Mengenal Responsive Feeding, Cara Pemberian Makan Sesuai Kehendak Si Kecil

Oleh Nutrisi Untuk Bangsa 08 May 2019

Sahabat NUB,

Kebiasaan yang kita pelajari sejak dini akan tetap tinggal seumur hidup. Hal ini juga berlaku dengan kebiasaan makan. Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa bayi yang kelebihan berat badan akan tumbuh menjadi anak gemuk, yang akan menetap hingga ia dewasa – yang dipicu oleh pemberian makan yang tidak tepat.

Salah satu cara terbaik untuk mencegah obesitas dimulai sebelum mereka berusia dua tahun, antara lain dengan pemberian makan responsif (responsive feeding).

Pada pemberian makan responsif, Si Kecil makan ketika mereka lapar dan makan hanya sebanyak yang mereka butuhkan. Dalam pemberian makanan responsif Bunda perlu mempelajari isyarat bayi saat lapar, kenyang, dan merespons isyarat tersebut dengan tepat.

Ada sejumlah tanda yang ditunjukkan Si Kecil ketika ia lapar, antara lain meletakkan tangannya di atau dekat mulutnya, dia membuat suara mengisap, meletakkan tangan di perutnya. Tanda lainnya adalahdia lebih aktif menggerakkan tangan dan kakinya, atau Si Kecil bahkan menangis (tetapi ini adalah tanda terlambat yang dia lakukan karena tanda yang dia berikan gagal direspons dengan baik oleh Bunda).

Jika Si Kecil menunjukkan tanda-tanda itu, Bunda harus secepatnya merespons dengan memberinya makan.

Hentikan memberikan makan jika Si Kecil terlihat kenyang, yang ditunjukkan antara lain: Berhenti mengunyah, meludahkan makanan, memalingkan kepala, atau bahkan tertidur. Dengan begitu, Si Kecil belajar mendengarkan isyarat lapar dan berhenti makan ketika dia tidak lapar lagi.

Mengapa pemberian makan responsif penting?

Menurut dr. Meta Hanindita, SpA., dalam bukunya “Mommyclopedia, Panduan Lengkap Merawat Bayi 0-1 Tahun” (Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2015), pemberian makan responsif turut menentukan keberhasilan pemberian MPASI , terutama bagi Bunda yang bekerja. Dengan responsif melihat kondisi Si Kecil, Bunda yang bekerja justru bisa memberikan makan saat bayi memang butuh makanan,

Pemberian MPASI dengan responsive feeding juga membantu Bunda dalam mengatur porsi dan frekuensi makan, sesuai kebutuhan atau usia Si Kecil. Misalnya, mulai enam bulan, Si Kecil mengonsumsi MPASI alami buatan rumah dua kali sehari, dengan selingan dua kali buah, sambil tetap menyusu ASI.

Frekuensi dan porsi makan perlahan bisa bertambah, sesuai usia. Saat usia 7-8 bulan misalnya, lihat kondisi Si Kecil jika ingin menambah porsi atau frekuensi makan. Setiap bayi memiliki pola yang berbeda. Ada bayi yang makan sedikit tapi lebih sering frekuensinya. Penting bagi Bunda untuk melihat kebutuhan Si Kecil.

Tips Pemberian Makan Responsif

Cara pemberian makan responsif yang disarankan WHO antara lain:

1.Pelajari dan respons tanda-tanda lapar dan kenyang pada Si Kecil.

Jangan tunggu sampai bayi menangis kelaparan baru diberikan makan. Hentikan makan saat ia terlihat kenyang.

2. Berikan makan dengan sabar.

Dorong Si Kecil untuk makan tapi jangan memaksa. Jika Si Kecil menolak makanan, cobalah kombinasi makanan lain, rasa lain, dan tekstur lain.

3. Berikan MPASI gizi seimbang yang mengandung protein, lemak, karbohidrat.

4. Minimalkan gangguan saat jam makan, misalnya matikan televisi, singkirkan telepon genggam dan simpan mainan.

5. Jadikan makan sebagai proses yang menyenangkan.

Selalu ajak Si Kecil berkomunikasi saat makan, berikan senyuman, berikan kata-kata penyemangat dan lakukan kontak mata.

Bagaimana jika Bunda cemas Si Kecil tidak mendapatkan cukup makan, atau tidak tumbuh cukup baik? Langkah terbaik tentu saja dengan menemui dokter anak, untuk dilakukan penimbangan berat badan dan pengukuran lingkar kepala. Jika muncul masalah, maka dapat diketahui sejak dini dan dicari solusinya.

Referensi

Pedoman Ikatan Dokter Anak Indonesia .Rekomendasi Praktik Pemberian Makan Berbasis Bukti pada Bayi dan Batita di Indonesia untuk Mencegah Malnutrisi.

https://www.health.harvard.edu/blog/why-parents-should-use-responsive-feeding-with-their-babies-2017100312524

https://www.babycenter.com/404_what-is-feeding-on-demand_8822.bc

https://www.who.int/nutrition/topics/complementary_feeding/en/