Cara Mengatasi Anak yang Pilih-pilih Makanan

Oleh Nutrisi Untuk Bangsa 22 Jan 2019

Sahabat Nutrisi,

Si Kecil pemilih makanan menjadi masalah yang cukup memusingkan ya Bunda. Namun ini masalah yang cukup umum, khususnya di usia balita, terutama 1-3 tahun.

Mengonsumsi makanan padat masih menjadi pengalaman baru bagi Si Kecil. Dia mungkin butuh waktu untuk membiasakan diri dengan beragam tekstur, warna, dan selera makanan baru.

Wajar bagi Si Kecil untuk tidak mencoba makanan baru sampai Bunda menyajikannya berkali-kali. Anak pemilih makanan sejatinya sebagai bagian perkembangan, dia juga menjadi lebih mandiri dan belajar membuat pilihan sendiri. Ini merupakan keterampilan penting yang dikembangkan selama bertahun-tahun, terutama dalam hal makanan.

Anak yang menjadi picky eater artinya ia mau mengonsumsi berbagai jenis makanan, yang sudah maupun belum dikenalnya namun menolak mengonsumsi dalam jumlah yang cukup.

Walaupun pilih-pilih makanan, picky eater masih mau mengonsumsi minimal satu macam makanan dari setiap kelompok karbohidrat, protein, sayur/buah dan susu. Misalnya, ia menolak nasi namun masih mau makan mie atau roti sebagai pengganti karbo.

Bagaimana halnya dengan selective eater? Ia akan menolak segala jenis makanan dalam kelompok tertentu. Misalnya ia sama sekali enggan mengonsumsi karbohidrat, baik itu nasi, roti atau mie.

Jika picky eater masih merupakan fase normal dalam perkembangan seorang anak, lain halnya dengan selective eater yang mengakibatkan anak berisiko mengalami defisiensi makro atau mikronutrien tertentu.

Meskipun menghadapi anak pemilih makanan membutuhkan kesabaran, namun Bunda jangan putus asa. Ada sejumlah cara yang bisa dilakukan agar Si Kecil mau mencoba makanan yang disajikan kepadanya. Simak dalam paparan berikut ini:

*Hal pertama yang tak boleh dilupakan adalah Bunda berusaha memberikan pilihan beragam makanan sehat, lingkungan kondusif, santai, tidak memaksa sehingga waktu makan akan menyenangkan bagi semua orang.

*Atur jadwal makan anak, yaitu makan tiga kali sehari dan dua makanan ringan sehat di sela-sela waktu makan. Pastikan anak makan ketika ia lapar dan kurangi kemungkinan dia akan terlalu banyak ngemil.

*Perkenalkan makanan baru satu per satu dalam jumlah sedikit. Tawarkan makanan favoritnya dengan sesuatu yang baru. Selalu sertakan setidaknya satu makanan yng disukai anak setiap kali makan. Jika ingin memberikan makanan baru, jangan langsung menyerah jika anak langsung menolak. Paparkan makanan baru tadi pada anak sebanyak 10-15 kali.

*Cobalah untuk memberikan makanan baru ketika anak lapar. Misalnya, berikan irisan mangga untuk camilan di antara jam makan utama.

*Gunakan porsi ukuran balita. Ukuran porsi untuk balita adalah sekitar 1/4 dari satu porsi untuk orang dewasa. Satu porsi daging untuk anak berusia 1 tahun seukuran telapak tangannya, dan satu porsi sayuran hanya sekitar 1 atau 2 sendok makan.

*Pahami selera anak berbeda satu dengan lainnya. Sejumlah anak tidak akan menyukai tekstur, warna, atau rasa makanan tertentu. Itu sebabnya seorang anak mungkin ‘mengaku’ tidak menyukai makanan yang bahkan belum pernah dia coba. Demikian juga, beberapa anak mungkin menolak makanan karena mengingatkan mereka pada saat mereka sakit atau karena mereka memiliki hubungan negatif lainnya dengan makanan itu.

*Cari cara untuk meningkatkan nilai gizi dari makanan yang dinikmati Si Kecil. Tambahkan sejumput gandum utuh ayam yang dipotong dadu ke dalam casserole makaroni, sayuran yang dihaluskan seperti wortel atau bayam ke dalam saus pasta, dan potongan kecil buah ke sereal favoritnya.

*Tahan keinginan untuk menawarkan makanan manis dalam upaya membuat anak makan lebih banyak. Bunda ingin mengembangkan rasa petualangan kulinernya bukan?

*Minimalkan gangguan di meja. Jika saudara kandung berlarian di dekatnya atau film kartun ‘memanggil’ dari seberang ruangan, anak mungkin kehilangan minat pada makanan yang disajikan. Cobalah untuk membuat suasana makan santai dan tenang, tanpa gangguan televisi.

*Berikan contoh makan yang menyenangkan. Jika anak melihat orang lain makan makanan serupa, anak akan lebih tertarik mencoba.

*Orangtua harus tetap tenang. Jangan panik atau marah-marah saat anak menolak makanan tertentu.

Bagaimana Bunda bisa tahu si anak pemilih makanan mendapatkan asupan gizi yang cukup? Jangan panik jika sepertinya si balita tidak tumbuh cukup cepat. Anak-anak tidak selalu tumbuh dengan kecepatan yang stabil dan akan ada saat-saat ketika anak tampaknya tidak tumbuh sama sekali. Balita tidak akan tumbuh pada tingkat yang hampir sama dengan yang terjadi di tahun petama kehidupannya.

Jika Bunda cemas Si Kecil tidak menambah berat badan sesuai usia, selalu konsultasikan dengan dokter. Namun i jangan sampaikan kekhawatiran Bunda kepada anak dengan terus menerus membujuknya makan dan dan sibuk hitung kalori. Anak mungkin malah akan menolak makan karena menganggap ada ‘paksaan’ sehingga suasana makan menjadi tidak menyenangkan.

Referensi

http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pilih-pilih-makanan

https://www.babycenter.com/0_how-to-handle-a-picky-eater_9199.bc