Persiapan Ideal untuk si Kecil Tak Harus Mahal

Oleh Diah Kusumastuti 13 Oct 2013

Suatu hari di dalam kelas…

“He! Jangan duduk di atas meja! Meja tuh buat belajar! Duduk tuh di kursi! Kok aneh-aneh!”

Hmm… Itu suara Faiq! Ya, itu suara jagoan kecil saya, yang sedang berteriak-teriak pada teman-temannya yang sedang gaduh di kelas. Pada jam istirahat tersebut, teman-temannya ada yang berlari-lari, ada yang duduk di atas meja, bahkan berdiri di atasnya. Aduh, tetapi rasanya saya malu kepada wali murid yang lain ketika melihat Faiq berteriak-teriak di dalam kelas seperti itu. Mereka mungkin ada yang beranggapan anak saya suka mengatur-ngatur temannya.

Usia Faiq 3 tahun 6 bulan. Dia baru masuk sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) kurang lebih sebulan yang lalu. Faiq, bukanlah (atau lebih tepatnya belum) anak pintar di kelasnya. Dia juga bukan anak yang aktif dalam setiap aktivitas kelas. Kehadirannya yang paling akhir di dalam kelas (tertinggal 2 bulan dari teman-temannya, karena daftarnya terlambat) dan rumahnya yang paling jauh dari sekolah, membuatnya belum begitu akrab dengan teman-temannya. Apalagi kami adalah warga baru di lingkungan tersebut.

Dia temasuk anak yang kurang cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dia masih sulit untuk diajak bermain bersama teman-teman barunya. Tetapi bila ada hal-hal yang kurang menyenangkan baginya dan dia anggap “salah”, maka dia tak segan-segan menegur temannya. Seperti yang dia lakukan di dalam kelas tersebut. Pernah juga ada temannya yang berisik ketika guru sedang bercerita, maka dia langsung menegurnya. Tetapi sayangnya dia menegur dengan berteriak dan suaranya sangat nyaring (dan kadang bahasanya lucu), sehingga seringkali saya tersenyum geli dan malu sendiri. Yah, namanya juga anak-anak, belum bisa mengendalikan emosi dan menata bahasa :-)

Saya paham bahwasannya setiap manusia adalah pemimpin. Setidaknya pemimpin bagi dirinya sendiri. Tetapi saya juga tahu bahwa tidak setiap manusia mampu untuk menjadi pemimpin bagi banyak manusia yang lain. Dan tak ada salahnya bila saya berandai-andai atau bermimpi, suatu hari nanti anak saya menjadi pemimpin bagi banyak orang. Meski saya sering malu dengan ulah anak saya, namun dalam hati saya bersyukur. Karena saya melihat anak saya mempunyai bibit untuk menjadi seorang pemimpin. Dia berani menegur temannya, dia berani bertindak tegas, tak mau tinggal diam melihat “keburukan”, dan dia juga suka menolong temannya/orang lain.

Siapa yang tak bahagia bila anaknya kelak menjadi pemimpin sebuah perusahaan yang memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang? Atau mejadi pemimpin organisasi yang memberikan banyak manfaat positif bagi anggotanya? Atau mejadi pemimpin suatu daerah, bahkan negara? Tentu saya akan sangat bahagia bila mempunyai anak seperti itu. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain? Dan bagaimana jika saya yang melahirkan manusia penuh manfaat itu? Betapa bahagianya!

Lalu, apa yang sudah saya lakukan hingga detik ini dan selanjutnya bagi mimpi saya itu? Apakah saya perlu mempersiapkan anak saya untuk menjadi pemimpin?

Bagi sebuah mimpi, setiap usaha adalah kewajiban. Usaha dengan kerja keras disertai doa adalah kunci untuk meraih mimpi. Saya pun akan senantiasa berusaha dan berdoa untuk kebaikan masa depan anak saya. Maka sejak dini, saya akan mempersiapkan anak saya menjadi anak yang sehat, cerdas, dan berakhlak mulia. Karena bila anak saya kelak menjadi seorang pemimpin, saya ingin dia menjadi seorang pemimpin yang jujur, cerdas, amanah (dapat dipercaya), dan mampu menebar manfaat bagi orang lain dengan cara yang baik. Untuk mengemban amanah itu tentu saja diperlukan kesehatan fisik dan mental yang baik.

Mungkin bagi sebagian orang, untuk mewujudkan mimpi yang sempurna diperlukan persiapan yang ideal pula. Seperti menyiapkan anak untuk menjadi seorang pemimpin, mungkin harus dengan gizi yang ideal, perangkat bermain dan belajar yang ideal, atau sekolah yang ideal. Namun bagi saya yang bukan berasal dari golongan berlimpah materi, hal itu tidak berlaku. Persiapan yang ideal tak harus mahal. Saya yakin untuk menjadi seseorang yang hebat tak berarti harus bermodal materi yang hebat pula. Bukankah sudah kita saksikan, berapa banyak orang yang berhasil menjadi manusia yang cerdas, sukses dan berpengaruh di masyarakat, mereka berasal dari ayah dan ibu yang tidak mampu? Berasal dari lingkungan yang minim fasilitas, atau dari kampung yang jauh dengan kemajuan teknologi?

Saya ingin anak saya sehat dan kuat. Maka makanan yang bergizi memang mutlak diperlukan sebagai asupan yang diberikan kepada anak. Nitrisi yang masuk ke dalam tubuh anak harus cukup dan seimbang. Nasi, sayur, lauk, buah dan susu saya usahakan agar selalu tersedia untuk kebutuhan si kecil dan saya usahakan pula si kecil mau menyantapnya.

Tetapi, bukan berarti makanan bergizi dan lengkap adalah makanan yang mahal, bukan? Misalnya, tempe mendoan adalah makanan favorit Faiq. Saya pun tidak malu ketika membawa bekal berlauk tempe mendoan ke sekolah Faiq. Toh tempe yang murah itu juga mengandung protein sebaik daging atau telor yang dibawa teman-temannya. Sayur dan buah juga tak selalu harus mahal dan tak perlu membeli di supermarket untuk menjamin kualitasnya. Asal diolah dan disantap dengan cara yang benar, nilai gizinya tentu tak akan berbeda.

Soal menjaga kesehatan, tak berarti harus berlaku terlalu preventif, hingga akhirnya membatasi ruang gerak anak. Saya biarkan Faiq bermain apapun dan di mana pun dia suka. Entah bermain pasir, bermain air sepuasnya, atau bahkan bermain di sawah. Tak perlu terlalu takut akan kotor atau terserang penyakit. Asal kita sebagai orang tua selalu menjaga dan mengawasinya, hal itu justru akan menambah wawasan dan pengalamannya tentang lingkungan. Pun membiarkannya berkreasi dan berimajinasi. Agar kelak jika ia menjadi seorang pemimpin, pengetahuannya tidak terbatas pada hal-hal yang “baik” saja.

Saya ingin anak saya cerdas dan kreatif. Dan saya sadar bahwa sekolah yang berkualitas merupakan tempat menimba pendidikan yang baik, yang dapat menjadikan anak cerdas dan kreatif. Tetapi, biasanya, sekolah berkualitas identik denga sekolah yang mahal. Sangat jarang ditemukan sekolah berkualitas dengan biaya minim. Saya sebagai orang tua “kelas bawah” juga tak memaksakan diri untuk menyekolahkan anak di sekolah berkualitas atau favorit. Mungkin nanti, bila memang anak saya pandai, tak menutup kemungkinan untuk dapat mengenyam pendidikan berkualitas di sekolah unggulan melalui program beasiswa.  Atau mungkin jika keadaan sudah berubah: saya menjadi orang kaya, dan saya mampu menyekolahkan anak saya di sekolah favorit ;-)

Sebagai ibu, saya akan berusaha maksimal untuk menambal kekurangan yang sekolah tak mampu berikan. Saat ini, dengan perkembangan teknologi yang pesat, ilmu dan segala informasi bisa dicari dengan relatif mudah melalui berbagai literatur baik di dalam buku-buku ataupun internet. Bila menginginkan anak menjadi cerdas, maka ibunya pun tak boleh ketinggalan. Saya harus terus belajar agar anak saya bisa lebih cerdas dari saya. Saya juga tak boleh terlalu tergantung kepada sekolah untuk menjadikan anak saya sendiri menjadi lebih pandai.

Terakhir, saya ingin anak saya berakhlak mulia, hingga kelak ia dewasa. Saya tahu sekolah dan lingkungan akan sangat berpengaruh pada perkembangan anak saya nantinya. Tetapi menurut saya, keluarga adalah pondasi utama yang akan mewarnai kehidupannya kelak. Di dalam kehidupan keluarga inilah saya akan mendidik anak saya mengenai akhlak dan karakter yang baik. Menurut saya, sebaik apapun kualitas sekolah, namun bila anak tak memiliki akhlak dan karakter yang baik, percuma. Sudah banyak contoh tingkah laku orang-orang hebat di negeri ini, yang berprestasi namun ironisnya juga pandai berkorupsi. Naudzubillahi min dzalik.

Seperti halnya masakan sang ibu yang akan selalu dirindukan anak-anaknya kelak, maka teladan orang tua adalah yang hal yang akan terus melekat di benak ananda hingga di kehidupan yang akan datang. Maka dari rumahlah pendidikan karakter dan akhlak harus saya bangun dengan sebaik-baiknya. Dengan memberikan pendidikan mengenai hal itu dan tentu saja memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Saya akan terus berusaha memupuk bekal itu dalam diri anak saya, hingga kelak ia dewasa. Karena menurut saya itulah bekal terpenting dalam hidup seseorang.

Materi pelajaran bisa dipelajari di sekolah, dicari melalui internet, diburu di mana saja, namun pendidikan akhlak dan karakter yang baik memerlukan pembiasaan yang kontinyu dan teladan yang nyata dari orang-orang terdekat, yaitu ayah dan ibunya. Sehingga bila ia keluar rumah, pondasi kejiwaannya telah kuat, dia tak akan mudah terombang-ambing oleh arus yang lebih sering bersifat negatif. Dan, agar bila kelak dia menjadi seorang pemimpin, dia benar-benar mampu memberi teladan yang baik bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Bila kelak anak saya menjadi seorang pemimpin, saya benar-benar berharap dia menjadi pemimpin yang berakhlak mulia. Yang jujur, cerdas, amanah, dan menebar manfaat dalam kebaikan. Namun bilapun ia tak mampu menjadi pemimpin bagi banyak orang, saya akan tetap bangga bila ia menjadi pribadi yang berakhlak mulia, yang tetap mampu menebar manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.