When Mother Meets Mr.President

Oleh Murtiyarini . 21 Oct 2013

Dag dig dug hati saya saat berada di tengah kerumunan peringatan hari kemerdekaan. Semua hadirin mungkin berperasaan serupa, menantikan Mr. President naik ke atas panggung untuk menyampaikan sambutan.
Inilah saatnya…
 
 
“Mari kita mendengarkan sambutan dari Mr. President. Waktu dan tempat kami dipersilakan, ” kata ibu MC. 
Hening sejenak. 
Ibu MC kembali mempersilakan,  ”Mr. President….
 
 
“MAMAAAA, HUAAAA!” teriak Asa sambil menangis.
 
 
Buyar deh hayalan saya. Rupanya saya bukan pada acara kepresidenan! 
 
Saya sedang di playgroup tempat anak saya, Asa (3,5 tahun) bersekolah. Hari ini ada acara peringatan 17 Agustus.  Sedianya, Asa dan teman-temannya akan tampil dipanggung untuk menyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke. Sebenarnya Asa sudah hapal lagu itu, di rumah. Giliran waktunya tiba, Asa malah tidak mau naik ke panggung karena malu, lalu menangis.
 
 
 
“Aduh, Mr. President-ku ! Sudah beberapa minggu kita berlatih menyanyi, Mama mengaharapkanmu berani tampil. Tapi bagaimana mau jadi pemimpin kecil kalau pemalu ? ” ego saya berbisik.

 
 
Saya coba mendamaikan hati. Asa bukan satu-satunya anak yang pemalu. Banyak anak menjadi pemalu terutama pada situasi dan orang baru. Lantas, apakah artinya membuyarkan impian para bunda untuk mempunyai pemimpin cilik? 
 
 
Saya berdiskusi dengan suami,  apakah Asa bisa menjadi pemimpin kecil dengan karakternya seperti itu?  
 
 
Eh, suami malah bertanya balik, 
 
Apa harapan kita pada Asa sebagai pemimpin kecil? Berani tampil? Menjadi peragawan cilik? Atau menjadi juara?”
 
 
Jleeeb!! Saya terkaget, sejenak bingung mau jawab apa. Iya juga, apa harapan saya?
 
 
“Yang pasti kita tidak ingin menjadikan harapan sebagai beban bagi anak. Kita ingin menanamkan hal-hal baik.” Jawab saya.
 
 
“Nah, kalau gitu kenapa mesti panik? Kita punya parenting style sendiri, bisa sama atau berbeda dengan gaya orang lain,” kata suami.
 
 
Oiya, sebenarnya kejadian “Mr. President enggan ke panggung” bukan terjadi pertama kali. Sebelumnya Asa sering menyembunyikan tangan saat diajak salaman, mengekor di belakang saya saat dibawa ke acara kumpul-kumpul. 
 
 
Kesal? Minder? Kecewa? Jujur, saya pernah merasakan itu. Untungnya tidak lama. Saya mengembalikan pada diri sendiri bagaimana jika saya dan Asa bertukar posisi. 
 
 
Saya tanamkan dalam diri sendiri, bahwa saya tetap berbangga dan meyakini bahwa Asa mempunyai kelebihannya sebagai pemimpin kecil. Tidak harus terlihat sekarang, akan ada masa yang tepat untuknya.  Menumbuhkan sifat kepemimpinan pada anak membutuhkan proses panjang. Hasilnya bisa cepat, bisa juga lambat. Tidak ada target tertentu dalam pencapaian, hanya ingin perkembangan lebih baik dari waktu ke waktu. 
 
 
Ketika saya pada kakak saya tentang sikap pemalu Asa, beliau tertawa, 
“Apa kamu lupa, dulu kamu kalau ditanya orang, kamu menggeliat malu seperti ulat sedang disentuh?” Waduh, diumpakan ulat deh, hahaha. 
 
 
Itu gambaran betapa pemalunya saya. Saya menyiasati kekurangan dengan mengasah kelebihan saya. Saya lebih bisa menulis daripada bicara. Dan nyatanya saya tetap bisa menjadi juara kelas, menjadi ketua kelompok saat sekolah, menjadi ketua klub sains saat kuliah dan sekarang mempunyai pergaulan yang luas.  Jadi, jangan berhenti berharap dan jangan putus asa. 
 
 
Saya tahu, sebagai orangtua harus mencari informasi tentang cara menumbuhkan sikap kepemimpinan pada anak. Tetapi, bukan hal yang mudah untuk menjalankan teori-teori. Karakter anak, orang tua dan pola asuh setiap keluarga tidak sama. Sehingga cara terbaik menurut saya adalah menggabungkan semua ilmu dengan pengalaman masa kecil, nasehat orangtua saya dan gaya kita berinteraksi dengan anak.  
 
 
Konon, karakteristik pemimpin bisa ditanamkan sejak usia dini. Karakteristik pemimpin kecil antara lain mandiri, berani, bertanggung jawab, tidak mudah menyerah, dan baik pada sesama. 
 
 
Kalau dilihat lagi, Asa mempunyai karakter mengarah ke sana. Hanya saja, saya harus lebih bersabar dan jeli mengembangkannya. Karena saya sadar sepenuhnya, bahwa ibu adalah motivator pertama dan utama untuk anak. Sebagai motivator, tentu saya harus optimis terlebih dahulu. 
 
 
Dan inilah sebagian cerita pembelajaran si pemimpin kecil dan ibunya. Bagaimana Mr.President Asa berinteraksi dengan saya.
 
 
 
Ijinkan Anak Mandiri
 
 
Saya teringat saat Asa berusia 1 tahun, pertama kalinya dititipkan di daycare saat saya bekerja.  Sangat berat buat kami berdua melalui proses pamitan pada hari-hari pertama.  Asa sudah tahu gelagat saya mau pergi bekerja, pasti dia langsung menjadi lengket seperti perangko. Tangannya memeluk erat saya dalam pelukan.  Hati saya pun nggak karuan, antara ingin segera berangkat karena takut terlambat ke kantor, juga kuatir Asa akan menangis sepanjang hari. Karena situasi ini berlangsung cukup lama, saya diskusikan dengan Bu Guru daycare. 
 
 
“Asa baik-baik saja kok di sini. Dia rewel hanya saat Mama masih disini. Begitu dilihat Mama sudah berangkat, tak lama kemudian bisa di bujuk. Mungkin dia tahu perasaan Mama berat meninggalkannya,” demikian Bu Guru menjelaskan.
 
 
Hm, benar juga ya. Anak sebenarnya punya sifat  ingin mandiri, seringkali yang menghambat kemandiriannya adalah ibunya sendiri. Wah, kalau begitu saya harus lebih “tega” melatih Asa mandiri. 
 
 
Misalnya, membiarkannya makan sendiri, walaupun belepotan. Yang ini sulit direalisasikan karena saya selalu merasa diburu waktu.  Saya camkan ke diri sendiri, harus meluangkan waktu makan malam agar Asa belajar makan sendiri. Latihan yang lain adalah membiarkannya memasang sepatu sendiri walaupun selesainya agak lama. Saat ini sedang dalam proses latihan. Nah, kalau saat mandi, Asa sudah bisa menyabun dan menyiram badannya sendiri. Hanya mengusap bagian punggung yang perlu dibantu. 
 
 
Termasuk saat berpamitan ke kantor, saya harus memantapkan hati, bahwa Asa berada di tangan yang tepat. Sekali berpamitan, saya tidak boleh menengok ke belakang. Saya mencoba konsisten menerapkan hal ini, lambat laun akhirnya Asa semakin mandiri pada situasi yang sudah biasa dikenalnya. 
 
 
 
 
Berani bicara namun tidak mendominasi
 
 
Karakter Asa adalah ceriwis, kritis, banyak bertanya dan cenderung ngeyel kalau diberitahu.  Seringkali lucu, namun tak jarang menguji kesabaran. Gaya bicaranya mendesak orang untuk tergopoh-gopoh memenuhi keinginannya. 
 
 
Dalam hal berbicara, Asa cenderung dominan baik di rumah maupun di daycare.  Apakah dominan menjadi sikap yang baik untuk pemimpin kecil? Menurut saya tidak selalu baik.  Berani berbicara berbeda dengan dominan. Berani berbicara adalah berani mengungkapkan apa yang dipikirkannya. Sedangkan dominan adalah bicara terus menerus tentang dirinya sendiri dan tidak memberi kesempatan orang lain berbicara.
 
 
Seorang pemimpin tak hanya berani bicara, namun juga bisa mendengarkan. Untuk membiasakan kesabaran Asa, saya memintanya menunggu saat saya berbicara atau menelpon dengan orang lain. Tapi tidak boleh terlalu lama, karena rentang kesabaran anak masih terbatas.  Tiba giliran Asa berbicara, saya menatap matanya dan mendengar sungguh-sungguh.
 
 
Kadangkala, perilaku orang dewasa memberi contoh buruk, yaitu tidak benar-benar mendengarkan. Alih-alih merespon berita dari lawan bicara, malah membuat berita tandingan tentang diri sendiri.  Orang dewasa juga sering melakukan “sindrom setengah mendengarkan”, yaitu mendengarkan sambil beraktivitas lain. Sikap-sikap ini mendorong anak mendominasi saat bicara sebagai bentuk usahanya minta diperhatikan.
 
 
Semoga saya selalu ingat rambu-rambu ini. Terus terang sering saya langgar saat saya sibuk dikejar deadline pekerjaan. Nah loh! 
Janji, janji, janji….
Saya ingin menjadi Mama yang lebih baik untuk My Little President.
 
 
 
 
Mau berbagi sekaligus bisa membela haknya.
 
 
Dunia anak adalah dunia bermain. Sifat kepemimpinan Asa terlihat saat dia bermain. Misalnya memerintah, memberi aba-aba, dan berinisiatif menentukan jenis permainan. “Main lego aja yuk ! Bikin pesawat yuk!” 
 
 
Sayangnya saat membawa mainan,  Asa belum mau berbagi mainannya. Wajar sih, dan ini ada baiknya juga, Asa jadi terhindar dari bullying dan bisa mempertahankan haknya. Buruknya, jika berlebihan akan membuat Asa menjadi pelit. Tapi di sisi lain, Asa juga tidak mau merebut mainan milik temannya. Ini tandanya Asa tahu haknya, juga tau hak orang lain.  
 
 
Jadi harus belajar proporsional. Saya membiasakan Asa untuk mau berbagi, namun tidak mengalah begitu saja pada anak yang mau merebut mainannya. Tidak pelit namun juga tidak kalah.  Sikap ini menjadikan anak dihargai karena tegas, dan disayangi karena mau berbagi. Ini adalah bekalnya untuk bersosial dimana sehari-hari anak akan bermain dan bergaul bersama teman-temannya.
 
 
 
 
Berantem adalah hal biasa terjadi saat anak-anak berkumpul. Saya lihat Asa cukup baik menyikapi situasi kurang mengenakkan ini. Asa bukan tipe pengalah, tapi dia tidak pernah memukul temannya. Jika dirasa sudah cukup menjengkelkan baginya, Asa berteriak dan menangis sampai ada orang dewasa menengahi.  Menurut saya ini bukan sikap cengeng, wajar kok untuk anak seusianya. Ini adalah proses. Anak tidak serta merta berani apalagi menghadapi situasi sulit. Yang penting selalu dimotivasi.
 
 
Ssst, saya tidak membiasakan Asa menjadi anak yang suka mengadu, karena jika dibiarkan menjadi sikap mudah menfitnah atau bergunjing. Saat Asa berlari kepada saya karena berantem, saya hanya membesarkan dirinya, tetapi tidak menjelekkan atau mengancam temannya. Kalau bisa membuat mereka akur tentu lebih baik. Sepakat?
 

 
Berani mencoba dan tidak takut gagal

 
Tidak selayaknya kita menanamkan doktrin bahwa gagal itu memalukan.  Pernah secara tidak sengaja terlontar kata-kata, “Yeaah, Asa masa memakai sepatu aja nggak bisa?” 
 
 
Kemudian segera saya sadari bahwa itu adalah kalimat yang menyakitkan. 100% harus dihindari. Lalu saya ganti dengan nada lebih lembut, “Sini Mama ajarin memakai sepatu, nanti Asa coba sendiri ya.”

 
Pada usia balita, anak sangat butuh dihargai dan didengarkan orangtuanya. Ini akan memupuknya menjadi percaya diri. Saat anak salah tidak harus dimarahi. Cukup tunjukkan bagaimana sebaiknya yang dia kerjakan. Di balik kesalahan ada potensi untuk belajar dan berkembang. Anak bisa dibimbing dan belajar dari kesalahannya.
 
 
Seperti saat Asa hendak menyusun balok, lalu balok roboh, dia akan merasa gagal. Biasanya lantas uring-uringan dan enggan mencoba lagi. Jika Asa terlihat ragu-ragu melakukannya, saya katakan “Ayo sayang, kamu pasti bisa”
 
 
Jika dia sudah mau mencoba dan ternyata masih gagal, saya katakan “Yuk, dicoba lagi, nanti pasti berhasil.” 
 
 
Dan ketika Asa mulai bergerak ingin mencoba lagi menyusun baloknya, saya katakan “Ayo yang seimbang, susun yang lurus. Nah, hebaaat!”
Itulah cara saya memotivasi. Tentunya dengan kesabaran ekstra dong :)


 
Memberi contoh baik

 
Sudah menjadi sifat alami anak menjadi peniru. Memberinya contoh yang baik adalah cara paling efektif mengajarkan kebaikan. 
Orangtua sebagai orang yang dilihatnya sehari hari adalah role model bagi anak. Karena itu, nggak ada salahnya kalau saya dan suami bersikap sedikit jaim (jaga image) di depan Asa. Candaan yang kurang pantas dilihat anak hanya kami lakukan saat berdua. Saat terjadi suatu perdebatan, saya dan suami memilih untuk menahan diri dan tidak berdebat di depan anak.

 
Cara lain memberi contoh baik adalah mengenalkan si kecil pada tokoh-tokoh yang menginspirasi. Tak harus tokoh dunia, presiden atau pahlawan. Kenapa tidak menceritakan kebaikan dan kepemimpinan sang kakek atau sang ayah padanya? Nggak usah jauh-jauh, sang Mama juga hebat kok, hehehe. Mengenal prestasi sosok yang dikenal sehari-hari akan lebih mudah diingat, dan tentunya membanggakan.
 
 
 
 
Menentukan pilihan dan bertanggung jawab.
 
 
Seorang anak yang mempunyai inisiatif dan banyak keinginan pertanda memiliki sifat kepemimpinan yang bagus. Ingin ini, ingin itu boleh saja asal tidak berlebihan.  Sayangnya, anak belum selalu mengerti konsekuensi dari keinginannya. Misalnya ingin permen, harus dikasih tahu resiko gigi bisa rusak, jadi harus bertanggung jawab dengan cara rajin menyikat gigi. Atau suka bermain kotor beresiko tertular penyakit, jadi harus rajin cuci tangan dan mandi sesudah bermain. Begitu seterusnya.
 
 
Cara kita berkomunikasi menentukan hasilnya. Jika kita bicara dengan nada melarang “Tidak boleh ini-itu!” anak akan kehilangan percaya dirinya. Akibatnya anak tidak berani berkeinginan, keinginannya berkurang atau tidak berani menentukan pilihan. Nggak mau begitu juga kan?
 
 
Kembali saya harus menjadi Miss Jaim, “Asa sayang, tolong mainannya dirapikan ya sesudah bermain, agar tidak ilang.” Padahal dalam hati saya lelah karena sudah berulang kali merapikan dan Asa membuatmya berserakan kembali. Sekali lagi, sabar, sabar, sabar demi hasil terbaik.
 
 
Menstimulasi Kreativitas ala Kami
 
 
Kreatif adalah sifat yang sangat menolong seorang pemimpin untuk menciptakan inovasi baru atau mencari jalan keluar menyelesaikan masalah. Pada anak-anak kreatif bisa dilihat dari kemauannya membuat sesuatu, padu padan mainan, mengubah barang-barang menjadi mainan, dan beraktivitas aktif.
 
 
Kreativitas seringkali dihubungkan dengam jiwa seni walaupun tidak sepenuhnya sama. Kreatif bisa saja dalam bidang teknik, sains, atau sosial.
 
 
Waduh, bagaimana dong kalau orangtuanya kurang kreatif dan nggak berjiwa seni seperti saya? 
 
 
Eits, ternyata walaupun hasil lukisan saya sangat buruk, Asa menyukainya loh. Dalam pandangan Asa, lukisan jerapah yang saya buat adalah dinosaurus dan kuda adalah badak. Hahaha, mungkin tampak lebih gendut ya Asa? Tapi melihatnya antusias saja sudah membuat saya semangat untuk menggambar lagi dan lagi. Dan Asa pun tak segan-segan ikut menggambar.
 
 
Saya pikir, menstimulasi kreativitas bisa dilakukan dengan aneka cara. Tidak harus selalu berhubungan dengan membuat suatu hasil karya. Kreatifitas bisa berupa ide-ide melakukan sesuatu yang memancing panca indera untuk melihat dan merasakan sekitarnya. Bisa saja dengan mengajak Asa berpetualang keliling kota dengan kendaraan umum dan melihat banyak hal. Atau saat hujan, puas-puasin main hujan di halaman dan menuangkan sedikit shampo di kepalanya sampai menjadi busa. Seru kan? 
 
 
Menjaga Kesehatan
Anak tidak pernah berpura-pura ceria saat dia sakit. Anak hanya bisa belajar dengan baik saat dia sehat. Gimana mau bereksplorasi, bermain, dan mencerna arahan kita jika anak sedang sakit? Karena itu, kesehatan sangat penting dalam proses tumbuh kembangnya. 

Nutrisi adalah kunci utama untuk sehat. Tidak mudah bagi saya yang bekerja ini mencari ide-ide menu masakan.  Ditambah saya seringkali kelelahan sesampainya dirumah. Walaupun begitu, saya sempatkan memasak untuk keluarga pagi dan malam hari. Semua itu demi cinta saya pada sang pada pemimpin kecil, demi kesehatannya. Saya memilih menu-menu yang mudah. Aneka resep saya download dalam ponsel saya dan mempelajarinya. Cukup bermanfaat dan mengalihkan hobi saya berfacebook-ria.

 
 
Mengupayakan kecukupan nutrisi bukan hanya dari keragaman menu, jumlah nutrisi dan keahlian memasak. Saya perlu belajar (dan mempraktekannya tentu saja) tentang cara menarik menyajikan makanan, apalagi Asa cenderung picky eater, serta sikap yang baik dalam kebiasaan makan. Banyak ya? Bisa, asalkan dilakukan secara bertahap, dimulai dari yang mudah dan perbanyak sharing dengan sesama ibu-ibu.

Olahraga adalah kunci sehat berikutnya. Kebanyakan anak-anak sih suka bergerak. Tinggal orangtua yang harus menyempatkan diri dan mau mengimbangi kelincahan anak. Saya bersama Asa memilih jalan santai keliling kompleks setiap sore sebagai olahraga rutin.  Sesekali kami selingi dengan meniup gelembung sabun di halaman rumah. Saya meniup, Asa berlarian mengejar gelembung. Mudah dan murah kan?

Well, apalagi ya interaksi saya dengan My Little President Asa? Banyak pengalaman, suka duka dan cerita tentang pertemuan saya dengan Mr. President.

Upaya saya menanamkan karakter kepemimpinan tidak boleh melupakan satu hal paling penting, yaitu kebahagiaan anak.

 
Kelak, jika sang ibu bertemu dengan Presiden (Presiden apapun, dari Presiden Negara hingga Presiden Rumah Tangga) dalam sebuah momen membanggakan, akan ada sebuah masa yang dikenangnya. Yaitu masa kebersamaan mereka.
 
 
 

Tulisan ini diikutkan dalam lomba penulisan artikel “Peran Ibu Untuk si Pemimpin Kecil” yang diselenggarakan oleh http://nutrisiuntukbangsa.org/

4 Komentar

22 Oct 2013 05:37

Owh..jadi ingat jaman kecilnya Rangga yang gak suka tampil. Yups harapan kita bukan beban bagi anak ! Kecup buat Mr President Asa...

isnaini khomarudin

22 Oct 2013 00:07

tidak mudah mengajarkan kemandirian dan ras tanggung jawab pada anak, apalagi semangat berbagi. selamat dan semoga sukses anda dalam mengasuh anak-anak, mbak.

rina susanti

21 Oct 2013 14:34

semoga cita-cita asa tercapai ya...:)

Nunung Nurlaela

21 Oct 2013 13:27

Kereen mbak, inspiring banget... btw, anak saya Hazim juga seumuran Asa. belum mau sekolah, nanti katanya kalau sudah gede he he...dia jago kandang n salaman hanya sama orang tertentu. tiap anak adalah spesial, ya kan ya? semoga sebagai orang tua kita bisa paham dan optimal menghadapi tumbuh kembang anak.. nice artikel mbak, sukses ya...*kayaknya juara nih...:-)

Murtiyarini .

21 Oct 2013 15:33

Dont worry be happy...Hazim nanti akan menentukan waktunya sendiri untuk siap. Terimakasih sudah mampir ^_^