Tangis Bangga Tumbuh Kembang Anakku Tersayang

Oleh Ana Nurul Fadhillah 18 Oct 2013

Aku adalah seorang ibu yang memiliki dua orang anak, yang aku beri nama Faruq dan Adil. Umur mereka masing-masing 4 tahun dan 3 tahun, mereka adalah kedua buah hati kecilku yang selalu menenmani hari-hariku. Dua anak laki-laki yang cerdas yang selalu melakukan hal menakjubkan ataupun kejutan yang membuat ibundanya tersenyum bahkan menangis bangga. Kini aku akan menceritakan salah satu pengalaman anak pertamaku yang membuat aku menangis bangga.

Saat itu anakku berumur genap 4 tahun dan sudah siap untuk bersekolah ke jenjang taman kanak-kanak(TK). Sebelumnya aku sudah mencoba menyekolahkan dia ke paud, maksut hati agar dia siap lebih dini dan melatih keberanian, tapi namanya juga anak-anak masih semaunya sendiri dan masih ingin sibuk dengan dunianya. Dalam hati aku selalu percaya ini bukan karena anakku tidak mampu bersekolah dan bergaul, hanya saja dia belum siap menunjukan bakat dan talentanya di depan banyak orang. Aku selalu memperhatikan tumbuh kembangnya, seperti : memberi makanan yang bergizi, susu yang cukup, menghindari makanan ringan yang berpengawet, dsb. Tidak hanya itu aku selalu telaten mengajarinya membaca surat pendek dan huruf arab, membaca huruf abjad, menulis huruf,menyanyi hingga mewarnai. Profesiku sebagai guru SD, khususnya aku juga mengajar kelas satu, bukan hal yang sulit bagiku untuk mengajari dan melatih buah hatiku tersayang ini.

Hingga akhirnya, ia bersedia bersekolah ke jenjang taman kanak-kanak (TK). Awal bersekolah aku cukup dibuatnya menangis sedih, ia tidak ingin bergaul dengan teman-temannya, aku harus ada disampingnya, dan ia tidak mau berbaris sebelum masuk ke kelas. Kejadian seperti ini aku rasakan selama beberapa minggu. Berbagai hal aku lakukan agar dia menunjukan bakat dan kecerdasannya, karena aku mengerti sebenarnya ia bisa dan aku yakin itu. Aku bersabar dan selalu telaten terhadapnya, sampai akhirnya aku dibuatnya menangis bangga. Suatu ketika ibu gurunya berkata “Siapa yang bisa menyakikan sebuah lagu di depan?”. Aku hanya melihat kesunyian dari wajah-wajah siswa siswi taman kanak-kanak yang berada di kelas, karena tidak merasa digubris perkataannya, guru tersebut mengulanginya sekali lagi. Anakku, ya anakku Muhamad Umar Al Faruq. Dia dengan gagahnya berjalan ke depan dan tersenyum ke arahku kemudian menyanyikan lagu rohani dengan lantangnya “Robbana atina fidun ya khasanah wa fil a khiroti khasanataw waqina adhabannar” dan diulangnya selama dua kali. Aku memeluknya dan menangis bangga. Semenjak kejadian itulah dia mulai berubah secara bertahap, seperti : mau berbaris, mulai bergaul dengan teman-temannya, selalu menjawab pertanyaan guru dan tidak pernah malu maju di depan kelas. Aku yakin semua itu karena ia merasa dirinya mampu dan mendapatkan banyak pujian  yang membuat dirinya lebih percaya diri.

Bunda, setiap anak memiliki bakat dan talentanya sendiri dan entah kapan mereka mampu menunjukan bakat mereka tersebut. Bersabarlah dan terus melatih perkembangannya, jangan pernah ada kekerasan untuk mendidik dan amarah yang membuat kepercayaan dirinya hilang. Kalau bukan kita, siapa lagi? Salam nutrisi bangsa!!