Peran ibu untuk si Pemimpin Kecil

Oleh suryani 19 Oct 2013

Peran ibu dalam Perkembangan Anak

Peran Ibu untuk si pemimpin kecil sangat penting. Awalnya seorang bayi hanya berinteraksi dengan seorang ibu ketika masih di dalam kandungan. Bahkan ada suatu bangsa, yaitu bangsa Yahudi yang mempersiapkan anaknya sejak masih bayi.
Hal pertama yang mereka pikirkan ketika tahu bahwa sang wanita  hamil, adalah mulai mengerjakan soal matematika yang rumit, dengan seorang ibu berpikir, membuat sang bayi yang memulai saraf otaknya juga berpikir. Makanan mereka juga dijaga, jauh dari asap rokok, pola makan dan asupan vitamin juga diperhatikan.

Tak heran, mereka jauh di atas rata-rata karena persiapan sejak masih bayi dalam kandungan. Ketika di sekolahpun, anak-anak didik dengan disiplin, dan olahraga memanah merupakan pelajaran wajib, untuk melatih otak untuk bisa fokus.


Mempersiapkan pemimpin itu bukan ketika ia duduk di sekolah dasar saja, tapi sejak kandungan. Karena pertumbuhan otak yang paling pesat terjadi sejak bayi berumur 0-5 tahun, dan terus berkembang hingga dewasa. Masa-masa itulah penanaman karakter dan pelatihan otak anak untuk lebih terarah sudah bisa dipersiapkan. Dengan mental yang kuat dan fokus, bisa dipastikan kedepannya nanti mereka bisa meraih apa yang mereka cita-citakan.
Namun amat disayangkan, banyak dari ibu-ibu yang tidak menyadari pentingnya pembelajaran bagi bayi. Setiap lajang yang akan menikah, hanya memikirkan untuk mempersiapkan pernikahan, tapi tidak pernah mempersiapkan diri dengan pengetahuan yang cukup bagaimana mendidik anak supaya berhasil.
Selain seorang ibu yang berperan penting, seorang ayah juga mengambil peran signifikan. Peran seorang Ayah yang menanamkan pentingnya hubungan manusia dan penciptanya, juga menanamkan moral dengan menjadi role model bagi anaknya. Selain secara psikologis harus kuat, secara jasmani juga seorang anak harus mendapat asupan gizi sedari muda. Menurut Sihad, dkk (2001), anak balita gizi buruk jika tidak segera mendapat penanganan yang serius akan memberikan dampak yang cukup fatal. Hasil penelitian pada awal usia 6 9 tahun yang sewaktu balita menderita gizi buruk memiliki rata-rata IQ yang lebih rendah 13,7 poin dibandingkan dengan anak yang tidak pernah mengalami gangguan gizi.
Asupan gizi yang cukup, juga menentukan perkembangan pertumbuhan jasmani dan mental anak kedepannya. Jadi dari segi nutrisi
juga harus diperhatikan.
Angela Kearney, Perwakilan UNICEF di Indonesia mengatakan bahwa asupan gizi yang optimal selama masa 1000 hari kehamilan, kelahiran dan awal masa kanak-kanak penting bagi kehidupan dewasa yang sehat dan untuk memastikan dapat belajar dengan optimal dan mencapai potensi penuh manusia. “Anak-anak yang tidak menerima asupan gizi yang memadai dalam jenjang waktu ini dapat menderita kerusakan tetap yang akan mempengaruhi produktivitas dan pembangunan sebuah negara,” kata Ms. Kearney. Dia menambahkan “langkah-langkah yang efektif didokumentasikan dengan baik. Diantaranya termasuk asupan gizi yang baik untuk ibu selama masa kehamilan, pemberian ASI eksklusif untuk bayi selama enam bulan pertama diikuti oleh asupan pelengkap yang sesuai dan pemberian ASI hingga anak berusia dua tahun sekaligus praktek-praktek kebersihan.”
Unicef merupakan organisasi PBB yang peduli dengan anak-anak, ada satu lagi organisasi yang juga sangat konsentrasi pada nutrisi bangsa yang informasinya dapat dicari di http://nutrisiuntukbangsa.org/. Di dalam web ini tersedia informasi yang lengkap tentang gizi, event-event, seminar, kegiatan yang berguna bagi sang ibu mempersiapkan pemimpin kecilnya.

sumber kutipan : http://www.unicef.org/indonesia/id/media_19966.html