Stimulasi untuk si Pemimpin Kecil

Oleh rina susanti 19 Oct 2013

Peran Ibu

Ibu memiliki peran lebih besar dalam tumbuh kembang anak walaupun ia berperan juga sebagai Ibu bekerja. Itu saya rasakan saat masih bekerja. Saya yang membuat aturan detail untuk pengasuh putri kami  Azka Zahra (5y 7m) dan Khalifah Ahsan (2y)mengenai lamanya menonton, harus main di luar rumah setiap pagi atau sore hari jadi bisa berinteraksi dengan teman sebaya atau mengeksplorasi lingkungan sekitarnya, tidak boleh banyak melarang jika ana-anak ingin mencoba hal baru selama tidak berbahaya dan bisa dijaga. Saya pun akan menanyakan bagaimana makannya hari ini? Lahap? Makanan apa yang paling disukainya di menu hari ini? Tahu dan telur orek? Sup? Filet ikan goreng?

Itu saja belum cukup, saya suka mencocokkan perkembangan  anak-anak dengan pengetahuan yang saya dapat di buku atau majalah bertema Parenting.

Bukan berarti Ayah tidak berperan hanya porsinya tidak sebesar Ibu. Alhamdulillah Papanya tidak lepas tangan, dia suka mengoreksi dan mengevaluasi perkembangan anak-anak. Namun jangan membayangkan Papa mencatat dengan detail perkembangan anak-anak dan mencocokkannya  dengan  Denver Chart ya hehehe . Yang dilakukan Papanya lebih pada  evaluasi saat melihat/mendengar  hal negatif dari anak-anak. Misalnya ketika Azka bilang gak bisa padahal belum mencoba, takut hantu (siapa yang nakut-nakutin Azka sama hantu, teman atau mungkin mamanya yang nakut-nakutin J) dst.

Alarm jadi Ibu yang Baik 

Setelah bisa mendampingin anak-anak sepanjang hari ( bulan Juni lalu saya memutuskan resign) ternyata bukan hal mudah menerapan semua pengetahuan parenting agar perkembangan kemampuan kognitif dan afektif anak-anak tumbuh secara maksimal. Dibutuhkan kesabaran dan konsistensi yang kuat. Menahan diri tidak menaikkan intonasi suara ketika si kecil membantah atau menolak permintaan kita untuk membereskan mainannya atau melakukan kesalahan. Harus super sabar dan konsisten ketika si kecil tantrum karena keinginannya tidak dipenuhi.

Dengan secara rutin meng up grade pengetahuan mengenai parenting melalui buku, majalah dan sesekali ikut workshop atau seminar parenting.  Saya seperti memiliki alarm untuk sabar dan konsisten, teringat tulisan di salah satu buku; ‘Hanya karena hal-hal sepele kita (orangtua) sering jadi tidak sabaran pada anak. Padahal, anak begitu sabar menunggu kita yang tak kunjung menjadi orangtua yang sabar.’* Beberapa buku sudah saya review dan bisa dilihat di sini .

Sayang, saya tidak bisa menghadiri acara  talkshow yang diadakan Sarihusada, kamis lalu di Kidzania (17 okt 2013) karena alasan klasik, art pulkam sedangkan Papanya kerja.

Jujur, saya kadang kesal juga rumah selalu tidak rapih, anak-anak seenaknya main air pagi, siang sore atau mengangkut karpet, batal, selimut dari kamar ke ruang tengah. Tapi harus sabar, berisi nasehat bukan ngomel dan untuk bisa itu butuh usaha keras. untuk meredakan emosi biasanya saya menarik nafas berkali-kali, memejamkan mata dan menyebut matra sabar…sabar…

Saya dan suami sepakat apapun cita-cita anak kami kelak akan selalu didukung selama itu baik. Artinya saya dan suami tidak mendoktrin anak-anak  dengan satu profesi tertentu.  Jadi kami selalu support  khayalan Azka menjadi apa kelak jika sudah besar dengan memberinya penjelasan. Saat mengajaknya ke kebun binatang Azka ingin jadi dokter binatang, saat melihat dan menikmati kue enak Azka ingin jadi juru masak, saat naik kereta api Azka ingin jadi supir kereta api 

cita-cita azka masih berubah-rubah :)

Ya apapun cita-citanya, saat golden agenya kini, kami harus menstimulasi dan memupuk mereka dengan karakter seorang pemimpin kecil.  Karekter ini yang kelak menentukan kesuksesan mereka   dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Stimulasi untuk  Pemimpin Kecil

Beberapa sifat pemimpin kecil versi saya di antaranya; sehat dan cerdas,  ingin memimpin,  memiliki rasa tanggung jawab, berani, kreatif, mandiri, gigih, percaya diri,  imajinatif, ramah, suka menolong, bisa menahan diri, aktif dan kritis.

 Sebagian sifat itu sudah dimiliki Azka, sebagian masih harus distimulasi karena kurang malah belum nampak. Oh ya, ditulisan ini saya hanya menceritakan stimulasi yang sudah dan akan dilakukan untuk Azka Zahra saja.

Sehat dan Cerdas

Kesadaran untuk mengkonsumsi makanan bergizi agar anak sehat dan cerdas, saya mulai sejak merencanakan kehamilan karena pembentukan otak si kecil dimulai sesaat setelah konsepsi dan berlangsung sampai 2-3 tahun pertama kehidupannya.  Memasuki usia balita, asupan makanan dengan kandungan gizi seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan susu sebagai penyempurna. beberapa Ibu ada yang masih berpendapat pemberian susu pada anak selesai saat ASI selesai (2 tahun) pada konsumsi susu dengan kelengkapan kandungan gizinya sangat diperlukan anak untuk perkembangan otaknya selain  mencegah anak mengalami mal nutrisi.

Hal yang terduga lain setelah menjadi Ibu adalah ternyata tidak mudah (bagi saya) memberi anak-anak makan. Ada masanya mereka gak mau makan, untuk menyiasatinya saya memasak lebih dari dua macam makanan dadakan  atau mencoba resep baru. Saya tidak anti makanan instan tapi sangat-sangat membatasinya, hanya keadaan ‘darurat’ :) 

Alhamdulillah selera makan Azka kini tidak membuat saya bingung. Tinggal Khalif yang masih uji coba makanan dan olahannya yang dia suka.

Keinginan Memimpin

Keinginan memimpin sudah terlihat pada Azka jika bermain dengan teman sebaya atau yang lebih kecil, Azka suka mengatur dan selalu ingin jadi yang diikuti.  Tapi jika bermain dengan teman yang usianya di atas (kebetulan beberapa tetangga kami anaknya sudah sd), Azka lebih sering jadi ‘anak bawang’. Azka kadang terlihat kurang senang dengan situasi itu karena ia yang suka diminta jadi kucing atau disuruh ini itu.

“Aku gak mau kan jadi kucing terus?”

“Kenapa?”

“Aku kan mau ngumpet juga.”

“Iya harusnya giliran,” kata saya.”

Stimulasi yang saya lakukan, memberi tahu Azka untuk berani mengatakan,’tidak mau’ jika sesuatu itu tidak mau dilakukan karena merasa dirugikan, berani mengungkapkan pendapat atau keinginannya dan berani berkata salah jika suatu hal salah. Azka pernah ikut-ikutan memetik bunga mawar milik tetangga karena temannya melakukannya padahal Azka tahu itu salah. Saat saya tegur Azka berkata,”Tapi kan semua teman aku memetik juga.” Saya pun memberi pengertian jika sesuatu salah walaupun dilakukan banyak orang jangan diikuti dan jika salah harus meminta maaf yaitu pada pemilik bunga. Lalu saya pun mengantar Azka meminta maaf. Untunglah saya kenal baik dengan tetangga ini, bahkan dekat jadi tidak terlalu sungkan J. Dengan begitu Azka pun belajar bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.

Berani dan Percaya diri

Ini adalah foto saat Azka jadi juara lomba nyanyi di sekolahnya. Bukan karena suaranya merdu lho. Tapi seperti yang dikatakan gurunya penilaian dari keberanian dan kepercayaan diri anak. kebanyakan anak-anak lain bernyanyi sambil cengengesan dan setengah bercanda untuk menutupi rasa malunya sebaliknya Azka serius dan lantang bernyanyi sampai mamanya melongo, karena Azka gak bilang kalau mau ikut lomba nyanyi jadi asli tanpa latihan.

ma, aku juara

 

Rasa berani dan percaya diri Azka tidak timbul secara instan tapi di stimulasi melalui hal-hal kecil dan sederhana. Seperti memberi kesempatan memilih pakaian yang ingin dikenakan, memintanya mengungkapkan setiap keinginan atau pendapat, dan  memberi apresiasi terhadap keberhasilan yang sudah ia capai. Selain pujian kami memajang di dinding atau menyimpan di folder hasil karya Azka.

 folder karya azka

Untuk menambah rasa percaya dirinya kami kerap melibatkan  Azka saat baik dalam pekerjaan rumah maupun saat menentukan pilihan, misal pilihan tempat  makan di luar atau pilihan tempat berlibur. 

Kami pun selalu mendorongnya dengan kata-kata positif seperti; harus coba, Azka  

Kreatif dan Imajinatif

Saya percaya, kretifitas dan imajinasi anak dapat berkembang maksimal dengan sering membacakannya buku dan memberi ruang untuk berekplorasi. Jadi saya membatasi lamanya   menonton dengan konsekuensi saya harus mengawasi Azka saat bermain di luar, menemani dan memfasilitasi Azka membuat beragam kreasi  istilah Azka kreasi ‘mister maker. Azka hanya  sekali lho nonton acara mister maker itu pun di tv tetangga secara gak sengaja tapi Azka mengenal mister maker sangat dekat dari seri bukunya yang saya beli.

ma, aku kayak monster gak?
Resiko lain, rumah jadi hampir tidak pernah rapih belum termasuk jika Azka sudah mengajak teman-temannya main di rumah. Tapi seperti sebuah pepatah itulah yang membuat rumah selalu terasa hangat J

Mandiri dan Gigih

Untuk beberapa hal Azka mandiri, hal lain masih perlu di dorong dan diberi pengertian berulang.  Msal, untuk soal sekolah Azka tak pernah merengek minta ditunggui dari mulai awal masuk sekolah Kelompok Bermain, TK A dan  TK B (TK A dan B Azka , berbeda sekolah karena kami pindah rumah). Mungkin karena Azka terbiasa ditinggal saya bekerja J

Sifat manjanya sering keluar saat di rumah atau saat saya ada di sampingnya. sesekali masih minta makan disuapin, kalau tidur harus ditemani dulu, dan masih banyak lagi. Stimulasinya, memberi pengertian dan sebab akibat kenapa harus bisa sendiri. 

Azka seperti anak-anak pada umumnya, gigih hanya jika sesuatu itu menyenangkan hatinya dan mudah untuk dikerjakan. Tapi giliran mencari atau mencoba sesuatu baru, lebih sering berkata ‘nggak bisa, aku kan masih kecil’ atau ‘gak ketemu’, padahal saya tahu dia belum mencoba atau mencari .

Yang saya lakukan, menanamkan bahwa harus ada usaha segala sesuatu yang kita inginkan. Jika ingin cepat bisa membaca buku sendiri maka harus  latihan membaca walaupun salah terus. Azka sempat uring-uringan karena gak bisa baca buku.

 buku yang mengobsesi azka pengen bisa baca

Kini Azka sudah bisa membaca lho walaupun terbata-bata. kami menanamkan kecintaan Azka pada buku sejak bayi dengan cara selalu membelikan buku setiap bulan untuk dibacakan. Saya benar-benar tidak memaksa Azka belajar membaca lho hanya memancing dan berhasil J. Proses belajarnya pun singkat. Saya percaya keinginan besar Azka untuk bisa membaca juga karena lingkungan rumah mendukung. Saya dan suami sama-sama suka membaca buku dan hanya menonton saat anak-anak tidur – jadi mereka tahunya Mama Papa tidak suka nonton heheh.

Saya menerapkan metode yang diciptakan kepala sekolah Azka, untuk memancing keinginannya baca buku. Metodenya bisa dilihat di sini.

Ramah dan Suka Menolong

Sifat ramah Azka masih sangat kurang terutama jika berhubungan dengan orang kurang berinteraksi dengan dirinya seperti Ibu beberapa tetangga padahal anaknya teman bermain. Jika di sapa lebih seringnya Azka melengos. Yang saya lakukan, meminta Azka menjawab jika di tegur tetangga.  Selain itu saya pun memberi contoh dengan menyapa tetangga jika bertemu atau minimal melempar senyum jika tidak terlalu akrab.

Tapi Azka suka sekali ‘menolong’mama menyiram bunga,  mencuci piring atau menolong Papanya bersihin kolam ikan dan cuci kendaraan. Yap, Azka masih pilih-pilih kalau menolong, memilih yang menguntungkan dan mengasikkan untuknya. 

Stimulasi yang saya lakukan membacakan buku yang temanya menumbuhkan simpati dan empati selain memberi ruang untuk Azka bermian dengan teman sebaya dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

 interaksi dengan teman sebaya dan lingkungan

Azka bukan tipe anak yang bisa duduk manis berlam-lama. walaupun tidak ada teman dan  tidak boleh nonton, selalu saja ada ide untuk main sendiri. Jadi mengunci pintu rumah  untuk memaksanya tidur siang tanpa ditemani tidak akan berhasil, karena Azka akan pura-pura tidur padahal main sendiri. Begitupun saat di sekolah, menurut laporan gurunya inisiatif Azka untuk selalu jadi yang terpilih dan didepan cukup bagus. 

Aktif dan Kritis

Tapi untuk kekritisan masih kurang. Stimulasi yang saya lakukan mendorong Azka untuk tidak ragu mengutarakan pendapatnya,melatih konsentrasinya  dan mengajaknya ke tempat wisata edukatif.

 mengenal budaya dari mana mama dan papanya berasal di Musieum Indonesia TMII

  

Jadi Ibu itu Luar Biasa


Lepas dari semua usaha yang saya lakukan agar kedua anak kami memiliki sifat pemimpin kecil, yang tak kalah penting adalah memberi contoh alias menjadi figure untuk mereka.

Ada kisah menarik dan sedikit menyentil  mengenai ini. Beberapa waktu lalu, saya berbicang dengan wali kelas Azka di sekolah, bertanya bagaimana sikap dan perilaku Azka di sekolah.

“Azka susah kalau diminta minta maaf. kalau akhirnya mau setelah lama sekali.” Ehm, di rumah juga seperti itu, Azka sukar sekali minta maaf.

Jangan-jangan ini karena saya yang sering ‘lupa’ minta maaf sama Azka jika sudah ngomel karena gak nurut. 

Sejak itu saya selalu memeluk Azka dan meminta maaf jika sudah melakukan kesalahan atau setelah meminta Azka mengalah (lagi dan lagi) sama adiknya.

Ehm, menjadi seorang Ibu memang luar biasa, bisa membuat diri bertranformasi menjadi lebih baik.

Asah, Asih, Asuh

Namun yang tak kalah penting  adalah stimulasi  harus dibangun  dalam suasana hangat, penuh cinta dan kasih sayang. Atau penerapan  pola asah, asih dan asuh.  Karena merawat dan mengasuh anak dengan melibatkan perasaan cinta dan kasih sayang membantu tumbuh kembang dan kecerdasan anak lebih optimal.

Berikut ada puisi menarik milik Kahlil Gibran, yang bisa di bilang jadi ‘alarm’ untuk saya.

Anakmu bukanlah milikmu

Mereka adalah putra-putri sang hidup

Yang rindu akan dirinya sendiri

Mereka lahir lewat engkau

Tapi bukan dari engkau

Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu

Berikanlah mereka kasih sayangmu

Tetapi jangan sodorkan pemikiranmu

Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri

Patut kau berikan rumah bagi raganya

Tetapi tidak bagi jiwanya

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan

Yang tiada daoat kau kunjungi

Sekalipun dalam mimpimu

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka

Tetapi jangan membuat mereka menyerupaimu

Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur

Ataupun tenggelam ke masa lampau

Engkaulah busur asal anakmu, anak panah hidup

Melesat pergi

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel ‘Peran Ibu untuk Si Pemimpin Kecil’ yang diadakan oleh Sarihusada

 
1 Komentar

22 Oct 2013 11:26

Yups...harus bisa asah, asih, asuh