Mengenali Penyebab Stunting pada Anak

Oleh Nutrisi Untuk Bangsa 09 Jan 2019

Sahabat Nutrisi,

Masalah stunting atau perawakan tubuh pendek, masih menjadi masalah besar. Sayangnya, masyarakat Indonesia belum banyak yang tahu implikasi serius stunting dalam jangka panjang.

Meskipun angka stunting menunjukan penurunan menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menjadi 30,8 persen dari 37,2 persen pada Riskesdas 2013, namun masih berada di bawah rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang mensyaratkan prevalensi stunting kurang dari 20 persen.

Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 menunjukkan prevalensi Balita stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 29,6 persen di atas batasan yang ditetapkan WHO sebesar 20 persen.

Penelitian Ricardo dalam Bhutta tahun 2013 menyebutkan balita stunting berkontribusi terhadap 1,5 juta atau 15 persen kematian anak balita di dunia dan menyebabkan 55 juta anak kehilangan masa hidup sehat setiap tahun.

Dampak paling merugikan dari stunting khususnya terhadap perkembangan otak. Riset menunjukkan stunting mengurangi IQ sebesar 5-11 poin. Nilai sekolah anak-anak jadi lebih rendah. Bukan itu saja, anak-anak yang lahir dengan berat badan kurang punya peluang 2,6 kali lebih kecil untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi.

Saat anak terkena stunting, produktivitas mereka akan berkurang saat usia muda – capaian pendidikan lebih rendah menghasilkan pekerjaan dengan pemasukan lebih kecil.

Kenali Penyebab Stunting

Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Stunting terjadi karena kurang gizi kronis yang mulai terjadi pada tahap sangat awal dalam hidup. Saat seorang anak menerima asupan gizi yang kurang baik saat masih dalam kandungan, tubuhnya akan “terprogram” agar bisa bertahan hidup dalam kondisi gizi semacam ini.

Akibatnya, apabila kelak ia hidup dalam lingkungan dengan asupan gizi yang mudah diperoleh, tubuh mereka akan sangat rentan terhadap obesitas sehingga mudah terkena penyakit tidak menular seperti diabetes dan jantung.

Kekurangan gizi dalam waktu lama itu terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 HPK). Penyebabnya beragam, antara lain akses terhadap makanan bergizi rendah, demikian juga asupan vitamin dan mineral, masih ditambah dengan buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani.

Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak juga menjadi penyebab anak stunting. Ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan menyusui akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan otak anak.

Hasil Riskesdas 2013 menyebutkan kondisi konsumsi makanan ibu hamil dan balita tahun 2016-2017 menunjukkan di Indonesia 1 dari 5 ibu hamil kurang gizi, 7 dari 10 ibu hamil kurang kalori dan protein, 7 dari 10 Balita kurang kalori, serta 5 dari 10 Balita kurang protein.

Faktor yang juga menyebabkan stunting adalah terjadi infeksi pada ibu, kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, jarak kelahiran anak yang pendek, dan hipertensi.

Penyebab stunting lainnya adalah akses terhadap pelayanan kesehatan masih kurang, termasuk akses sanitasi dan air bersih - yang menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan anak.

Bagaimana cara menekan stunting?

1.Perbanyak makan makanan bergizi yang berasal dari buah dan sayur lokal sejak dalam kandungan.

2. Cukupi kebutuhan gizi remaja perempuan agar ketika dia mengandung ketika dewasa tidak kekurangan gizi

3. Perhatian pada lingkungan untuk menciptakan akses sanitasi dan air bersih.

Referensi

http://www.depkes.go.id/article/view/18052800006/ini-penyebab-stunting-pada-anak.html

http://www.worldbank.org/in/news/feature/2015/04/23/the-double-burden-of-malnutrition-in-indonesia