Teladan Berbicara Lebih Kuat Dari Kata-Kata

Oleh mega aprilianti 26 Sep 2013

Blog

Hampir semua orang mengetahui fakta bahwa teladan berteriak lebih kencang daripada kata-kata, namun sedikit yang meresapi benar-benar makna pentingnya. Menjadi ibu adalah idaman kebanyakan wanita, namun apakah setiap wanita bisa menjadi ibu yang baik, itu pertanyaan besar yang perlu dijawab oleh masing-masing dari kita.

Warisan ilmu ‘keibuan’

Saat bertumbuh dewasa, setiap wanita sedikit banyak mewarisi ilmu ‘keibuan’ dari ibunya. Ia melihat bagaimana cara ibunya membesarkannya; memperlakukan ayahnya, tetangganya, temannya, bahkan pengemis. Dari ibu, kita belajar banyak hal, mulai dari cara berdandan, etika makan, hingga bagaimana harus bersikap terhadap kondisi tertentu.

Saat harus ada yang diubah..

Mengubah teladan dan ajaran yang didapat bertahun-tahun lamanya tentu tidaklah mudah, karena itu seperti sudah mendarah daging. Namun meski mustahil, hal itu masih mungkin dilakukan. Harus diakui tak semua yang kita lihat dari sosok ibu, kesemuanya patut ditiru. Beberapa mungkin perlu diubah, seperti sifat pelit misalnya, karena bertentangan dengan nurani kita sebagai anak. Intinya, selalu ada hal-hal yang ingin kita ubah dari warisan gen ‘keibuan’, yang ingin kita terapkan pada buah hati kita sendiri nantinya.

Satu hal terpenting..

Apapun hal baru yang ingin kita terapkan sebagai ibu, satu kunci terpenting yang tetap patut kita ingat adalah bahwa teladan tetap nomor 1. Kita bisa saja menasehati buah hati dari pagi sampai malam, saat rambut masih lurus hingga keriting, namun tanpa teladan nyata (bahwa kita melakukannya juga), semua itu tak berarti. Menjadi ibu yang baik, untungnya tak harus banyak bicara karena kita bisa ‘memenangkan’ masa depan buah hati lewat teladan kita sendiri.

Yang sering terlupakan..

Coba renungkan sejenak, kita ingin anak jadi seperti apa, di situlah kita perlu memberi contoh lebih dulu.

Ingin anak murah hati dan suka berbagi? Kita duluan yang begitu.
Ingin anak berhenti berteriak-teriak di rumah? Kita pun harus mengoreksi nada suara kita saat bicara dengannya.
Ingin anak jujur? Kita juga tidak boleh memintanya berbohong pada orang lain, “ssst, katakan ibu tidak di rumah.”

Ingin anak mendengarkan? Dengarkan mereka juga.
Ingin anak percaya diri? Berhentilah memaki atau merendahkan kemampuannya.
Ingin anak hidup dalam rasa aman? Jangan pernah mengancamnya.
Ingin anak tidak ringan tangan? Anda juga harus demikian.
Daftar ini masih panjang bila diteruskan, dan kita bisa meneruskannya sendiri.

Anak mirip spons, menyerap air yang ada di sekitarnya. Apapun teladan yang kita berikan, akan ia serap dan lakukan. Jadi bila kita ingin anak menjadi pemimpin sukses yang rendah hati di masa depan, semua itu dimulai dari kita lebih dulu. Ibu yang baik adalah teladan yang baik juga, ia bisa memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin anaknya. Semangaat ibu!