Fenomena ‘Sugar Rush’ pada Si Kecil, Fakta atau Sekadar Mitos?

Oleh Nutrisi Untuk Bangsa 06 Jun 2019

Sahabat NUB,

Mungkin Bunda pernah dengar istilah ‘sugar rush’ yang dituding sebagai penyebab anak tidak bisa diam setelah mengonsumsi makanan mengandung gula tinggi? Sugar rush sebenarnya istilah yang merujuk pada fenomena anak-anak menjadi lebih aktif setelah mengonsumsi makanan/minuman dengan kadar indeks glikemik (GI) tinggi.

Makanan yang mengandung gula tinggi dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat, tapi tidak bertahan lama. Biasanya, kenaikan kadar gula darah ini menjadi pemicu lonjakan energi yang tinggi, sehingga sulit bagi mereka untuk fokus. Dari sinilah muncul anggapan sugar rush dikaitkan dengan hiperaktif. Namun apakah anggapan ini terbukti ilmiah atau sekadar isapan jempol ?

Menurut The American Dietetic Association (ADA), sampai saat ini tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan sugar rush memicu anak-anak menjadi hiperaktif. Dengan kata lain, perilaku hiperaktif tidak berkaitan langsung dengan konsumsi gula berlebih.

Dr. Mark Wolraich, Profesor Pediatrik CMRI / Shaun Walters di University of Oklahoma dan timnya berhasil mematahkan mitos gula dikaitkan dengan perilaku hiperaktif pada anak yang popular di tahun 1990an. Dalam penelitian yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine, Wolraich dan tim tidak menemukan efek gula yang berkontribusi pada perilaku hiperaktif anak.

Peran Gula

Bunda perlu tahu bahwa gula memiliki peran vital bagi organ tubuh, terutama otak. Organ ini mengandalkan glukosa (bentuk molekul gula yang paling sederhana) untuk menjalan fungsi-fungsinya, antara lain untuk berpikir, mengingat, koordinasi dan sebagainya.

Yang membuat glukosa istimewa adalah, gula sederhana ini menjadi satu-satunya molekul bahan bakar yang dapat digunakan oleh otak. Ini berbeda dengan organ lain yang masih dapat memanfaatkan energi dari molekul protein atau lemak.

Sekitar 50% kadar gula dalam darah akan dimanfaatkan oleh otak untuk menjalankan fungsinya. Bila tubuh kekurangan glukosa darah dalam kondisi yang berat, neuron (sel otak) akan gagal berkomunikasi satu dengan yang lainnya karena gagal memproduksi dan melepaskan neurotransmitter yang sangat bergantung dari energi yang diberikan glukosa. Pada kondisi yang amat berat, seseorang sampai dapat jatuh ke dalam kondisi koma atau tidak sadarkan diri.

Nah, meskipun tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan antara gula dan sugar rush, namun konsumsi gula pada anak sebaiknya memang dibatasi. American Dietetic Association menyebut, gula dapat membuat anak malas mengonsumsi makanan sehat (misalnya buah dan sayur). Gula juga menjadi penyebab masalah gigi (misalnya karies atau gigi berlubang) dan memicu kegemukan.

Mengonsumsi gula berlebih (lebih dari 12 sendok teh, atau 48 gram, gula tambahan per hari) dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Anak-anak di bawah usia dua tahun harus menghindari semua bentuk gula tambahan. Mengurangi jumlah gula yang dikonsumsi anak merupakan ide yang baik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengusulkan rancangan pedoman baru yang merekomendasikan hanya 5 persen dari total kalori harian dalam makanan yang kita konsumsi berasal dari gula.

Untuk dapat menikmati makanan manis, cobalah mengganti makanan bergula dengan piihan yang lebih sehat. Misalnya gantilah es krim dengan yogurt Yunani tanpa gula tambahan. Sebagai pengganti gula tambahkan buah potong.

Tak kalah penting adalah melatih anak-anak sejak dini untuk menyukai makanan sehat (bergizi seimbang). Dengan mengajarkan kebiasaan sehat sejak dini diharapkan anak-anak akan terbiasa dengan pola itu dan membatasi diri terhadap makanan/minuman manis.

Referensi

https://www.sciencenews.org/blog/growth-curve/sugar-doesn’t-make-kids-hyper-and-other-parenting-myths

http://www.webmd.com/parenting/features/busting-sugar-hyperactivity-myth#1

http://neuro.hms.harvard.edu/harvard-mahoney-neuroscience-institute/brain-newsletter/and-brain-series/sugar-and-brain

http://www.nhs.uk/Livewell/Goodfood/Pages/sugars.aspx