu itu Dita masuk menjadi finalis dan maju ke babak grand final sungguh pengalaman pertama yang luar biasa bagi Dita meskipun di Grand Final kalah tetapi setidaknya menjadi finalis dan mendapat pelajaran berharga untuk di pakai sebagai pengalaman dan catatan kecil dalam hidupnya.
Dari kesimpulan cerita Dita ini, peran lingkungan dan orang tua yang mempengaruhi tumbuh kembang anak tidak hanya memperhatikan asupan gizi saja tetapi phsysikologis penting juga untuk membangun karakter anak jadi pemimpin kecil setidaknya di mulai untuk dirinya sendiri, karena karakter untuk berjiwa kepemimpinan bukan hanya untuk presiden atau pejabat saja artinya berjiwa kepemimpinan adalah karakter yang mempunyai sikap berani, disiplin, mandiri, mempunyai jiwa solidaritas terhadap teman dan kreatif.
Hal yang bisa saya tanamkan pada Dita
Untuk menjadi apapun dia kelak yang terpenting adalah sesuai dengan bakat dan kemampuannya, karena cita-cita seseorang selalu berubah ketika kelak dewasa nanti. Selalu memberi tahu bahwa menjadi model itu tidak gampang, kedisiplinan untuk menjaga pola hidup sehat dan berkepribadian yang bagus menjadi modal utama serta perilaku yang baik untuk menjaga nama keluarga itu yang terpenting karena untuk menjadi model berarti kita sudah bagian dari publik dan kehidupan kita mungkin banyak di ekspose. Tidak membatasi dengan siapa saja dia berteman, artinya tidak boleh mengajarkan untuk memilih-milih teman ,dengan siapapun harus baik yang penting kita bisa menempatkan diri dengan bisa membedakan mana yang harus di tiru dan mana yang tidak harus di tiru. Kalau bisa mengingatkan teman untuk menjadi lebih baik itu merupakan inisiatif yang bagus.
Dita Sekarang dan Pola Hidupnya
Sekarang Dita sudah duduk di bangku kelas 6 SD, efek dari pembelajaran dari mengikuti pemilihan model cilik dia rajin merawat diri meski masih dini tetapi tidak ada salahnya buat anak perempuan untuk selalu tampil bersih dan bisa merawat diri yang di pupuk sejak kecil supaya terbiasa sampai dewasa nanti. Dia rajin merapihkan tempat kebutuhan pribadinya seperti minyak kayu putih, bedak dan hand body juga tidak ketinggalan cologne jika sesekali ia pergunakan ketika berangkat les atau mengikuti kegiatan di luar. Kebiasaan itu murni atas inisiatif dari dirinya sendiri dan ketika ditanya kenapa harus seperti itu, dengan simple dia menjawab meniru saya.
Pengalaman Mendidik Anak dan Pembelajaran Buat Saya
Banyak pembelajaran yang bisa petik dari hikmah mendidik anak, meskipun waktu itu saya belum menikah tetapi saya setidaknya bisa memberi pelajaran tentang rasa percaya diri dan keberanian, dan itu tidak gampang lho…tergantung dari bagaimana sikap kita juga, karena setiap karakter anak pasti berbeda. Tetapi semua bisa kita tangani dengan bagaimana kita memposisikan diri untuk anak bisa dengan menjadi sahabat, teman, kakak dan sekaligus menjadi orang tua bijak yang tidak banyak menuntut. Buat calon ibu, alangkah baiknya jika kita mempersiapkan segala kebutuhan buat si kecil nanti, mulai dari memberi asupan gizi yang seimbang buat si kecil sejak masa dalam kandungan hingga merencanakan tabungan buat pendidikan untuk calon pemimpin kecil.
Catatan : Peran Ibu bagi anak memang nomor satu untuk mendukung tumbuh kembang anak, tetapi tidak ada salahnya membiarkan anak tidak tergantung terus sama Ibu/Orang Tua. Biarkan anak dekat dengan sanak family nya, karena yang saya tahu jika anak terus bergantung sama orang tuanya kebanyakan dari mereka menjadi sifat yang manja dan kolokan. Satu hal lagi, ilmu bisa di dapat dimana saja tidak harus melaului pendidikan formal, tetapi dalam ruang lingkup aktivitas keseharian juga bisa mereka dapatkan.***