Pentingnya Tumbuhkan Kecintaan Pada Gizi Sejak Dini

Oleh Nutrisi Bangsa 21 May 2013

Pendidikan gizi pada anak usia dini diperlukan, namun harus menggunakan cara dan bentuk yang menyenangkan bagi anak.

Demikian pemikiran yang muncul dalam acara Nutritalk serta program ‘Ayo Melek Gizi’ Sarihusada, pada bulan Mei 2013 ini.

Menurut Arif Mujahidin, selaku Head of Corporate Affair Division Sarihusada, anak sering dijadikan ‘obyek’ untuk menyukai makanan tertentu, namun tidak diberi pemahaman kenapa harus memakannya.

“Perspektif ini yang ingin kami ubah melalui pembangunan ‘Kebun Nutrisi’ mini di PAUD Rumah Srikandi Kemudo, Klaten,” kata Arif Mujahidin.

Di kebun tersebut, menurut Arif, para murid PAUD—dengan dibimbing para guru – diajari cara menanam dan merawat tanaman pangan, seperti kangkung, bayam, tomat, sawi dan terong.

“Tanaman ini nantinya akan dipanen dan dikonsumsi secara bersama-sama dalam rangka pemenuhan gizi untuk anak-anak,” jelasnya.

Di ‘Kebun Nutrisi’ mini, lanjutnya, anak-anak belajar mencintai tanaman-tanaman pangan yang biasa ditemui sebagai makanan sehari-hari.

Mereka juga sekaligus mendapat pengetahuan tentan gizi yang dikandung tanaman-tanaman tersebut serta manfaatnya, tambah Arif.

“Dengan terlibat langsung dalam proses menanam dan memelihara tanaman ini, anak-anak bisa belajar sekaligus bermain,” tegas Arif.

Menurutnya, anak-anak itu tidak melulu menjadi obyek, namun bisa menjadi subyek.

“Dalam arti mereka ikut mengelola bahan makanan yang mereka konsumsi, karena tahu asal bahan makanan yang tersaji di piringnya, tahu bagaimana menanamnya dan yang paling penting tahu manfaatnya bagi tubuh,” paparnya lebih lanjut.

Lebih menyenangkan

Sementara itu, Kepala Sekolah PAUD Rumah Srikandi Kemudo, Nunuk Sri Mulyani mengatakan, program pemberian makanan tambahan di sekolah lebih mudah dan menyenangkan.

“Sejak kami mengembangkan ‘Kebun Nutrisi’ mini di tahun 2011 lalu, program pemberian makanan tambahan di sekolah menjadi lebih mudah dan menyenangkan,” akunya.

Alasannya, demikian lanjutnya, murid-murid terlibat langsung dari menanam, merawat, memanen hingga mengolah sayuran yang mereka makan.

“Kini anak-anak didik kami sangat bersemangat untuk mengonsumsi sayur-sayuran,.“katanya dengan nada bersemangat.

Lebih lanjut, Nunuk Sri Mulyani mengharapkan, program ‘Ayo Melek Gizi’ terus dilanjutkan untuk meningkatkan kepedulian serta memberikan solusi pada masalah gizi di masyarakat.

Ayo Melek Gizi

Adapun dalam acara Nutritalk, yang merupakan program rutin Sarihusada, Arif Mujahidin menjelaskan, Sarihusada memiliki kegiatan sosial yang memfokuskan pada edukasi gizi lewat program ‘Ayo Melek Gizi’.

Menurutnya, program ini dilakukan melalui kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, juga organisasi masyarakat di tingkat akar rumput.

“Acara ini digelar untuk meningkatkan pemahamam mengenai zat gizi dan kebutuhan pemenuhan zat gizi dalam pola makan sehari-hari khususnya pada 360 minggu pertama dalam kehidupan - mulai pra kehamilan hingga anak usia 6 tahun,” papar Arif.

Nutritalk merupakan program rutin yang diselenggarakan oleh Sarihusada dalam upaya memberikan edukasi gizi (nutrition) dan kesehatan.

Acara ini digelar dengan mengundang pembicara yang relevan di bidang pendidikan, gizi dan kesehatan.

Program Nutritalk ini juga telah menjadi ajang edukasi gizi kepada masyarakat melalui media massa.

Itulah sebabnya, Arif mengharapkan, peningkatan pengetahuan tentang gizi bisa mendorong perilaku masyarakat yang mengedepankan pola makan gizi seimbang.

Hal ini penting, menurutnya, “untuk mendukung tumbuh kembang anak dan mengurangi insiden gizi kurang dan gizi buruk pada ibu dan anak yang bisa menimbulkan resiko kesehatan.”

Kekurangan gizi mikro

Sementara itu, mengenai gizi pada anak usia prasekolah, pembicara Dr. Elvina Karyadi, M.Sc, Ph.D, SpGK, ahli gizi dan Direktur Micronutrient Initiative Indonesia (MII) mengatakan, pada dasarnya makanan anak usia dini (2-6 tahun) harus memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan sesuai tahapan tumbuh kembang mereka.

“Saat ini, salah satu masalah gizi yang dihadapi anak Indonesia bukan melulu karena kekurangan gizi makro (protein, karbohidrat, lemak) namun juga kekurangan gizi mikro (vitamin dan mineral),” kata Elvina.

Menurutnya, dukungan dan stimulasi orangtua dalam menanamkan pola makan sehat dengan gizi seimbang pada anak, sangat penting.

“Karena status gizi anak akan membawa dampak pada kehidupan mereka selanjutnya , dari mulai masa kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga usia lanjut,” lanjutnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, edukasi juga perlu dilakukan oleh lembaga pendidikan, termasuk pendidikan usia dini (PAUD).

“Karena di tempat ini anak-anak mendapatkan pengalaman, sosialisasi, serta pengajaran pada masa terpenting dalam pertumbuhan dan perkembangan mereka,” tegasnya.

Bermain sambil belajar

Herbal hipertensi | Sementara itu, Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) mengatakan, esensi pendidikan anak usia prasekolah, dalam hal ini PAUD, adalah pemberian rangsangan atau stimulasi pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh-kembang anak dan dilaksanakan melalui pendekatan bermain sambil belajar.

“Penanaman kejujuran, disiplin, cinta sesama, cinta tanah air, dan semua nilai yang positif lain termasuk pengetahuan mendasar mengenai gizi perlu pembiasaan dan harus dilakukan secara terus menerus,” jelasnya.

Menurutnya, hal ini memerlukan keteladanan yang baik dan konsisten, disamping penguasaan yang baik pula tentang prinsip-prinsip PAUD yang benar.

“Untuk itu, persiapan dan pengembangan generasi emas ini memerlukan keterlibatan dan dukungan semua pihak, mulai dari orang tua, keluarga, masyarakat, perguruan tinggi yang memiliki jurusan atau konsentrasi PAUD, dan tentunya pemerintah,” terang Prof. Reni.

Lebih lanjut, dia mengatakan, gizi merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian Direktorat Jenderal PAUDNI.

Alasannya, menurutnya, untuk tumbuh kembang anak usia dini, segala kebutuhan esensi anak harus terpenuhi.

“Yaitu gizi, kesehatan, pendidikan, perawatan, pengasuhan, kesejahteraan, dan perlindungan. Oleh karena itulah Ditjen PAUDNI mendorong penyelenggarakan bentuk PAUD holistik integratif, yaitu PAUD yang mencakup pendidikan dan layanan terhadap pemenuhan seluruh kebutuhan dasar anak, termasuk kesehatan dan gizi mereka,” katanya, menjelaskan.

Hal inilah yang dicanangkan oleh Sarihusada, yang sampai saat ini sudah mendukung 13 PAUD yang menjadi percontohan di Yogyakarta, baik dalam bidang pembinaan tenaga pengajar maupun pengembangan materi pengajaran tambahan berbasis nutrisi sebagai bagian dari program ‘Ayo Melek Gizi’.

Salah satu program yang dikembangkan adalah ‘Kebun Nutrisi’ mini sebagai bagian dari kegiatan belajar di PAUD Rumah Srikandi Kemudo, Klaten.

Program ini mengajak anak belajar tentang pentingnya gizi sejak dini dengan cara yang menyenangkan yaitu belajar menanam dan merawat tanaman sumber pangan bergizi.